Soni temanku punya teman bernama Dudi. Mereka dulu tinggal bersama di sebuah apartemen yang cukup elit dekat White House dan disewa atas nama Dudi. Satu tahun yang lalu Dudi pulang ke Indonesia 'for good' istilah untuk nggak balik lagi ke Amerika.
Setelah 10 tahun bekerja di Amerika, barangkali si Dudi punya tabungan lebih dari cukup untuk memulai bisnis, atau menjalani 'program pensiun dini' di Indonesia. Aku juga mengenal Dudi. Anaknya 'perlente', selalu memperhatikan penampilan. Pokoknya mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki selalu mendapatkan perhatian yang berlebih. Mulai tata rambut yang 'kinclong', kemeja segala merk dan suasana: dari Armani Exchange hingga Calvin Klein, jam tangan bermerk khas anak muda, celana ketat maupun baggy, sampai sepatu jenis 'sneaker' hingga sepatu kulit berujung persegi. Tak ketinggalan, wangi parfum di tubuhnya selalu berganti-ganti mulai dari Hugo Boss, Polo, Versace, hingga Armani.
Bergaulnyapun Dudi lebih memilih ke anak-anak Indonesia yang eksklusif, yang tiap akhir pekan selalu punya acara 'dugem' di klab malam atau diskotik. Ketika DJ kondang Tiesto datang ke salah satu klab di DC, ia dan teman - temannya antusias merogoh kocek ratusan dollar untuk melihat aksinya di atas meja DJ.
Untuk mendukung pola hidup 'glamor'nya, tentu (dalam bayanganku) membutuhkan 'modal' yang tidak sedikit. Isi dompetnya terselip semua jenis kartu kredit mulai dari Discover, Amex, Mastercard dan Visa. Dari pekerjaannya yang terbilang cukup bagus sebagai 'waiter', barangkali Dudi bisa menutup pengeluaran tiap bulannya. Untungnya lagi - Dudi masih 'single' jadi tak perlu repot-repot memikirkan kiriman uang ke Indonesia.
Sepeninggalan Dudi, Soni tetap tinggal di apartemen dengan 'roommate' baru bernama Awan, teman kerjanya di restoran Zingbiz. Mereka berbenah, menata ulang apartemen dengan membeli futon
baru yang bisa berubah tempat tidur, mengganti karpet, mengecat ulang, hingga melengkapi peralatan Audio Visual mereka dengan perangkat 'home theater' keluaran terbaru.
Beberapa bulan berlalu, barulah terkuak cerita di balik cerita dari si Dudi ini. Soni bilang kalau di apartemennya kedatangan bill – bill tagihan kartu kredit. Tercatat tagihan dari Amex, Discover, Visa, dan Mastercard yang total sekitar USD 40an ribu. Kalau dikurs dengan rupiah 10.000 per dollar kira-kira tagihan si Dudi sebesar 400an juta rupiah. Rupanya segala penampilan perlente si Dudi selama ini dimodali dengan 'kemplangan' utang kartu kredit.
Saya kasihan melihat Soni dan Awan. Bukannya apa-apa, berhubung kamar tersebut masih atas nama Dudi, maka status mereka berdua hanyalah 'menumpang'. Si bapak kosnya masih tetap si Dudi. Wajar mereka berdua merasa ketakutan karena tiap minggu selalu diteror oleh kedatangan surat tagihan utang. Salahsatunya bahkan dengan status yang sudah dialihkan kepada perusahaan 'debt collector' sehingga dalam bayangan mereka muncul seorang berbadan kekar, mengancam, mengintimidasi, atau main hakim seperti yang kerap terjadi di Indonesia.
Akhirnya dengan segala keterpaksaan, mereka berdua cepat-cepat mengemasi barang – barang dan siap-siap kabur. Aturan pertama pendatang gelap untuk bisa 'survive' adalah selalu 'Tiarap' ( istilah dalam perang gerilya) alias jangan sampai terlihat 'musuh'. Jadi jangan sekali-kali Kita bertindak yang 'nyrempet – nyrempet' bahaya, ataupun berada dalam kondisi yang membahayakan. Lebih baik menjauhi hal-hal yang berurusan dengan hukum. Maka mereka mematuhi aturan itu.
Berita itu cepat menyebar dalam komunitas orang Indonesia. Beberapa menyayangkan tindakan si Dudi yang membiarkan Soni dan Awan terkena getahnya. Masalah ngemplang utang urusan pribadi. Tapi dengan membiarkan temannya dalam kondisi bahaya? Salah satu temanku Rudi berkomentar,”Wah... payah nih si Dudi, 'berak' di mana-mana - ninggalin tai!!!”.
Janu Jolang
Catatan Saku Imigran Gelap Di Amerika
Monday, June 7, 2010
TEMAN DARI TEMANKU “BERAK” DI MANA – MANA
Posted by Janu Jolang at 11:40 PM 0 comments
Thursday, May 13, 2010
MR WANG CHUAN SI PENGANTAR MAKANAN MENERANGKAN TEORI DARWIN
Mr Wang Chuan si 'delivery man' berperawakan sedang, ukuran kepalanya besar, berkacamata minus, serta fasih dan jelas berbahasa Inggris. Ia adalah orang yang suka ngobrol, juga suka membaca. Ia tak pernah lupa membawa 'e-reader' bikinan China yang ukurannya setebal buku novel ke restoran. Ada kebiasaan unik ketika membaca, ia selalu meencari tempat yang remang-remang. Ketika kutanyakan, ia menjawab - sudah kebiasaan. Lantas ia bercerita - waktu kecil dulu keluarganya di China tak mampu berlangganan listrik sehingga kalau belajar ia hanya memakai lampu teplok. Kebiasaan itu akhirnya terbawa sampai sekarang. Entah cerita itu benar atau bohong, sambil menunggu order delivery datang – ia menghabiskan waktunya dengan membaca.
Suatu sore ketika sedang rehat makan malam, Wang Chuan ngobrol tentang kuatnya tradisi bangsa Eropa dan Amerika dalam mendokumentasikan penelitian-penelitian ilmiah mereka. Salah satunya mengenai karya Darwin, tentang teori evolusi yang sangat kontroversial. Pernah sekilas kudengar, antara ilmuwan dan agamawan berbeda pendapat tentang asal – usul manusia pertama yang ada di bumi.
Hal yang kusuka dari Wang Chuan, ia selalu menggunakan perumpamaan sederhana untuk menjelaskan teori-teori berat macam itu. Mengenai Seleksi Alamnya Darwin, Siapa yang kuat akan terus melangsungkan hidupnya, Wang Chuan mengambil contoh seekor induk harimau yang menggiring anak-anaknya meninggalkan daerah tandus - musim panas di Afrika. Karena panas terik yang menyengat serta tidak menemui buruan, maka dalam perjalanan si induk harimau itu mati. Bagaimana nasib anak-anaknya? Karena hukum alam, anak-anak harimau itu juga akan mati. Mereka masih tergantung kepada induknya, belum dibekali naluri untuk mempertahankan hidup, untuk mencari mangsa, atau menghindar dari keadaan bahaya.
Adaptasi dengan lingkungan adalah faktor penting dalam kelangsungan hidup makhluk hidup. Seperti halnya jerapah yang berleher panjang karena (ada dugaan) mereka beradaptasi dengan pohon-pohon sumber makanannya. Demikian pula Beruang Kutub yang mempunyai kaki lebih kuat untuk berjalan di atas es sekaligus untuk berenang, juga bulunya lebih tebal untuk menahan dingin, serta berleher lebih panjang untuk mencari buruan di dalam lubang persembunyian.
Demikian pula ketika Wang Chuan mencontohkan bahwa gempa bumi yang terjadi di kota kelahirannya, Sichuan Mei 2008, dan mengakibatkan ribuan nyawa melayang - adalah salah satu bentuk dari seleksi alam. Dalam nada bicaranya tak kudengar nuansa kesedihan sedikitpun tentang korbannya (barangkali saudaranya). Seolah gempa bumi adalah sebuah kejadian natural yang terjadi karena pergeseran atau patahan dalam lempeng bumi. Barangkali kalau gempa bumi itu terjadi di Indonesia, tentu persepsi kita akan langsung tertuju pada keberadaan Sang Pencipta. Sebuah konsep “Kehendak Mutlak” yang tak bisa ditawar – tawar. Selanjutnya, ada sebagian masyarakat yang menilai gempa bumi itu sebagai sebuah “Cobaan” dan sebagian lain menterjemahkannya sebagai “Kutukan”.
Kembali pada si tukang antar makanan, Wang Chuan kemudian berbicara pada titik kontroversinya: kalau kita percaya teori evolusinya Darwin, bahwa manusia adalah evolusi dari bangsa kera, lantas yang jadi pertanyaannya adalah: Ada satu titik, satu masa, dimana kera itu berubah jadi manusia. Kapankah itu?
Sebuah pertanyaan yang susah untuk menjawabnya. Hingga kinipun, ilmuwan belum bisa menemukan mata rantai yang terputus antara kera dan manusia. Aku yang hanya pembuat sushi jelas tak mampu menjawabnya. Menurut yang aku tahu, manusia pertama yang ada di bumi adalah Adam dan Hawa. Itu yang diceritakan guru agamaku waktu sekolah dulu.
Akhirnya (ketika melihat aku bengong saja) Wang Chuan menjawab pertanyaan kontroversialnya tadi, dengan nada dan intonasi yang seolah meyakinkanku,
” Ada satu masa, satu waktu, ketika kera itu sedang duduk di atas bukit, menatap indahnya panorama sore hari, dan bertanya pada dirinya sendiri,” Who am I ? ” Siapakah Saya.
Sungguh jawaban itu diluar dugaanku. Barangkali Wang Chuan ingin menegaskan bahwa kera itu sudah mulai bertanya-tanya siapa sebetulnya dirinya. Bukankah itu sebuah esensi kehidupan manusia? Mempertanyakan jati dirinya? Eksistensi dirinya? Dalam alur berpikirnya, Wang Chuan selalu menyisakan sebuah sarkasme yang kental dalam tema-tema yang diceritakannya. Sebuah humor yang disertai ironi. Apapun itu, saya selalu menunggu Wang Chuan menceritakan hal-hal menarik dan lucu. Alih-alih untuk mengusir suasana jenuh bekerja seharian di restoran.
Janu Jolang
Catatan Saku Imigran Gelap Di Amerika
Posted by Janu Jolang at 1:05 AM 0 comments
Saturday, May 1, 2010
CerpenRantau: Istri yang Merantau
(Oleh: Janu Jolang)
Angin musim gugur sore itu berhembus kencang melewati pilar - pilar kokoh monumen Lincoln, desirnya masuk ke dalam gedung. Lastri duduk di undakan tangga menggigil kedinginan. Rono kemudian mendekap dari belakang untuk memberi kehangatan. Lastri agak kikuk, ingin menolak tapi kemudian membiarkan saja. Beberapa turis sibuk bergaya di depan tustel, dan yang lain seksama mengamati patung marmer Abraham Lincoln sembari mengingat jasa-jasanya. Di bawah, pada pelataran kolam pantul terlihat keluarga Afrika - Amerika sedang berfoto dengan gaya ceria. Lastri tidak menghiraukan tingkah laku mereka. Ia tengah hanyut dalam masalah yang menguras perasaannya. Ia bingung ketika Rono membisikkan kata cinta di telinganya. Ia sudah menikah, demikian pula Rono. Walau suami dan istri mereka berada jauh di Indonesia.
Lastri sudah menolak secara halus tapi Rono tetap ngotot, seolah Rono bisa melihat kedalaman dirinya. Ya, tatapan sendu Lastri menjelaskan geliat kesepian di hatinya. Barangkali perpisahan dengan suaminya selama bertahun - tahun tanpa disadari telah mempengaruhi keteguhan hati wanita itu sebagai istri yang merantau.
Dan setelah pertemuan - pertemuan yang dilakukan mereka berdua, kini amat sulit bagi Lastri untuk memahami apa yang sebenarnya ada di kedalaman hatinya: cinta atau nafsu? Rasanya dua hal itu sudah membaur jadi satu. Bagi dirinya yang pernah mengalami cinta pertama, kali ini perasaan cintanya terhadap Rono lain. Tak ada rasa berdebar hebat ketika ia berjumpa dengannya kecuali Rono membelai-belai tangannya, tak ada rasa cemburu buta biar kata Rono bercerita tentang istrinya, tapi ia akan merasa gelisah jika tak bertemu Rono barang sehari. Rasanya ada sebuah kenikmatan tertunda yang selalu menghantui.
Lastri yang mendengar pengakuan cinta Rono diam tak menjawab. Wajahnya tunduk tersipu, rona merah tampak pada pipinya. Ia tetap diam, nyata kedalaman hatinya berbunga-bunga. Dibiarkan Rono terlunta - lunta tanpa jawaban, harap - harap cemas. Sejujurnya, pengakuan Rono itu telah lama ditunggu - tunggu. Ya, Rono telah mencuri hatinya, Rono yang begitu baik, perhatian dan dewasa, Rono yang mapan penghasilannya, Rono yang selalu memenuhi lamunannya sepanjang hari. " Salahkah aku jatuh cinta?", Lastri selalu bertanya - tanya dalam hati. Apakah benar Gusti Allah yang memberikan perasaan cinta ini? Tapi aku sudah menikah, apakah boleh orang sudah menikah jatuh cinta lagi? Kini dilihatnya Rono diam terpaku, malu - malu, tanpa daya, rasanya seperti bocah kecil yang baru saja kepergok memainkan kemaluannya. Berani - beraninya dia menyatakan cinta.
Lastri terkejut dari lamunan ketika tangannya digenggam erat Rono, seolah - olah ia menginginkan kepastian secepatnya. Lastri diam saja, kini kebimbangan merasuki hatinya. Ia lantas teringat pada Jiman. Ya, Jiman suaminya, pemuda lugu yang ditinggal merantau selama 4 tahun, Jiman yang terpisah ribuan kilometer, Jiman yang kini masih setia tinggal di dusun, bersama Menik - anak perempuanya, di kaki gunung Merapi ditepian kali Krasak. Rasa - rasanya ia tak tega untuk mengkhianati suami dan anaknya dengan berpaling pada cinta Rono. Mereka tidak bersalah, tak ada satu alasanpun yang bisa membuat ia meninggalkan mereka. Tapi Rono kini telah mencuri hatinya. Ia jadi bingung.
Ingatan Lastri kembali pada saat - saat indah 10 tahun yang lalu di desa, ketika ia dan Jiman dimabuk asmara. Ia begitu tergetar melihat Jiman sebagai pemain utama dalam kesenian rakyat Kubrosiswo, yang menari dengan gagah bak punggawa perang dalam perayaan 17 Agustus-an. Semenjak itu mereka memutuskan untuk menikah pada usia muda. Kala itu, banyak pemuda desa yang bekerja di kota merasa kecewa mendengar berita itu. Jiman hanyalah pemuda lugu di dusunnya, dan dialah sedikit dari pemuda yang tidak meninggalkan dusunnya. Tapi sedikitnya Jiman rajin dan ulet, ia bekerja menambang pasir di hilir kali Krasak, memecah batu gunung menjadi kerikil, dan menjualnya pada truk - truk pasir yang lalu lalang.
Lastri ingat ketika ia jadi manten, jadi ratu semalam, dengan kain batik dan baju kebaya bak putri kraton. Ia berikrar untuk taat dan berbakti kepada suami, itu muncul dari lubuk hati yang terdalam. Ketika Jiman menginjak sebutir telur dalam upacara adat Jawa, maka saat itu juga ia ikhlas, Jiman telah memiliki kesucian dirinya, Jiman telah memecahkan selaput daranya. Kemudian ia membasuh kaki suaminya tanda ia bakti dan tunduk pada suaminya.
Lastri tersadar dari lamunan, dari anak tangga di atasnya kini Rono mendekap tubuhnya lebih erat, kemudian mencium pipinya. Lastri tak kuasa menolak, dilihatnya kini tatapan mata Rono berubah yakin, sepertinya Rono akan mampu membereskan semua aral melintang di depannya.
" Kamu mau menerima cintaku, Las?", desak Rono.
" Tapi mas, sampeyan kan sudah beristri ..", Lastri mengelak, dibiarkannya pelukan Rono erat mendekap dadanya. Dalam hatinya ia ragu untuk menjawab, barangkali lebih aman untuk berkata demikian.
" Ya, kenyataannya memang aku menikah.," suara Rono tersekat, " aku harus bilang apa lagi untuk meyakinkanmu ." Sejenak mereka terdiam, bisu, hanya angin - angin yang berhembus memainkan nada - nadanya, menerobos sela - sela ranting pohon tak berdaun, menerobos pilar - pilar kokoh bangunan, mendesau datang dan pergi.
" Lastri.., kalau aku mau berbohong sejak awal, aku pasti mengaku bujang atau duda padamu. Tapi itu tidak kulakukan, aku mau hubungan kita jujur sejak awal."
" Dan kini Lastri..., " Rono berpindah posisi dan menggenggam erat tangannya, " istriku telah mengijinkan aku untuk menikah lagi. Aku sudah bilang tentangmu."
" Mbak Sumi mengijinkan?," tanya Lastri kurang percaya, " trus apa katanya, mas?"
" Ya daripada aku terlanjur berbuat zina di perantauan, ia akhirnya mengijinkan aku untuk menikah lagi. "
Lastri tersenyum, dalam hatinya ia tertawa getir, alasan yang sama selalu diucapkan kebanyakan lelaki beristri, mereka sepertinya kompak walau tak saling kenal. Istri - istri mereka mengijinkan suaminya menikah lagi. Ya seperti itu alasan mereka, seolah - olah istri mereka digambarkan oleh sang suami sebagai istri yang telah puas limpahan kasih sayang, istri yang gairah syahwatnya sudah meredup, istri yang sedia berbagi, dan barangkali istri sholehah yang mengijinkan suaminya di perantauan beristri lagi. Alasan - alasan itu tak pernah ditelusuri kebenarannya oleh Lastri. Mungkin mereka berbohong. Sesungguhnya, mereka tak pernah berterus terang pada istrinya untuk menikah lagi.
" Bagaimana Lastri?", desak Rono lagi. Kini ia merasa barangkali kesabarannya mulai diuji.
Lastri diam terpaku, pandangannya terarah pada kolam pantul di depannya, beberapa unggas asik berenang di kejauhan, tampak deretan ranting - ranting pepohonan membayang pada kedua sisi kolam itu. Tiba - tiba Lastri bersuara lirih," Aku masih bersuami, mas Rono."
" Aku tahu Lastri, tapi ..apakah kamu .. ", tiba - tiba kalimat Rono dipotong suara Lastri. " Tapi,..entahlah mas, rasanya ., aku bingung mas .", Lastri membenamkan kepalanya pada dekapan lututnya, isak tangis terdengar lirih.
" Kamu masih mencintai suamimu, Las?", tanya Rono.
Lastri tak menjawab. Empat tahun berpisah dari suami diakuinya menimbulkan sebuah jarak dalam hati. Ia tak bisa memungkiri, sosok suaminya tak pernah lagi hadir dalam benaknya. Rasanya keseharian yang dialami di Amerika tidak lagi berpusat pada sosok suaminya, pada alam pedukuhannya, pada adat istiadat yang melingkupinya. Apalagi dengan kehadiran Rono di sisinya, duh . maafkan aku kang Jiman.
Ya, rasa cinta yang dulu menggelora kini surut sudah. Kadang ia bertanya-tanya dalam hati: apakah perasaan itu dialami juga oleh istri - istri yang merantau? Istri - istri yang jauh meninggalkan suaminya di Indonesia? Terkadang Lastri mencari pembenaran ketika melihat beberapa temannya yang telah bersuami menjalin asmara dengan laki - laki lain. Ada Rani yang hidup seatap dengan Mike lelaki kulit hitam asal Jamaica, ada Yani yang menikah lagi dengan Modesto pegawai konstruksi dari Honduras, dan beberapa malah terlihat sering gonta - ganti pacar, mencobai kamar - kamar hotel di daerah pinggiran kota. Kedalaman dirinya tak bisa berbohong, ia masih muda, bertubuh sehat, sintal, dan gairah berahinya masih kuat. Terutama kalau masa subur datang, sungguh menggelisahkan dirinya. Disaat tubuhnya menggeliat resah, ketika puting susunya mengeras, ketika peranakannya dirasakan turun ke bawah dan mengembang sampai ke pucuknya, saat itulah ia butuh belaian tangan kokoh dengan gerakan lembut mengusap tubuhnya. Menebar benih - benih pada persawahannya, atau sebelumnya mencangkul keras - keras, dengan hujaman menghentak - hentak, hingga tanah sekeliling bergetaran, dan lumpur bercipratan kesekujur tubuh.
Lastri tak sadar pagutan Rono telah membelit bibirnya. Ia tak kuasa menolak. Dirasakan hangat bibir Rono menyelimuti dingin tubuhnya. Menghalau angin - angin yang membekukan hatinya. Ia tak ingat lagi keramaian di sekitarnya, diantara turis - turis yang menghabiskan sore di gedung Lincoln Memorial. Ia hanya bisa pasrah kemana angin kan membawanya pergi.
****
Di belahan dunia lain, pada waktu yang sama, subuh di sebuah pedusunan di tepi kali Krasak, Jiman terbangun dari tidurnya. Semilir angin menerobos celah dinding bambu rumah, rasa dingin merayapi sekujur tubuhnya yang kurus berotot. Sisa air hujan pada dedaun bambu jatuh ke tanah menimbulkan derap berirama. Kokok ayam terdengar bersahutan, sesekali suara kambing tetangga mengembik. Gemuruh air kali Krasak terdengar keras pertanda arus sedang deras. Dam Senthong mungkin semalam dibuka. Hujan lebat mengakibatkan sungai meluap, membawa partikel - partikel vulkanik dari gunung Merapi. Baginya, ini adalah anugerah rezeki melimpah yang diberikan alam kepadanya, kepada penduduk dukuhnya. Namun banyak pemuda dusun lebih tertarik mengadu nasib di kota, bekerja sebagai buruh di pabrik tekstil, pabrik kertas, atau pabrik penyamakan kulit sepanjang jalan Magelang - Yogjakarta. Demikian pula istrinya, karena iming - iming teman sedusunnya, akhirnya ia merantau ke Arab sebagai TKW pada keluarga seorang pejabat pemerintahan. Setelah satu tahun bekerja kemudian istrinya ikut pindah ke Amerika karena tuannya menjadi diplomat. Dan kabar terakhir dari Lastri, ia pindah memilih bekerja sebagai 'babby sitter' pada keluarga dokter berkebangsaan Yahudi. Ah.... sudah empat tahun berlalu.
Adzan Subuh lamat - lamat terdengar dari langgar di ujung dusun. Jiman bangun dari amben, segera mengambil air wudlu. Di bilik sebelah, Menik - buah cintanya dengan Lastri delapan tahun lalu masih tertidur pulas, nafasnya teratur. Dalam remang nyala teplok, dilihatnya wajah polos Menik menyiratkan kedamaian. Jiman kemudian membangunkan anaknya, "Subuhan Nik, .. ayo bangun."
Anaknya masih pulas. Untuk kedua kalinya ia membangunkan dengan suara lebih keras. Dengan masih terkantuk - kantuk anaknya membuka kelopak mata, mengucek matanya.
"Pakne, aku ngimpi ketemu ibu."
" O ya?," kata Jiman," Opo ngimpimu, cah ayu?"
" Ibu kupanggil - panggil nggak dengar."
" Ya tentu, wong ibumu itu lagi kerja di Amerika," Jiman tidak menggubris mimpi anaknya," sudah sana wudlu."
" Wong ibu sedang nyebrang di kali Krasak situ kok Pakne ", Menik membantah.
" Ya sudah, sana wudlu dulu."
Menik bangkit ogah - ogahan, lantai tanah yang diinjaknya terasa dingin, ia kemudian menggeragap mencari sandal. Dengan mata setengah terpejam ia menuju bilik belakang. Pada sisi yang bertentangan dengan perapian masak, Menik mentangkupkan tangannya pada pancuran gentong dan kembali ke ruang tengah dengan air masih menetes pada wajah dan tangannya. " Ibu hebat ya Pak, bisa keliling dunia."
Jiman diam saja, ia sedang menebah balai - balai dengan sapu lidi, kemudian menggelar tikar di atasnya.
" Ibu hebat .", gumam Menik
" Makanya belajar yang rajin, nanti bisa seperti ibumu."
" Ibu hebat ya Pak., bisa ke Arab, trus .. ke Amerika."
Jiman berdiri di atas balai - balai kayu menggelar sajadah. Menik mengikuti gerakan ayahnya persis dibelakangnya. Sembari memakai mukena Menik bertanya," Amerika jauh ya Pak?"
Jiman tidak menjawab. Digulungnya lipatan sarung sebatas perut, memakai peci, dan merapikan baju kokonya. Menik bertanya lagi pada ayahnya, " Amerika jauh sekali ya Pak?"
" Iya ", jawab Jiman singkat.
" Banyak salju di Amerika ya Pakne?" Jiman diam saja, ia bersegera memulai sholat.
" Ibu kok nggak pulang - pulang sih, Pakne?", suara Menik berubah kesal, bercampur rindu.
Jiman membalikkan badan, menatap wajah polos anaknya: mata anaknya berkaca - kaca. Ia kemudian merebahkan lutut pada balai - balai. Jiman mendekap erat anaknya ke dalam rengkuhannya, suara Jiman bergetar, "Sudah . sudah ., ibumu pasti pulang ., sebentar lagi ibumu pulang." Jiman merasakan basah air menempel pada baju kokonya.
" Nanti kalau ibumu pulang, kalau ibumu sudah selesai kerja di Amerika, kita bertiga akan tamasya ke kota. Hari Minggu, ya, pagi - pagi sekali, ibumu sudah menyiapkan baju dan sepatu baru oleh - oleh dari Amerika. Bapak juga pakai baju baru. Ya, kita naik bis dari Tempel. Kita pilih bisnya yang bagus, yang besar. Trus kita langsung ke kebun binatang Gembira Loka."
" Ceritakan ada apa di sana Pakne?"
" Sudah, sholat dulu, critanya nanti saja .."
" Ayo Pakne, sebentar saja .", rengek Menik
" Ya . ya .., tapi sebentar saja ya. Di Gembira Loka Pakne liat gajah, besaaaar sekali. Gajahnya suka makan kacang, kacang rebus. Trus ada onta yang tinggi - tinggi dan berpunuk. Trus ada monyet, ada yang besar, ada yang kecil - banyak jenisnya, juga macan loreng."
" Ada kancil nggak Pakne?", tanya Menik.
" Wooo ya jelas ada," seru Jiman seolah-olah pernah melihat kancil, padahal Jiman hanya mendengar dari dongeng ibunya ketika ia masih kecil," kancilnya itu pinter, Nik, wong sudah dikrangkeng, eeh... ini bisa lepas. Trus kancilnya ke kandang gajah nyolong timun, ke kandang menjangan nyolong kacang panjang. Sudah critanya Nik, kita sholat dulu ya?"
" Selesai sholat Pakne crita lagi ya?"
" Ya sudah, nanti Pakne crita lagi."
Dan kedua bapak dan anak itu mulai menghadapkan wajahnya ke kiblat, mengangkat ke dua tangan dan sedakep khusyu. Jiman memasrahkan jiwa, pikiran, serta hatinya dalam lafal merdu puji syukur dan mohon hidayah pada Sang Pencipta, Allah yang pengasih dan penyayang. Kedamaian meliputi sekujur nadinya. Persis di belakang, Menik mengikuti gerakan ayahnya. Ia gelisah membayangkan kembali mimpinya, mimpi tentang ibunya yang menyeberangi derasnya kali Krasak, dengan seseorang yang rasa - rasanya bukan ayahnya. Mereka menuju dusun seberang. (Washington Dc, 2003)
Posted by Janu Jolang at 12:12 AM 0 comments
Thursday, April 8, 2010
EduRantau: ANAKKU MENGUCAP MANTRA SIM SALABIM
Enam bulan lalu, ketika anak-anak kubawa pindah ke Amerika, terus-terang pertama kali yang kucemaskan dari mereka adalah masalah perbedaan budaya, lingkungan, dan bahasa. Dalam bayanganku,anak-anak hanya diam membisu di kelas karena nggak ngerti bahasa Inggris. Anakku pasif, menyendiri, dan yang aku takutkan tidak bisa menangkap pelajaran yang disampaikan guru. Berabe nih kalo anak-anak malah mengalami krisis kepercayaan diri, mental jatuh, dan ngambek nggak mau sekolah.
Dulu ketika mereka masih di Indonesia dan aku di Amerika,lewat telpon - aku selalu menganjurkan, biar nantinya mudah menyesuaikan diri, kursuslah bahasa Inggris.Tapi kenyataannya tak semudah itu memberi pengertian kepada anak-anak. Beberapakali sudah ganti guru, mereka bilang males. Ada saja alasan yang bilang pak gurunya mbosenin, hanya itu-itu aja ngajarinnya, dan cas cis cus lainnya, sampai kusuruh mereka menambah perbendaharaan vocab baru tiap hari minimal 10 kata, mereka sering nggak nurutnya.
Akhirnya aku pasrah, dan hanya menyampaikan kepada anak-anakku, minimal kata-kata yang harus dihapal adalah yang berhubungan dengan kebutuhan dirimu seperti: lapar, haus, ngantuk, sakit perut, pingin ke belakang, dll. Itupun kadang dilain waktu ketika kutanyakan, beberapa kata masih banyak yang lupa.
Singkat cerita, 4 hari setelah tiba di Amerika, lewat "placement test" di education center anakku yang pertama dimasukkan ke grade 6 middle school, adiknya masuk grade 3 elementary school. Mereka berdua masuk kelas HILT khusus untuk murid-murid yang memakai Inggris sebagai bahasa keduanya alias Inggrisnya bukan bahasa pokok. Syukurlah, kulihat mereka bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan barunya. Mereka bilang suka sekolah di sini. Nggak ada upacara, sragam-sragaman, dan banyak belajar sambi bermain.Anakku yang paling kecil, Alma bahkan lebih senang karena dia bilang nggak banyak PR seperti di Indonesia. Di Indonesia PR tiap hari, sedangkan di sini, kadang saja bu guru ngasih PR dan baru beberapa hari diminta.
Memang ketika kulihat PR anak-anakku, sepertinya mereka bisa menerima pelajaran di sekolah. Bahkan ada beberapa istilah - istilah science dan matematik yang aku sendiri kurang paham. Ada Cardinal Direction, Body of Water, Evaporation, Condensation, Pentagon, Griot, dan lain-lain yang bagiku awam.
Baru saja kecemasanku mereda, tak berapa lama -- karena mereka masuk di pertengahan kuartal-- anak-anakku sudah terima rapot. Anakku yang klas 3 SD mendapat nilai "D" untuk Matematika dan kakaknya "C". Kulihat mereka berdua tampak tenang-tenang saja dengan hasil yang didapat. Hal ini berkebalikan dengan ibunya yang tercengang tak percaya. Bukannya apa, karena setiap anakku ditanya, Ia selalu bilang," Bisa. Matematika di sini lebih gampang daripada di Indonesia, mah."
Nah kini giliran ibunya yang senewen alias nggak terima. "Di Indonesia Alma selalu mendapat nilai bagus walau jarang belajar. Lagian Alma juga suka cerita kalau di kelas Matematika dia sering menjawab pertanyaan dari bu Guru dibandingkan teman-temannya. Ini sekolah aneh, masak nggak ada buku pelajaran sama sekali, kita nggak bisa mantau, nggak seperti di Indonesia. Kalau gini caranya, mendingan sekolah di Indonesia saja. Mutu pendidikan di sana juga nggak kalah sama di Amerika. Bahkan di kota kita sudah banyak sekolah yang bertaraf Internasional, pengantarnya bahasa Inggris, sekolah unggulan."
Akhirnya giliran bapaknya anak-anak yang buru-buru ke sekolahan, mencari-cari ibu guru, meminta penjelasan kenapa si Alma mendapat nilai "D" untuk pelajaran Matematika.
Setelah ketemu Miss Molly, baru kutahu kalau anakku itu pendiam banget di kelasnya. Bu guru bilang anakku pemalu, suaranya lirih kalau menjawab pertanyaan. Sering bu guru sampai kebingungan mau ngomong apa karena anakku "diem-banget". Yang lebih mencengangkan lagi -- ketika kutahu bahwa untuk pelajaran Matematika, anak-anak dilatih mandiri dengan mengambil sendiri PR di keranjang A, dan mengembalikan PR di keranjang B keesokan harinya. Nah inilah jawaban kenapa dulu anakku bilang bu Guru nggak pernah ngasih dan nagih PR-nya, kecuali memang anakku nggak pernah ngambil PR di kranjang A dan nyerahin PR di kranjang B.
Aku tahu anak-anakku bukan tipe pribadi pemalu. Kalau nilai raport untuk 'usaha' anakku mendapat 'excellent', perilaku sopan, tapi kurang mematuhi 'instruksi', berarti ada sesuatu yang nggak nyambung alias "Jaka Sembung Bawa Golok", nggak nyambung bok!
Ya kendala bahasa, itulah kecemasan yang kukhawatirkan dulu. Anakku masih kebingungan menyerap Bahasa Inggris yang datang bertubi-tubi lewat tulisan dan percakapan. Sehari 7 jam di sekolahan selama seminggu.
Andaikan mereka dulu di Indonesia sudah belajar bahasa Inggris yang cukup, tentu mereka tak akan menemui kesulitan di sekolahnya seperti sekarang ini. Bukannya apa-apa, aku bukanlah konglomerat yang gampang saja mengeluarkan uang untuk menyekolahkan anaknya, kapan saja, kemana saja. Aku hanya seorang 'blue collar' atau kasarnya "Pick Penny" di Amerika sini, alias pemungut recehan yang harus membanting tulang dan memeras keringat untuk bisa 'survive'. Biaya hidup di Amerika khususnya di kota besar sangat-sangat mahal.Tapi untungnya biaya pendidikan alias biaya sekolah yang 13.000an dollar pertahun peranak sudah ditanggung negara alias gratis.Walau begitu, untuk ongkos apartemen yang 1500an dollar, belum biaya kebutuhan harian dan utility, dan lain-lain yang tak kurang 1000an dollar- amatlah mencekik leherku. Ibarat uang adalah oksigen, aku bernafas dengan tersengal-sengal.
Sebagai kepala keluarga tentu aku punya pemahaman tentang 'Hitungan-Rasional" kalau anak-anakku nggak naik kelas. Sebagai anak-anak, mereka belum memahami hal itu. Kulihat mereka masih dalam 'suasana-pesiar', sekolah sambil tamasya ke Amerika. Seperti brosur-brosur Sekolah Bahasa Inggris di Mancanegara yang pernah kulihat jaman aku SMA. Anakku yang kecil bahkan sering ngobrol dengan ibunya tentang kangen pulang kampung dan balik sekolah di Indonesia.Ya begitulah anak-anak..., dunianya masih penuh dengan permainan, ekstasi dan kegembiraan.
Jelas aku nggak tega kalau "Hitungan-Rasional" itu kusampaikan secara detil kepada anak-anakku. Mereka belumlah mengenal apa itu : tanggung jawab, sensitif, dan logis. Lagian toh itu sudah jadi tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya.
Akhirnya dengan kepasrahan total kubiarkan semuanya mengalir apa adanya. Aku tak bisa dan tak punya kuasa mengatur ini itu yang memang itu diluar jangkauanku. Kubiarkan anak-anak menemukan sendiri jalan keluarnya. Aku hanya bisa menyemangati mereka, menyemangati ibunya, bahwa ini semua bagian dari proses adaptasi yang harus dilewati.
Hari demi hari berlalu, orang Amerika biasa guyon: Same Shit - different day, dan pada suatu hari ada sesuatu yang berbeda. Tak disangka-sangka anak-anakku seolah mengucapkan mantra: SIM SALABIM dan aku terbengong-bengong sendiri dibuatnya.
Hal itu kutahu ketika anakku yang kelas 3 SD ada PR mengarang cerita di rumah, yang ditulisnya sendiri tanpa bantuan kamus dan orang tuanya. Aku tertegun membaca hasil karangan cerita itu. Tulisannya kulihat rapi tak ada coretan atau bekas dihapus. Enam bulan yang lalu Alma tidak bisa bahasa Inggris, kini aku yang sudah setua ini menjadi malu dan minder melihat kemampuan menulis Inggrisnya. Terus terang aku tak pernah mengungkapkan ide atau tulisan dalam bahasa Inggris lebih dari satu paragraf. Barangkali kalau disuruh mencoba, aku tak bisa menulis sepadat itu.
Beginilah tulisan anakku yang belum dikoreksi bu gurunya:
GO TO THE MOVIE THEATER
Last week I went to the movie theater. I go with my mom, my dad, and my sister. We saw Alice in Wonderland.
Alice in Wonderland is about a girl who found the world about wonderland. The girl was Alice, she was going marry, but the rabbit from wonderland set the timer, and going to the rabbit hole. The rabbit hole is the door to the wonderland.
Alice go inside of the rabbit hole and it's upside down, then she got fell off and it was not upside down again. She found a lot of doors and she don't know where to get to the wonderland!
When she found the key, the doors is not match. She found a curtain and there was a little door, that door was match to the key!
Alice can't fit on the door, she found a drink that says "drink me", after she drinks it she was shrank!
Now she can fit on the door,but there is one more problem. The door was locked again.
The key is on the table but it was too tall, so she can't reach the key. Under the table she found a piece of cake says "eat me" and she ate just one bite. After she ate the cake, she was streched!
after steched, she picked the key and drink again that says "drink me" and she shrank again. After she opened the little door, she found the wonderland ! (to be continued)
Razzle Dazzle,
by Almasita
Aah... betapa selama ini aku meragukan kemampuan anak-anakku. Dan akhirnya kini terbalas sudah. Anakku yang gede, Cedar tak mau kalah dengan adiknya, tiba-tiba Ia menunjukkan segepok hasil karangannya di sekolah yang tak pernah ditunjukkannya padaku. Salah satunya kucomot dan kutulis seperti di bawah ini:
Tugas dari bu guru:
Write about a time when you had to think quickly. What happened? What did you do?
I have to think fast when something need help or emergency. When some people got hurt or something, I will get first aid box and help. If it not really help them, I should call ambulance or call someone that can help me.
When I was swimming, I fell from the slide. I was bleeding. I called my mom and we went to emergency room. The nurse gave me some medicine and after that I went to hospital,`and the doctor help with more medicine. It was so scared.
note bu guru: falling from slide! You were lucky you didn't break any bones
Aaah... ternyata usahaku membawa anak-anakku ke sini tidaklah sia-sia. Apa yang selama ini kuperjuangkan dan kuyakini telah membuahkan hasilnya. Rasa lelah dan kekhawatiran yang selama ini kurasakan hilang sudah. Cucuran keringat dan letih lesu sehabis kerja seolah hilang ketika menemukan mereka sedang belajar.
Aku sadar bahwa aku bukanlah figur ayah yang sempurna bagi anak-anakku, tapi setidaknya inilah usaha terbaik yang bisa aku lakukan. Aku ingin memberikan sebuah pengalaman kepada mereka, sebuah pembelajaran hidup yang mungkin suatu saat menjadi sebuah "kenangan" yang indah bagi mereka.
Kalau hal itu ada yang menyangkal, setidaknya aku ingin memberikan sebuah "kenangan" atau memori yang paling tidak berkesan positif, baik, dan tidak meninggalkan bekas trauma dalam hati mereka.
Aku sendiri tidak tahu kelak mereka akan menjadi apa, kubiarkan saja tangan-tangan gaib membacakan mantranya: SIM SALABIM!!
Janu Jolang
8 April 2010
Posted by Janu Jolang at 3:42 AM 0 comments
Sunday, April 4, 2010
CHERRY BLOSSOM FESTIVAL ...
Ketika warna warni bunga bertebaran di musim semi..
indah tetaplah indah..
bila kau tak mampu menikmatinya..
panggilah pulang segera..rasa indah di hatimu...
Arti dari kata-kata yang sedikit puitis itu adalah.."Rugi lo, kalau lo nggak bisa nikmatin indahnya warna-warni bunga yang sedang bermekaran.., mangkanye..buang jauh-jauh stress, jadi lo bisa bebas menikmati keindahan ini..", gitu...
Minggu, 4 April 2010, di Amerika, anak-anak sekolah masih libur Spring Break, kami berniat jalan-jalan, kali ini Wisata Bunga, menengok Festival Tahunan Bunga Sakura, atau Cherry Blossom Festival, di Tidal Basin, sebuah danau buatan di dalam kota Washington,D.C.
ya.., di Amerika, bunga Sakura yang berasal dari Jepang ini disebut bunga Cherry. Padahal, buah Cherry matang, warnanya merah tua, dan bunga Sakura ini, warnanya antara putih, pink, sampai agak kemerahan.
Apakah di dalam kamus Jepang-Inggris, bunga Sakura, diterjemahkan juga sebagai Cherry ? Nahh, yang ini ane kagak paham amat..
Seperti apa kiranya keramaian Cherry Blossom Festival ini ? Kalau nanya rame.., walah, ramene pol-polan. Mungkin seperti padatnya kebun binatang Ragunan atau lapangan Tugu Monas bila Lebaran Idhul Fitri tiba. Di sini pun, orang rela berdesakan, berjalan berpanas-panas untuk mengunjungi acara Cherry Blossom Festival ini. Jangan mimpi datang ke seputaran Tidal Basin pakai mobil, karena nggak bakalan dapat parkir, dan jangan berani-berani parkir sembarangan, karena mobil anda akan di towing, lalu dikandangkan, dan butuh ratusan dolar untuk bayar biaya towing ini. Rugi kan ...
Acara ini diselenggarakan tiap tahun, biasanya pada awal musim semi. Sedangkan tanggalnya, disesuaikan dengan waktu mulai mekarnya bunga Cherry ini. ya karena mekarnya bunga ini kan nggak bisa ditentukan secara tepat,tanggal berapa, jadi kadang-kadang ada maju mundurnya dalam bilangan hari.
Di seputaran Tidal Basin, bila musim bunga Cherry tiba, sepanjang mata menatap langit rendah, adalah gerumbulan warna-warna putih bercampur pink, sampai kemerahan. Ini efek dari warna-warni bunga Cherry yang sedang mekar. Dan mekarnya bunga Cherry ini, hanya bertahan sampai sekitar 2 minggu, setelah itu rontok, bunganya berganti dengan munculnya daun-daun yang melebat. Nah, dalam kisaran waktu 2 minggu inilah, ribuan, bahkan mungkin sampai jutaan orang, tumpah ruah mengunjungi area sekitar Tidal Basin.
Seperti layaknya Festival, sepanjang waktu 14 hari ini pun, panitia menyelenggarakan berbagai acara yang dilaksanakan di sekitar area Tidal Basin, dari lomba melukis, pameran, seminar yang membicarakan tentang bunga Cherry, pertunjukan kesenian dari berbagai negara, termasuk dari Indonesia, menampilkan tari Bali, Angklung, dan Reog Ponorogo. Lagi-lagi, mereka yang aktif tampil berkesenian di berbagai acara ini, sebagian adalah..para Nanny...ha2..surprise.., hebat kan..?
Selain itu, di sekitar Tidal Basin, sambung menyambung adalah bangunan Museum dan Monumen-monumen. Wes to.., sak porete (sepuasnya), mau keluar masuk Museum apa saja..boleh.., dan gratis alias nggak bayar sama sekali, karena di Amerika, wisata Museum termasuk jenis wisata yang prestisius, dan bahkan bagi anak-anak sekolah, disarankan pada para orang tuanya untuk sering-sering mengajak anak-anaknya berkunjung ke berbagai museum tersebut. Ada kalanya juga sekolah yang menyelenggarakan acara wisata Museum bagi murid-muridnya.
Kembali ke Cherry Blossom Festival, kisahnya, adalah demikian...
Program untuk menanam pohon bunga Sakura ini berawal dari ide-ide dan lobi-lobi kalangan elite dalam negeri Amerika Serikat. Lebih pas lagi, sebelum menjadi first Lady, Helen Taft, istri dari Presiden Amerika yang ke 27,yaitu William Howard Taft, yang memegang tampuk kepemimpinan Amerika serikat pada tahun 1909 sampai dengan 1913, kabarnya, pernah tinggal di Jepang, sehingga dia cukup familiar dengan yang namanya bunga Sakura. Singkat kata, diputuskan bahwa di sekitar Tidal Basin akan ditanam pohon bunga Sakura yang berasal dari Jepang.
Maka pada tahun 1910, tepatnya di bulan Januari, sejumlah 2000 bibit pohon Sakura tiba di Washington, D.C. dan segera ditanam.Tapi sayangnya, pada bulan Februari, Departemen of Agriculture yang mengawasi proyek penanaman pohon bunga Sakura ini, mengumumkan bahwa bibit yang baru dipindahkan dari Jepang ke Amerika Serikat tersebut terinfeksi oleh insektisida dan nematodes. Maka, keputusan nasional diambil, bahwa bibit yang sudah mulai ditanam itu harus dimusnahkan dengan cara dibakar pada tanggal 28 januari tahun 1910..
Setelah melalui pembicaraan dua negara, Amerika Serikat dan Jepang, maka pada tahun 1912, kembali Jepang mengirimkan sekitar 3000 bibit pohon bunga Sakura dalam 12 varietas. Bibit pohon bunga Sakura yang dikirim kali ini, sudah melalui proses pembibitan yang begitu ketat, sehingga diharapkan akan tahan hama, dan bisa berhasil ditanam di Amerika Serikat.
Ternyata benar, bibit pohon bunga Sakura yang dikirim kali kedua, dan ditanam di seputar Tidal Basin, dan juga di pekarangan-pekarangan perumahan penduduk sepanjang tepi jalan di Maryland, Virginia, dan Washington, D.C. sendiri, berhasil ditumbuhkan dengan selamat. Hingga bertahun-tahun kemudian, ketika bunga-bunga ini serentak muncul di sekitar awal musim semi, Spring, maka keindahan warna putih, pink, dan kemerahan, semarak memenuhi kota-kota tersebut.
Jika menghitung jumlah tahun, maka pepohonan Sakura yang ada di Amerika Serikat, bila itu adalah pepohonan asli yang ditanam pada tahun 1912, maka usianya sudah mecapai 98 tahun. Dan memang, nyatanya, pepohonan itu tingginya sudah melebihi atap rumah, dan batang utamanya sudah nampak sangat kuat karena ketuaannya.
Itulah sekelumit kisah tentang Cherry Blossom Festival di Amerika serikat. Keindahan bunga Chery ini mengingatkan kita akan adanya hubungan baik, hubungan manis antara Jepang dan Amerika Serikat. Perkara bertahun kemudian mereka "kerengan", bertengkar, dan saling lawan di Pearl Harbour, Hawaii, pada bulan Desember tahun 1941, ..ha2..itu lain perkara, Boo..! Yang perang silakan perang, tapi ribuan bunga sudah telanjur ditanam dan dikembangkan...hohohohoho....Salam bunga Cherry..!
Carlin Spring, Arlington, Virginia,
Dian Nugraheni,
Posted by Janu Jolang at 1:53 PM 0 comments
Wednesday, March 3, 2010
KesehatanRantau: NIGHT OWL atau EARLY BIRD...
Punya masalah dengan jadwal tidur ? Maksudnya, secara wajar, orang akan tidur di malam hari, dan bangun pada pagi hari, dengan jumlah jam tidur yang disarankan, kira-kira 8 jam bagi orang dewasa dan 10 jam untuk anak-anak. Dan tentu saja, jam berangkat tidur pun dimulai kira2 jam sepuluh malam, dan bangun kira-kira jam lima atau enam pagi.
Apabila anda mempunyai ukuran waktu dan jam tidur seperti itu, maka anda termasuk kelompok orang-orang yang mempunyai pola tidur yang normal.
Tapi ada beberapa kasus, di mana akhirnya jadwal tidur seseorang jadi jungkir jempalik, porak poranda, dan secara umum bisa dibilang, tidak normal.
Sebenarnya sih, normal dan tidaknya jadwal tidur seseorang, sangat individual. Artinya, ada orang-orang tertentu, yang mempunyai pola jam tidur nggak genah, dan itu mengakibatkan jam tidurnya tidak cukup, tapi hidup sehari-harinya, ya tetep nggenah aja. Misalnya, dia tetap bisa beraktifitas dari pagi hari, seperti bekerja, dan sekolah..
Tapi, bagi sebagian orang yang lain, mungkin hal itu, sebenarnya tidak dia harapkan, dan bisa jadi akan menimbulkan efek negatif seperti mengantuk di pagi hari dan tidak bisa melakukan aktivitasnya secara maksimal.
Kalau masalah kebiasaan tidur yang tidak "normal' itu terus berlanjut, maka, akibatnya bukan cuma ngantuk di pagi hari, tapi bisa menjadi loyo, tampang kusut masai akibat kurang tidur, stress, dan seterusnya..hmmm
Kenapa sih orang-orang bisa mengidap problem dalam mengatur jam tidurnya..?
Beberapa hal bisa menjawab pertanyaan tersebut.
Jet Lag, dalam kasus ini, seseorang yang terbang melintas ke wilayah yang sangat jauh, sehingga menemukan perbedaan waktu, dari tempat dia berangkat, dengan tempat di tujuan. Apalagi kalau beda waktunya cukup tinggi, katakanlah 6 jam atau lebih.., maka, sudah deh.., pastilah untuk beberapa hari orang tersebut akan mengalami jam tidur yang tidak "pas", ini karena jam biologis, jam tubuhnya, harus mengalami adjustment alias penyesuaian diri dengan waktu di tempat baru.
Atau, bila seseorang sedang melakukan terapi karena sakit. Konsumsi obat-obatan tertentu, maka hal tersebut akan membuat orang mengantuk, pada jam berapa pun orang itu minum obat. (Jangan tanyakan pada daku obat-obatan jenis apa aja yang bikin ngantuk..daku bukan paramedis..he2..).
Atau, orang yang bekerja pada shift malam, mau nggak mau, semalaman dia akan terjaga karena pekerjaannya itu, dan gantinya, dia akan tidur panjang di siang hari.
Atau, bila anda tinggal di lingkungan yang hingar bingar, meski di malam hari, dan hal tersebut mengganggu anda, mengakibatkan anda susah tidur di malam hari...
Juga apabila anda mempunyai kebiasaan nonton TV atau bermain-main dengan komputer anda di malam hari, saking asyiknya, nggak sadar ternyata sudah dini hari, dan rasanya nggak ngantuk tuh..he2..
NIGHT OWL
Ada istilah lucu untuk problem tidur seperti disebutkan di atas, yaitu, NIGHT OWL, bila anda susah ngantuk, dan setelah dini hari, baru bisa merem.., padahal jam 6 pagi sudah harus bangun lagi, memulai aktivitas, bekerja, sekolah, dan lain-lain. Dalam kasus ini, mungkin orang hanya akan tidur sekitar 3 jam dalam sehari semalam.
Adakah cara yang bisa ditempuh agar pola tidur para Night Owl kembali normal..? Sepanjang yang aku baca, ada beberapa jalan yang bisa ditempuh, yang pertama adalah, mendisiplinkan diri, artinya, ngantuk gak ngantuk anda harus tidur pada jadwal jam normal, yaitu sekita jam 10 atau 11 malam, dan bangun pada pagi harinya, setelah jam tidur selama kurang lebih 8 jam atau 10 jam terpenuhi...
Tapi, anak kecil pun juga tau, kalo nggak ngantuk, tapi dipaksain ngantuk, adanya malah uring-uringan, malah selanjutnya bisa jadi stress.
Kalau itu tidak berhasil, cobalah dengan terapi cahaya, yaitu, membiarkan anda berada dalam ruangan yang terang benderang begitu anda bangun tidur., sepanjang 30 atau 45 menit. Dan bila itu masih tidak berhasil, konsultasikan pada dokter tentang kemungkinan mendapatkan terapi hormon melatonin.
Kenapa sih mesti diberi terapi hormon melatonin..?
Hormon melatolin ini, dalam jumlah besar, diproduksi ketika hari mulai gelap, dengan terjadinya produksi hormon ini, maka seseorang akan tergiring untuk merasa mengantuk, dan tertidur.Kemungkinan besar, orang-orang NIGHT OWL hanya sedikit produksi hormon melatonin dalam tubuhnya, sehingga harus dibantu dengan terapi hormon tersebut.
EARLY BIRD
Yaitu kelompok orang yang memulai tidur malamnya pada sore hari, terbangun pada dini hari, nggak bisa tidur lagi sampai pagi. Padahal, sama juga, mereka harus melakukan kegiatan rutinnya sehari-hari..
Orang-orang seperti ini, biasanya akan merasa ngantuk pada pagi harinya, dan berusaha mencoba meneruskan tidurnya ketika matahari sudah benderang.
Cara mengatasinya pun hampir sama dengan NIGHT OWL, yaitu mulai mendisiplinkan diri menentukan jam mulai tidur dan jam bangun pagi. Hal tersebut juga bisa dibantu dengan menerapkan terapi cahaya, yaitu, membiarkan anda terpapar dalam cahaya terang selama 30 menit sampai 45 menit, pada sore menjelang malam hari. Diharapkan, bila anda berada dalam cahaya terang, maka anda tidak akan cepat-cepat mengantuk.
Ho..ho..ho.., NIGHT OWL atau EARLY BIRD kita ini..? Atau bukan dua-duanya..silakan bikin istilah sendiri.., LAZY CAT, mungkin..? Lazy Cat bisa angler (nyenyak tidur) jam berapa pun meski sudah tidur 8 atau 10 jam dalam sehari semalam...Halahhh.., kalau itu sih benar-benar malazzzzzz ...Salam zzzzzzz ...
Carlin Spring,Arlington, Virginia
Dian Nugraheni,
Posted by Janu Jolang at 11:01 PM 0 comments


