Wednesday, November 24, 2010

LELUCON IMIGRAN CHINA DI AMERIKA

Shelly si pelayan restoran dari Beijing menceritakan lelucon tentang imigran dari China, pasangan keluarga Sammy Wong yang kini tinggal di Amerika.

Ketika istrinya hamil anak pertama, Sammy Wong si suami merasa gembira. Ini adalah penantian yang cukup lama setelah mereka menikah. Dan ketika saat melahirkan tiba, hati Sammy Wong berdebar-debar campur gembira. Ia dengan setia menunggui istrinya di rumah sakit, bahkan menemaninya hingga detik-detik melahirkan tiba. Dan ketika dokter berhasil mengeluarkan bayinya, Sammy dibuatnya terkejut. Ternyata bayinya berkulit hitam, bermata 'belok' dan berambut keriting.

Akhirnya si ayah menamai bayinya dengan nama: Samting Wong ..... (Something Wrong) hi hi hi hi.


Janu Jolang
Catatan Saku Imigran Gelap Di Amerika

Saturday, October 9, 2010

MUSIM DINGIN HAMPIR TIBA

Ketika daun-daun mulai berguguran, hembusan angin kencang menggigilkan badan, dan udara beku terasa perih di hidung, aku selalu kembali teringat homeless-homeless yang terjebak diantara taman-taman kota, atau di gedung-gedung pencakar langit. Mereka itu gelandangan yang putus asa karena tak kebagian shelter yang jumlahnya sedikit. Sungguh menjadi gelandangan di Amerika amat berat. Selain faktor cuaca, hidup di jalanan juga penuh resiko. Mereka sering mengalami penganiayaan, pelecehan seksual, uangnya dicuri, dan kekurangan makanan. Sukur-sukur bisa bertahan hidup, kadang malah nyawa menjadi taruhannya.

Aku teringat cerpennya O Henry tentang Soapy, seorang gelandangan yang secara psikologis berpengalaman mensiasati penjara sebagai tempat berteduhnya selama musim dingin. Layaknya sebuah hotel, makan minum dan tidur gratis, Soapy selalu merancang beberapa taktik kejahatan ringan agar polisi memasukkannya ke dalam penjara.

Hari terakhir musim gugur. Sembari menyusuri daerah Madison Square Soapy memikirkan ide tentang makan di sebuah restoran mewah. Dalam bayangannya ia memesan roasted duck, sebotol anggur Chablis, dan begitu selesai tinggal bilang “nggak punya uang”. Mereka pasti memanggil polisi. Si Soapy optimis perjalanan tamasyanya ke hotel Prodeopun tinggal menunggu waktu saja.

Tapi nasib belum berpihak padanya. Ketika menginjakkan kakinya di restoran mewah itu, kepala pelayan curiga dengan penampilan dan sepatu butut si Soapy. Ia kemudian memanggil security dan menyeretnya keluar restoran.

Sampai di sudut Sixth Avenue Soapy mendapat ide baru ketika melihat toko yang gemerlapan dengan lampu neon. Diambilnya batu lantas Ia memecahkan kaca jendela toko itu.

“Siapa yang melakukan ini”, kata polisi.

Dengan ramah sembari membayangkan tempat pesiarnya di musim dingin si Soapy mengaku. Tapi si polisi tak menggubrisnya dan malah mencurigai dan mengejar seseorang yang lari kearah blok seberang. Si Soapy kecewa. Barangkali kalo pak polisinya orang Jawa akan berguman,“Endi ana maling ngaku” demikian kira-kira kalimat populer dalam bahasa Jawa, “Mana ada pencuri ngaku”.

Dengan gundah hati Soapy berjalan gontai di keramaian suasana Broadway. Ia melihat sebuah restoran di seberang jalan yang barangkali tak semewah tadi. Ia kemudian masuk, duduk dan memesan beefsteak, flapjacks, donat, dan pie. Disantapnya makanan di meja dengan lahap. Setengah langkah telah terlewati, pikirnya.

Dan giliran ditagih bayarannya, dengan lagak sombong Ia berkata, “Cepat telpon polisi. Jangan biarkan seorang gentelman menunggu terlalu lama.”

Lagi-lagi nasib tidak berpihak padanya. Alih-alih dipanggilkan polisi, si pelayan malah memanggil dua pelayan berbadan kekar menyeret si Soapy keluar dan melemparkannya ke trotoar. Seorang polisi yang berdiri tak jauh dari toko obat tertawa melihat adegan itu dan berjalan melenggang. Impian pesiar ke pulau impian pun sepertinya makin menjauh.

Lima blok Soapy berjalan hingga timbul semangatnya lagi untuk “ditangkap” polisi.

Didekatinya seorang wanita muda yang sedang melihat – lihat etalase toko. Tak jauh dari situ segerombolan polisi berjaga di keramaian suasana. Soapy mulai beraksi: berdehem, mengedipkan mata, tersenyum, dan merangsek wanita muda itu sambil matanya melirik ke arah gerombolan polisi yang sedang mengawasinya.

Si wanita muda itu bergeser selangkah. Soapy tak gentar dan ikut bergeser sembari mengangkat topinya dan berkata,” Maukah kamu datang dan bermain di pekarangan rumahku?”

Polisi masih mengawasi. Dalam bayangan Soapy ia sudah bisa merasakan hangatnya tidur di penjara. Tiba-tiba wanita muda itu menatapnya, mencengkeram lengan jaketnya dan berkata,” Tentu Mike. Kita bicarakan nanti, Polisi sedang mengawasi kita.”

“Gagal maning ...gagal maning ....”, demikianlah keluh Soapy ketika tahu si wanita muda itu jauh dari merasa dilecehkan. “Oalaaah arep mlebu penjara be angele pooor!!!”

Demikian singkat cerita, hingga si Soapy mencoba berlagak mabuk, membuat gaduh, dan seorang polisi menganggapnya wajar karena waktu itu bertepatan dengan selesainya pertandingan football dimana Yale mengalahkan Hartford College. Sampai usaha terakhir mencuri payung di sebuah toko rokok dan pemilik payung itu akhirnya mengiklaskan.

Soapy mati gaya, putus asa, impiannya berlibur di pulau impian gagal sudah. Di akhir cerita O Henry menggambarkan Soapy duduk terpekur di sebuah gereja tua. Saat itu malam telah larut, bulan di atas awan, udara dingin menusuk kulit, dan orang lalu lalang tinggal beberapa. Di sana ia mendengar dentingan organ gereja yang membawa suasana religi ke dalam hatinya. Ingatannya kembali ke masa kecil yang penuh dengan keindahan bersama keluarga dan teman-temannya. Masa dimana segala cita-cita, harga diri, dan optimisme jadi panglimanya.

Ia merasakan sebuah semangat hidup baru mengaliri nadinya. Suasana ini benar-benar membawa perubahan dalam jiwa Soapy. Mulai besok dia tak mau lagi menjadi gelandangan. Ia akan memerangi takdir kesengsaraan ini. Memerangi setan yang selalu membujuknya. Ia ingin meraih harga dirinya kembali sebagai laki-laki. Ia masih cukup muda. Besok Ia akan menghubungi seseorang yang pernah menawarkan pekerjaan untuk menjadi supir di perusahaan impor di daerah downtown. Dia akan menjadi seseorang (yang berguna) lagi di dunia ini....

Tiba-tiba Soapy merasakan seseorang menepuk pundaknya, ternyata seorang polisi. (O Henry sering membuat “twist” dalam ceritanya)

“ Sedang apa di sini? ” tanya Polisi.

“ Nggak ngapa-apa,” jawab Soapy

“ Ayo ikut,” kata Polisi.

“ Tiga bulan di pulau impian ,” kata hakim di pengadilan kepolisian keesokan harinya. (Untuk memecahkan kaca etalase toko)

Takdir sudah dibungkus, Soapy masuk penjara.

Oalaaah ... arep tobat we kok angele poooool (Waaaaah mau tobat aja kok susahnya minta ampun)

Janu Jolang
Catatan Saku Imigran Gelap di Amerika

Saturday, September 4, 2010

EduRantau: Summer Challenge

Liburan Musim Panas 2 bulan bagi anak-anakku bisa bikin “boring” kalau nggak ada kegiatan. Untung sekolahnya mengadakan Summer School dengan biaya terjangkau selama 1 bulan. Demikian pula -- sekolah “menantang” anak-anak untuk tetap belajar di rumah dengan iming-iming hadiah yang dibagikan ketika tahun ajaran baru dimulai.

Ya ...Summer Challenge, itu salah satu program yang ditawarkan guru kepada anak-anak. Mereka dibekali buku-buku bacaan, disuruh menceritakan isi buku itu ke dalam buku Journal Summer Challenge, ditambah tugas untuk menceritakan berbagai aktifitas si murid selama liburan summer, baik di dalam maupun diluar rumah.

Anakku yang baru 9 bulan pindah sekolah dari SDN Sokanegara 2 Purwokerto ke Barrett Elementary School Virginia nekat menerima “tantangan” Summer Challenge.

Kutahu si Alma yang baru kelas 3, bahasa Inggrisnya masih pas-pasan. Perbendaharaan kata alias “vocab”nya barangkali tak banyak bertambah dalam 1 tahun terakhir ini. Juga cara berpikirnya mungkin masih menggunakan logika dan cara dalam kultur bahasa Indonesia. Apalagi dalam bahasa cerita, sering kalimat harus taat pada "Tenses" yang bagiku sungguh memusingkan kepala. Ya itulah asumsiku. Apalagi ketika Ia menolak ketika buku jurnalnya kulihat, semakin kuatlah dugaanku kalau dia kesusahan dalam tugas "mengarang"nya.

Hingga suatu malam ketika dia sudah tertidur, kuhampiri buku jurnal berwarna kuning itu dan kubuka halaman pertama dan kubaca perlahan-lahan. Sampai beberapa halaman kubaca, aku baru tersadar bahwa kemarin ketika dia menolak aku ingin membaca hasil karangannya bukan berarti dia "malu" atau "takut" dinilai ortunya melainkan karena dia memang sedang asik mengarang dan ayahnya mengganggu. Beginilah anakku yang kelas 3 SD menuliskan karangannya:

Writing Entry 1

07/01/2010

Yesterday I went to the National Meuseum with my dad and my sister. In the Meuseum I saw many animals and dinosaurs fossils. There is also a miniature of dinosaurs.

I saw mamals like walrus, lion, zebra, heyna, and the other mamals, and I saw the real heights of a girrafe. I saw a T-Rex fossil. It was so so big, long, and tall. We saw people cleaning an old dinosaur bone with a tool from a dentist. I saw some fishes, too. I saw shark, octopus and the others.

Next we saw a movie inside the meuseum. It was called "Wild Oceans".We saw the movie with the 3-D glasses. The screen was 66 feet tall and 96 feet wide. The movie was about how a food chain was made.

Then we went home with a train. Next time in the meuseum I want to see a movie about dinosaurs and go to the gift shop. We rode a train to get home. I like to go to the meuseum, take pictures and see lots and lots of unique animals again.

Writing Entry 2

07/05/2010

Yesterday was my birthday. What I got from my birthday is hula-hoops, shoes, cake, and a library card. My parents took me to the Washington Monument to see parades and fire works. In the parades I saw Buz Bunny, Abraham Lincoln, and the other shaped ballons wears American flag clothes with stars and stripes. There's bands, groups of people from other country like Bolivia and India. The Indians brought a wood puppet that can wave with it two hands.

Next we went home to a little while, rest for a little while, and then go back to find a good place to saw the fireworks. It takes like two hours to get a good, perfect place to see it. We change places like 3 or 4 times. The first to third place is not great because the branch is covering the fireworks. Then the last place is not exactly perfect because its in the corner on a street. Then me and my dad go for a little walk to the street to see everybodys perfect place until the fireworks shows up. When the fireworks shows up all of the people stands up and cheering for the fireworks. Then we went home.

I love my birthday, not only my family celebrated it but all of the people celebrated it for me.

Friday, August 20, 2010

SENYUM DI AMERIKA AMAT MAHAL HARGANYA

Di Amerika tidak ada yang gratis, nothing is free, demikian orang-orang menyebutnya. Di dunia kapitalis ini bahkan sebuah senyuman amat mahal harganya.

Ini kualami sendiri kemaren, ya hari itu aku merasa menjadi orang yang paling sial se-restoran. Gigi depanku patah ketika aku terpeleset dan mulutku terantuk meja. Dengan mulut berdarah-darah, kulihat di kaca -- gigiku tinggal sedikit disekitar gusi. Bagaimanapun, kalau aku tertawa itu malah bikin teman kerjaku ketakutan. Lebih baik Aku tidak banyak bicara, senyumpun tak berani lebar-lebar – hanya segaris saja. Malam itu, Laury pelanggan tetap yang selalu duduk di sushi bar agak heran dengan sikap diamku.

Ya. Senyum Menawan itulah yang diiklankan para dokter gigi kosmetik di sini (dan ternyata mahal harganya). Hal itu kutahu ketika keesokan harinya kuperiksakan, si dokter gigi itu menawarkan prosedur 'implant' yang menghabiskan biaya 5000 an dollar untuk gigi depanku. Si dokter akan mencabut sisa gigiku, mengebor tulang gusi, menanamkan sekrup metal sebagai dudukan, dan memasangkan 'crown' gigi yang terbuat dari porselen. Berhubung aku tak punya asuransi, tentu biaya itu harus kubayar penuh.

Cara lainnya, si dokter akan menanamkan jarum metal pada sisa gigiku, tapi sebelum itu harus terlebih dulu dilakukan perawatan syaraf atau 'root canal'. Setelah itu baru dipasang 'crown' gigi. Biayanya 1800 an dollar untuk satu gigi.

Dari kedua cara itu, dua – duanya amat memberatkan diriku. Ketika kutanyakan berapa biaya untuk memasang gigi palsu di Indonesia, ibuku di kampung menjawab hanya 2 juta saja. Jauuuuh mbok !!!! Dengan 5000an dollar aku bisa langsung melunasi cicilan rumahku di kampung. Apalagi sebagai pendatang gelap kita tidak pernah membawa uang cash banyak-banyak. Selain kita kesulitan membuka rekening bank, begitu gajian (untuk amannya) kita langsung mengirim uang itu ke Indonesia. Jadi tak ada duit buat ke dokter gigi.

Pikir punya pikir akhirnya kubiarkan saja gigiku ompong. Toh semua manusia yang beranjak tua secara alamiah akan kehilangan giginya satu persatu. Lama – lama aku akan terbiasa untuk tersenyum (tidak menawan) tanpa rasa malu. Yang penting, “TERSENYUMLAH DENGAN TULUS”. Itu yang sulit kita temui di dunia Kapitalis ini.


Janu Jolang
Catatan Saku Imigran Gelap Di Amerika

Friday, July 16, 2010

PENGEMIS AMERIKA KALAH KREATIF DENGAN PENGEMIS INDONESIA

Kalau kubanding-bandingkan, ternyata pengemis Indonesia lebih kreatif dibandingkan pengemis Amerika. Pengemis di Indonesia -- khususnya di Jakarta tak pernah 'mati gaya'. Selalu ada cara – cara baru dalam 'mengemis', sedangkan pengemis Amerika gayanya 'garing' dan itu-itu saja.

Yang paling sering kujumpai adalah gaya 'terus-terang' alias nodong kita. Beberapa kujumpai di pertokoan daerah kota tua Georgetown, diantara turis maupun pengunjung yang lewat. Mereka duduk dengan tangan mengacungkan gelas plastik bekas air soda dan mengemis,” Give me a change ... give me a change.” Atau lebih sopan, “ Spare your quarter please ..” Atau,” Spill little help...Spill little help...” Atau dengan sedikit maksa,” Hey man, can you help me two dollars?”

Lain lagi, seorang pengemis kulit hitam yang suka mangkal di daerah P Street yang bergaya sok akrab, Ia melihat lawan bicaranya, menebak darimana berasal, lantas ngajak ngobrol kita dengan nada bicara seolah – olah kita adalah kawan lama,” Hey man, I aint racist. You know what I'm saying, It's okay about Spanish people, Asia, Japan, Chinese, Jacky Chan, I'm cool. Give me 5 dollar. “

Cara lainnya, mengemis dengan sedikit menghibur, salah satunya pengemis yang suka mangkal di trotoar Dupont Circle, Ia sering melontarkan komentar – komentar lucu bermaksud menghibur orang – orang. Terutama malam Minggu dan banyak gadis – gadis cantik lewat, si pengemis itu berkomentar,” Hey Young ladies don't break so many hearts tonight!!”

Atau di sebelahnya, di toko CVS. Seorang pengemis berlagak seolah-olah Ia seorang 'doorman' sebuah hotel yang selalu membukakan pintu kepada pengunjung sambil 'tak lupa' meminta uang recehan. Tapi ketika polisi datang diapun lari tunggang langgang.

Adalagi pengemis yang menurutku paling percaya diri. Dia seorang wanita muda yang cukup cantik, berpenampilan model punk, biasanya duduk di trotoar dengan ekspresi wajah cuek seolah tak butuh apapun di dunia ini. Di depannya, terpajang kertas bertuliskan kalimat dengan ukuran besar ( kedengarannya cukup punya rima):

WHAT THE FUCK !
ITS JUST A BUCK!

Barangkali kalau orang Surabaya tapi lama berdomisili di Jakarta 'misuh' yang artinya kira-kira begini:

JANCUK!
CUMAN CEPEK AJA!

Demikian gambaran cara pengemis Amerika meminta uang. Kalau di Indonesia ada pengemis yang mengekploitasi kekurangan atau kecacatan fisiknya, di Amerikapun kujumpai hal semacam itu. Pengemis yang cukup menggetarkan hati adalah seorang pria tengah baya bertampang Timur Tengah yang berpenyakit beri-beri dengan kaki bengkak persis seperti kaki gajah, sambil memegang kertas bertuliskan (barangkali) permohonan bantuan, diam terpaku dengan ekspresi sedih. Orang yang iba dengan kondisinya pasti merogoh saku atau membuka dompet untuk memberikan uangnya.

Terakhir, menurutku cara yang paling kreatif dalam mengemis adalah cara para homeless dan pengemis yang menjajakan 'koran jalanan' Street Sense, sebuah koran dua mingguan berharga 1 dollar bertiras 12 ribuan yang punya ide menggugah kesadaran publik tentang isu orang miskin perkotaan, pengemis, dan homeless. Hasil penjualan koran tersebut sekaligus sebagai sumber penghasilan bagi mereka. Setidaknya, mereka bekerja ..... Ada sebuah usaha ....tidak sekedar meminta-minta.


Janu Jolang
Catatan Saku Imigran Gelap Di Amerika

Monday, June 7, 2010

TEMAN DARI TEMANKU “BERAK” DI MANA – MANA

Soni temanku punya teman bernama Dudi. Mereka dulu tinggal bersama di sebuah apartemen yang cukup elit dekat White House dan disewa atas nama Dudi. Satu tahun yang lalu Dudi pulang ke Indonesia 'for good' istilah untuk nggak balik lagi ke Amerika.

Setelah 10 tahun bekerja di Amerika, barangkali si Dudi punya tabungan lebih dari cukup untuk memulai bisnis, atau menjalani 'program pensiun dini' di Indonesia. Aku juga mengenal Dudi. Anaknya 'perlente', selalu memperhatikan penampilan. Pokoknya mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki selalu mendapatkan perhatian yang berlebih. Mulai tata rambut yang 'kinclong', kemeja segala merk dan suasana: dari Armani Exchange hingga Calvin Klein, jam tangan bermerk khas anak muda, celana ketat maupun baggy, sampai sepatu jenis 'sneaker' hingga sepatu kulit berujung persegi. Tak ketinggalan, wangi parfum di tubuhnya selalu berganti-ganti mulai dari Hugo Boss, Polo, Versace, hingga Armani.

Bergaulnyapun Dudi lebih memilih ke anak-anak Indonesia yang eksklusif, yang tiap akhir pekan selalu punya acara 'dugem' di klab malam atau diskotik. Ketika DJ kondang Tiesto datang ke salah satu klab di DC, ia dan teman - temannya antusias merogoh kocek ratusan dollar untuk melihat aksinya di atas meja DJ.

Untuk mendukung pola hidup 'glamor'nya, tentu (dalam bayanganku) membutuhkan 'modal' yang tidak sedikit. Isi dompetnya terselip semua jenis kartu kredit mulai dari Discover, Amex, Mastercard dan Visa. Dari pekerjaannya yang terbilang cukup bagus sebagai 'waiter', barangkali Dudi bisa menutup pengeluaran tiap bulannya. Untungnya lagi - Dudi masih 'single' jadi tak perlu repot-repot memikirkan kiriman uang ke Indonesia.

Sepeninggalan Dudi, Soni tetap tinggal di apartemen dengan 'roommate' baru bernama Awan, teman kerjanya di restoran Zingbiz. Mereka berbenah, menata ulang apartemen dengan membeli futon
baru yang bisa berubah tempat tidur, mengganti karpet, mengecat ulang, hingga melengkapi peralatan Audio Visual mereka dengan perangkat 'home theater' keluaran terbaru.

Beberapa bulan berlalu, barulah terkuak cerita di balik cerita dari si Dudi ini. Soni bilang kalau di apartemennya kedatangan bill – bill tagihan kartu kredit. Tercatat tagihan dari Amex, Discover, Visa, dan Mastercard yang total sekitar USD 40an ribu. Kalau dikurs dengan rupiah 10.000 per dollar kira-kira tagihan si Dudi sebesar 400an juta rupiah. Rupanya segala penampilan perlente si Dudi selama ini dimodali dengan 'kemplangan' utang kartu kredit.

Saya kasihan melihat Soni dan Awan. Bukannya apa-apa, berhubung kamar tersebut masih atas nama Dudi, maka status mereka berdua hanyalah 'menumpang'. Si bapak kosnya masih tetap si Dudi. Wajar mereka berdua merasa ketakutan karena tiap minggu selalu diteror oleh kedatangan surat tagihan utang. Salahsatunya bahkan dengan status yang sudah dialihkan kepada perusahaan 'debt collector' sehingga dalam bayangan mereka muncul seorang berbadan kekar, mengancam, mengintimidasi, atau main hakim seperti yang kerap terjadi di Indonesia.

Akhirnya dengan segala keterpaksaan, mereka berdua cepat-cepat mengemasi barang – barang dan siap-siap kabur. Aturan pertama pendatang gelap untuk bisa 'survive' adalah selalu 'Tiarap' ( istilah dalam perang gerilya) alias jangan sampai terlihat 'musuh'. Jadi jangan sekali-kali Kita bertindak yang 'nyrempet – nyrempet' bahaya, ataupun berada dalam kondisi yang membahayakan. Lebih baik menjauhi hal-hal yang berurusan dengan hukum. Maka mereka mematuhi aturan itu.

Berita itu cepat menyebar dalam komunitas orang Indonesia. Beberapa menyayangkan tindakan si Dudi yang membiarkan Soni dan Awan terkena getahnya. Masalah ngemplang utang urusan pribadi. Tapi dengan membiarkan temannya dalam kondisi bahaya? Salah satu temanku Rudi berkomentar,”Wah... payah nih si Dudi, 'berak' di mana-mana - ninggalin tai!!!”.


Janu Jolang
Catatan Saku Imigran Gelap Di Amerika

Thursday, May 13, 2010

MR WANG CHUAN SI PENGANTAR MAKANAN MENERANGKAN TEORI DARWIN

Mr Wang Chuan si 'delivery man' berperawakan sedang, ukuran kepalanya besar, berkacamata minus, serta fasih dan jelas berbahasa Inggris. Ia adalah orang yang suka ngobrol, juga suka membaca. Ia tak pernah lupa membawa 'e-reader' bikinan China yang ukurannya setebal buku novel ke restoran. Ada kebiasaan unik ketika membaca, ia selalu meencari tempat yang remang-remang. Ketika kutanyakan, ia menjawab - sudah kebiasaan. Lantas ia bercerita - waktu kecil dulu keluarganya di China tak mampu berlangganan listrik sehingga kalau belajar ia hanya memakai lampu teplok. Kebiasaan itu akhirnya terbawa sampai sekarang. Entah cerita itu benar atau bohong, sambil menunggu order delivery datang – ia menghabiskan waktunya dengan membaca.

Suatu sore ketika sedang rehat makan malam, Wang Chuan ngobrol tentang kuatnya tradisi bangsa Eropa dan Amerika dalam mendokumentasikan penelitian-penelitian ilmiah mereka. Salah satunya mengenai karya Darwin, tentang teori evolusi yang sangat kontroversial. Pernah sekilas kudengar, antara ilmuwan dan agamawan berbeda pendapat tentang asal – usul manusia pertama yang ada di bumi.

Hal yang kusuka dari Wang Chuan, ia selalu menggunakan perumpamaan sederhana untuk menjelaskan teori-teori berat macam itu. Mengenai Seleksi Alamnya Darwin, Siapa yang kuat akan terus melangsungkan hidupnya, Wang Chuan mengambil contoh seekor induk harimau yang menggiring anak-anaknya meninggalkan daerah tandus - musim panas di Afrika. Karena panas terik yang menyengat serta tidak menemui buruan, maka dalam perjalanan si induk harimau itu mati. Bagaimana nasib anak-anaknya? Karena hukum alam, anak-anak harimau itu juga akan mati. Mereka masih tergantung kepada induknya, belum dibekali naluri untuk mempertahankan hidup, untuk mencari mangsa, atau menghindar dari keadaan bahaya.

Adaptasi dengan lingkungan adalah faktor penting dalam kelangsungan hidup makhluk hidup. Seperti halnya jerapah yang berleher panjang karena (ada dugaan) mereka beradaptasi dengan pohon-pohon sumber makanannya. Demikian pula Beruang Kutub yang mempunyai kaki lebih kuat untuk berjalan di atas es sekaligus untuk berenang, juga bulunya lebih tebal untuk menahan dingin, serta berleher lebih panjang untuk mencari buruan di dalam lubang persembunyian.

Demikian pula ketika Wang Chuan mencontohkan bahwa gempa bumi yang terjadi di kota kelahirannya, Sichuan Mei 2008, dan mengakibatkan ribuan nyawa melayang - adalah salah satu bentuk dari seleksi alam. Dalam nada bicaranya tak kudengar nuansa kesedihan sedikitpun tentang korbannya (barangkali saudaranya). Seolah gempa bumi adalah sebuah kejadian natural yang terjadi karena pergeseran atau patahan dalam lempeng bumi. Barangkali kalau gempa bumi itu terjadi di Indonesia, tentu persepsi kita akan langsung tertuju pada keberadaan Sang Pencipta. Sebuah konsep “Kehendak Mutlak” yang tak bisa ditawar – tawar. Selanjutnya, ada sebagian masyarakat yang menilai gempa bumi itu sebagai sebuah “Cobaan” dan sebagian lain menterjemahkannya sebagai “Kutukan”.

Kembali pada si tukang antar makanan, Wang Chuan kemudian berbicara pada titik kontroversinya: kalau kita percaya teori evolusinya Darwin, bahwa manusia adalah evolusi dari bangsa kera, lantas yang jadi pertanyaannya adalah: Ada satu titik, satu masa, dimana kera itu berubah jadi manusia. Kapankah itu?

Sebuah pertanyaan yang susah untuk menjawabnya. Hingga kinipun, ilmuwan belum bisa menemukan mata rantai yang terputus antara kera dan manusia. Aku yang hanya pembuat sushi jelas tak mampu menjawabnya. Menurut yang aku tahu, manusia pertama yang ada di bumi adalah Adam dan Hawa. Itu yang diceritakan guru agamaku waktu sekolah dulu.

Akhirnya (ketika melihat aku bengong saja) Wang Chuan menjawab pertanyaan kontroversialnya tadi, dengan nada dan intonasi yang seolah meyakinkanku,
” Ada satu masa, satu waktu, ketika kera itu sedang duduk di atas bukit, menatap indahnya panorama sore hari, dan bertanya pada dirinya sendiri,” Who am I ? ” Siapakah Saya.

Sungguh jawaban itu diluar dugaanku. Barangkali Wang Chuan ingin menegaskan bahwa kera itu sudah mulai bertanya-tanya siapa sebetulnya dirinya. Bukankah itu sebuah esensi kehidupan manusia? Mempertanyakan jati dirinya? Eksistensi dirinya? Dalam alur berpikirnya, Wang Chuan selalu menyisakan sebuah sarkasme yang kental dalam tema-tema yang diceritakannya. Sebuah humor yang disertai ironi. Apapun itu, saya selalu menunggu Wang Chuan menceritakan hal-hal menarik dan lucu. Alih-alih untuk mengusir suasana jenuh bekerja seharian di restoran.


Janu Jolang
Catatan Saku Imigran Gelap Di Amerika

 
Site Meter