Tuesday, July 23, 2013

EL CHAPO GUZMAN SI RAJA NARKOBA DUNIA

Pertama kali aku dengar nama Chapo Guzman, itu keluar dari mulut Lazaro si juru masak asal Mexico. Berawal dari kebiasaan ketika restoran tutup di siang hari, sehabis makan siang, Lazaro kemudian menyetel musik balada khas Mexico dari HP nya. Musik khas berbirama 2/4 dengan dominan akordion dan violin yang mirip musik Polka itu kedengaran brisik di telingaku, aku terganggu kala sedang berbaring di kursi panjang untuk mencoba tidur melepas lelah.

Iseng kutanya apa nama band-nya lantas Lazaro menjawab dengan semangat bahwa grup band ini sangat terkenal dan melegenda di Mexico, namanya Los Tigres Del Norte.
Ketika aku tanyakan lagunya bercerita tentang apa, Lazaro bilang lagu yang sedang ia dengarkan itu tentang Perang Mafia Narkoba di Mexico. Ya, aku sering melihat berita di tv bahwa kejahatan dan pembunuhan merajalela di Mexico: banyak terjadi pembunuhan masal di siang bolong, tembak menembak di keramaian kota, atau seorang digantung di jembatan dengan kepala dikarungi kain, atau dilain hari dua atau tiga kepala dipenggal dan dipajang di keramaian kota sebagai pesan peperangan. Mereka juga tak takut membunuh aparat kepolisian dengan sadis lewat penyiksaan. Semua kejadian itu ada hubungannya dengan narkoba. Ya .. di Mexico ada 7 kartel besar narkoba yang bermain: Los Zetas, Sinaloa, Gulf, Tijuana, Beltran Leyva, La Familia, dan Juarez. Selain perang dengan aparat militer, kartel narkoba juga terlibat perang antar mereka sendiri dengan tujuan untuk mengontrol jalur distribusi, daerah kekuasaan, dan ujung-ujungnya saling balas dendam karena pertumpahan darah antar keluarga mafia.
Salah satu penjahat yang paling melegenda yang diceritakan Lazaro adalah Si Pendek Guzman, dia adalah Pablo Escobarnya Mexico, Drug Lord paling berkuasa di dunia. Pemimpin Kartel Sinaloa ini tak pernah diketahui keberadaannya hingga saat ini.
Sepak terjangnya bagai hantu, ia bisa muncul dimana saja. Semenjak kejadian "heboh" kaburnya Chapo Guzman dari penjara yang paling ketat tingkat keamanannya, penjara Puente Grande tahun 2001, dan menurut ceritanya Chapo Guzman menghabiskan uang $2.5 juta untuk menyuap dan merencanakan pelariannya, melibatkan 78 orang mulai dari sipir penjara, direktur fasilitas rutan, dan polisi. Sampai kini keberadaan Chapo Guzman tak diketahui. Ada beberapa saksi mata yang melaporkan bahwa mereka melihat Chapo Guzman berada di hutan belantara Honduras, atau mati tertembak di Sinaloa, atau muncul di sebuah restoran di Tamaulipas untuk makan bersama puluhan bodyguard dan mentraktir semua pengunjung yang ada di dalam restoran secara diam diam.
Si Pendek yang tingginya 168 cm ini menguasai penyelundupan berton-ton cocaine dari Columbia lewat Mexico dan diteruskan masuk Amerika. Chapo Guzman juga punya jaringan distribusi lewat orang-orang kepercayaannya di Amerika. Kartel Sinaloa ini lebih digdaya karena juga memproduksi methamphetamine, heroin, dan mariyuana untuk diselundupkan ke segala penjuru dunia. DEA badan anti narkoba Amerika -- sampai kewalahan menghadapi sepak terjangnya dan menyebut Chapo Guzman adalah "The Godfather of the Drug World", Bandar Narkotik paling berkuasa seantero dunia -- melebihi Pablo Escobar pada masanya.
Lazaro yang berasal dari daerah yang sama dengan Chapo Guzman di Sinaloa menceritakan betapa segala cara dipakai untuk bisa menyelundupkan Cocaine ke Amerika. Mulai dipak dalam kaleng jalapeno, ditimbun dalam gerbong tangki minyak, ditanam di sela-sela kerangka mobil truk, dibawa pakai pesawat terbang, hingga membuat terowongan bawah tanah. Salah satu terowongan yang akhirnya ketahuan oleh aparat keamanan terletak di sebuah gudang tua di Tijuana Mexico. Terowongan itu menerobos lewat perbatasan hingga mencapai area dekat San Diego California. Kedalaman terowongan mencapai 20 meter dan panjang 450 meter lengkap dengan listrik dan kereta dorong untuk memindahkan cocaine. Pekerja-pekerja yang membuat terowongan itu senang dibayar tinggi tapi tak menyadari betapa berbahayanya berurusan dengan Chapo Guzman. Mereka dibunuh setelah menyelesaikan pekerjaannya demi merahasiakan identitas dan lokasi terowongan. Chapo Guzman adalah pembunuh berdarah dingin.
***
Dalam negara yang penuh kemiskinan, bisnis narkoba adalah hal yang besar dan penuh uang. Semua orang ingin mendapatkan bagiannya. Aparat pemerintah, politikus, hakim, polisi, tentara, tergiur mendapatkan bagiannya. Dari 1kg cocaine yang masuk dari Colombia ke Mexico, para Kartel membeli murah seharga $2000. Ketika sampai di perbatasan Mexico - Amerika harganya berubah menjadi $5000. Setelah melewati perbatasan, di tangan bandar besar Amerika harga cocaine 1 kg dibeli $20.000. Bisa dibayangkan uang yang akan didapat para bandar jika ia menjajakan cocaine itu di jalanan dengan harga 1 gram-nya (setara hampir 1 sendok teh) $55 sampe $110, tergantung kualitasnya. Bahkan yang bagus harganya bisa membumbung tinggi mencapai $200 dan dipasarkan untuk kalangan berduit. Yaa bisnis narkoba sangat menggiurkan, dari modal $20.000 perkilogramnya bisa mendapatkan uang $55.000 - $200.000.
Dengan kekayaan milyaran dollar itu Kartel Narkoba menggunakan uangnya untuk menyuap aparat guna mendapat perlindungan keamanan. Mereka juga dengan gampang menghamburkan uang untuk membangun rumah sakit, gereja, menyumbang organisasi sosial, dan menggerakkan ekonomi sekitarnya. Bahkan tak hanya itu, anak-anak muda jalananpun direkrut untuk dijadikan kurir narkoba, atau bahkan anak-anak yang pandai disekolahkan agar kelak bisa menjadi polisi, hakim, atau pejabat penting -- yang nantinya akan dimanfaatkan untuk mengamankan bisnis narkobanya. Gerakan mereka terstruktur dan merambah ke segala aspek kehidupan.
***
Semenjak pemerintah Mexico mengadakan operasi militer untuk melawan kartel narkoba di tahun 2006, tingkat pembunuhan merangkak dengan tajam. Kartel yang punya duit milyaran dolar itu tak mau kalah dan mempersenjatai diri dengan segala jenis senjata; mulai pistol, AK 47, Uzi, senjata mitraliur amunisi bersabuk seperti dalam film Rambo, hingga senjata pelontar roket untuk berperang dengan tentara.
Para kartel juga memakai cara-cara sadis untuk menakut-nakuti aparat dengan membuat video eksekusi ala teroris dengan menyiksa dan membunuh secara keji di depan kamera video. Bagi siapapun yang mengganggu bisnisnya, entah itu polisi, hakim, jaksa, agen anti narkotika, awak media, atau lawan bisnisnya, mereka tak segan-segan mempertontonkan kekejian itu dan menyebarkan video tersebut ke media tv. Segala kekejaman yang berasal dari dasar neraka itu ditebarkan oleh para kartel narkoba ke segala penjuru Mexico.
Jumlah korban tewas meningkat dari tahun ke tahun, seolah tiada hari tanpa pembantaian. Banyak aparat hukum meninggal, juga anggota atau pimpinan kartel. Menurut laporan kepolisian Mexico, pada tahun 2006 terdapat 2119 korban meninggal atau setara dengan 5 orang kehilangan nyawa setiap hari. Tahun 2007 meningkat 2275 orang, tahun 2008 korban meningkat dobel menjadi 5207 orang, tahun 2009 meningkat lagi menjadi 9616 orang. Dan yang mengkhawatirkan adalah tahun 2010 dimana korban tewas mencapai angka 15.273 atau setara dengan 40 orang terbantai tiap hari.
***
Dan cerita tentang kemunculan tiba-tiba atau berita kematian Chapo Guzman akhirnya menjadi sebuah mitos layaknya kisah si pengidap sindrom Robinhood yang dermawan, mitos ini untuk menegaskan betapa dia sama sekali tak pernah tersentuh tangan-tangan hukum, tak takut muncul di keramaian, atau mati tanpa diketahui kuburnya...
Lazaro dalam istirahat siangnya lirih mengikuti lantunan lagu La Mafia Muere-nya Los Tigres dari HP nya:
Culiacan, capital Sinaloense, / Culiacan ibukota Sinaloa,
Convirtiendose en el mismo infierno / Berubah jadi neraka,
Fue testigo de tanta masacre / Dia jadi saksi pembantaian.
Cuantos hombres valientes han muerto. / Telah banyak pemberani mati
Unos grandes que fueron del hampa / Beberapa pembesar dunia bawah tanah
Otros grandes tambien del gobierno. / Juga pembesar pemerintahan

Tuesday, July 9, 2013

BERTEMU PERANTAU INDONESIA


Bulan Maret udara masih terasa dingin. Sisa-sisa salju masih tampak di atas pepohonan, juga melapisi tanah berbukit sepanjang jalan. Aku dan Hendro dijemput Mas Windi di China Town, Washington D.C. Kami melewati gapura berbentuk ornamen khas China yang melintang di jalan utama, juga kulihat di kanan kiri aksara China bertebaran dimana-mana, semua toko kebanyakan restoran menyajikan aneka khas makanan Chinese food.

Kami kemudian dibawa ke rumah single house-nya di daerah Wheaton, Maryland. Rumah tua di daerah sini kebanyakan berdinding setengah kayu dan setengah batu. Konon di musim dingin kayu-kayu itu bisa menyerap hawa dingin dan di musim panas batu-batu itu bisa mendinginkan hawa panas. Mas Windi tinggal bersama istrinya Siti Zubaidah yang bekerja sebagai perawat di panti jompo, mereka punya dua anak yang masih sekolah di SMP.
Mas Windi sendiri bekerja di jasa kurir sebagai pengantar barang, sedangkan malam hari ia bekerja sebagai pengantar koran. Ketika aku tak bisa tidur karena jam biologisku masih menyesuaikan dengan Indonesia yang siang hari, mas Windi iseng mengajak aku untuk menemani dia mengantar koran. Maka berbekal jaket tebal untuk menahan cuaca dingin di akhir Februari aku duduk di samping kanan kursi depan mobil van-nya. Kuperhatikan mas Windi dengan sigap meraih satu demi satu koran dari tumpukan, memasukkannya ke dalam kantong plastik dan melemparkannya ke halaman rumah pelanggan. Jendela mobil yang terbuka di sisi kiri kanan membuat badanku menggigil terkena suhu enol derajat Celcius. Entah sudah berapa ratus koran yang dilempar, mas Windi tak terlihat lelah dan kedinginan. Pekerjaan melempar koran yang dimulai sejak jam 3.00 pagi hingga selesai jam 5.00 pagi adalah pekerjaan berat yang butuh dedikasi tinggi. Ya karena disaat kebanyakan orang masih terlelap dalam kamar berpenghangat yang nyaman, mas Windi sudah membanting tulang dalam dinginnya malam.
Di basemen rumah yang disekat menjadi empat ruangan kecil tinggal anak-anak Indonesia yang kos di sana. Aku berkenalan dengan kakak beradik Marcel dan Marco perantau asal Jakarta yang bekerja sebagai Waiter atau Pelayan di restoran Pan Asia di downtown Washington DC. Dari mereka aku mendapatkan gambaran bahwa bekerja sebagai Waiter dibutuhkan kepandaian berbahasa Inggris, harus ramah, dan pandai melayani pelanggan. Seorang pelayan juga harus mengerti semua jenis makanan yang dijual di restoran, mengetahui bumbu-bumbu apa saja yang dipakai serta bagaimana cara memasaknya. Marcel menyebut dengan fasih berbagai makanan yang dijual di restoran tempat ia bekerja seperti Pad Thai, Tom Yum, Lime Chicken, Mongolian Beef, Bento Box, dan aku sama sekali awam dengan itu. Marco juga menambahkan bahwa pelayan restoran di Amerika jauh berbeda dengan di Indonesia. Terutama masalah penghasilan, pelayan restoran punya penghasilan tinggi dari tips yang diberikan pelanggan atas jasa pelayanannya. Di siang hari saat pengunjung menyerbu restoran untuk makan siang, Marco bisa mendapatkan tip 100 dollar diluar gajinya. Pada malam hari jumlah yang sama bisa didapatkan Marco dari para pelanggan yang menghabiskan malam dengan rekan kerja, pacar, atau partner bisnis. Sungguh cerita Marcel dan Marco menjadikan aku seperti orang bodoh karena tak tahu apa-apa. Tapi setidaknya aku jadi mengerti hal-hal baru, menambah pengetahuanku untuk bekal hidup di Amerika.
Di akhir pekan mbak Ratna, Aas dan Jaenah yang bekerja Live In sebagai Nanny pulang ke kos-kosan. Selama lima hari seminggu mereka bekerja dan menginap di rumah majikannya keluarga Arab yang kaya raya. Selain pekerjaan utama merawat bayi, mereka juga memasak, mencuci baju, dan membersihkan rumah. Kedatangan mereka di kos-kosan menjadikan suasana akhir pekan tambah ramai. Celoteh mereka tentang berbagai hal lucu yang dialami, atau cerita sedih teman-teman sesama perantau, apalagi ketika tahu mereka sibuk memasak nasi Kebuli kambing untuk makan siang. Dan itu terus berlanjut hingga sore hari ketika kami kedatangan tamu sesama nanny.
Mbak Siti Zubaidah istri mas Windi yang dulu seorang nanny ternyata adalah figur tuan rumah yang pandai melayani tamunya. Ia ramah, hangat, dan pandai bercerita. Mereka berkumpul di ruang tengah, bercengkerama sambil mendengarkan lagu dari Amr Diab, Habibi ya Nour El Ain. Beberapa nanny tak kuat mendengar petikan gitar Andalusia dan hentakan Tabla bercampur Cempring lantas mereka mengajakku menari ala tari perut padang pasir dalam iringan gemulai Akordion dan syair berbahasa Arab. 
Ya, lewat perkenalan dengan merekalah aku bisa mengetahui lebih dekat dunia para perantau di Amerika Serikat. Mereka yang telah bertahun-tahun hidup jauh dari keluarga, mereka yang kesepian, mereka yang tabah dengan berbagai cobaan, menandakan mereka adalah pribadi yang tak mudah menyerah oleh kerasnya kehidupan. Hal itu menjadi sebuah inspirasi bagiku untuk bisa bertahan hidup, tetap semangat, dan tak gampang menyerah di Amerika.   
Malam telah larut, dinginnya basemen terasa menyengat kulitku, aku menggigil. Tak lupa kusempatkan telpon paman memakai "calling card" bahwa aku telah berada di Amerika dengan selamat. Dari nada suaranya paman terdengar gembira walau aku tahu masih ada kekecewaan di hatinya.

Friday, June 21, 2013

WELCOME TO AMERICA

Roda pesawat menyentuh ujung landasan, kegembiraan menyeruak diantara keletihan yang memuncak. Bandara JFK New York telah menyambut kedatanganku. Ingin segera kukabarkan pada ibu, pada paman, bahwa aku telah menjejakkan kaki di tanah Amerika.

  Aku berjalan keluar pesawat, kuikuti penumpang sambil berjalan pelan lewat lorong-lorong panjang. Kulihat wajah-wajah gembira diantara beberapa bule yang habis pesiar. Hatiku deg - degan, Hendro melihat kecemasanku dan ia berusaha menenangkanku.
Bandara JKF adalah salah satu bandara tersibuk di dunia, berbagai maskapai dari segala penjuru dunia datang dan pergi tak pernah henti. Tak lama kami sampai pada antrian panjang mengular di loket-loket imigrasi. Ya demikianlah suasana ketika para penumpang keluar dari pesawat. Kami menggerombol dalam satu barisan dan aku mencoba bersikap rileks diantara teman-teman pelaut, aku persis di belakang Hendro. Aku was-was andai visa pelautku ketahuan.
Petugas Imigrasi di depanku adalah seorang lelaki kulit hitam usia 50an, dan kulihat Hendro sudah lolos pemeriksaan. Aku maju ke depan sambil menekan rasa ketakutan jangan-jangan visa pelautku ketahuan. Dengan mencoba berlagak ramah aku menyapa petugas imigrasi dengan sopan, sekaligus menunjukkan sikap sigap seorang pelaut.
Petugas itu membolak balik pasporku dan mencocokkan datanya. Aku menunggu dengan was-was. Ia menanyakan," Kamu penggemar New York Yankee?", lantas aku jawab suka walau aku tak tahu apa yang dia maksud.
Ketika si petugas itu menunjuk ke arah topi yang kupakai berlogo NY, aku baru paham bahwa mungkin itu yang dimaksud. Sambil manggut-manggut aku mengulangi dengan antusias," I like New York Yankee .... I like New York Yankee."
Dan dari balik loket kudengar ia mengatakan, "Welcome to America .....Sailor"
Hatiku plong. Bergegas aku melangkahkan kaki menuju pintu keluar Terminal Kedatangan sambil menarik tas bawaan. Langkahku terasa ringan seolah semua beban dan kekhawatiran yang selama ini menggelayutiku hilang. Tak menyangka setelah mengalami jalan terjal berliku dan berat, semuanya kini terasa mudah dan ringan.
Tiba-tiba udara dingin menerpa wajahku, kuhirup udara sisa-sisa musim dingin yang membuat hidungku tersengat. Aku menggigil kedinginan. Ya aku baru pernah merasakan dingin yang barangkali enol derajat. Alih-alih menuju ke kantor kapal pesiar kita berbelok arah ke terminal bis di China Town, New York. Kami akan meneruskan perjalanan ke Washington D.C yang memakan waktu empat jam.

Monday, June 17, 2013

JUMP SHIP


Istilah Loncat Kapal sering dipakai anak-anak yang kabur dari kapal. Menurut cerita Hendro bekerja di kapal pesiar sangat berat. Tidak seperti gambaran orang awam yang mengira bekerja di kapal pesiar adalah suatu hal yang mewah, dengan baju seragam yang gagah dan suasana kapal pesiar yang luks, ditambah iming-iming gaji yang tinggi dan kesempatan bisa berkeliling dunia ke tempat-tempat indah di segala penjuru dunia. Iming-iming itu melekat di benak anak-anak muda seusiaku.

Hendro pernah ikut kapal pesiar tujuan Eropa. Di kapal Ia mendapatkan supervisor galak yang menginspeksi kamar secara detil, ke bagian-bagian yang tak terlihat mata, bahkan sampai ke balik toilet duduk. Dan ketika ia menemui debu disana maka segera ia berteriak memanggil Hendro dan "ngomel-ngomel" dengan sumpah serapah.
" Kerja di kapal pakai disiplin militer, man. Kalau kita nglawan atasan bisa-bisa kita malah makin sengsara. Pernah teman kerja dari Filipina protes gara-gara dia dikasih kerjaan nglewatin jam kerja, eeh keesokan hari dan selanjutnya dia malah ditekan ... sengaja dikerjain ... Akhirnya dia gak betah dan minta pulang. Ini kapal liat benderanya dulu man. Emang kepunyaan orang Amrik tapi benderanya bisa di Karibia, atau mana saja. Jadi aturan kerjanyapun tak seperti pekerja Amerika. Kita-kita gak bisa nuntut terlalu banyak. Makanya anak-anak kapal pasti ngiri kalo denger cerita temen-temennya yang kerja di darat, walau gelap tapi masih bikin duit. Makanya ketika ada kesempatan, lebih baik kabur dari kapal. Di darat biarpun dibayar murah jatuhnya masih lebih gede, man. Udah gitu kerja di darat nggak boring kayak kerja di kapal, ada liburnya. Kita bisa jalan-jalan. Kalo di kapal ada libur juga percuma, liatnya air laut saja hehehe. Kerja di kapal sistemnya kontrak 10 bulan, setelah itu dikasih ijin pulang dua bulan sambil bikin kontrak baru."
Hendro memperpanjang kontraknya yang ke tiga tahun ini, tapi keberangkatan kali ini untuk lompat kapal alias tak memenuhi panggilan kerja. Kerja di kapal sangat berat, sehari bisa kerja 10 sampai 13 jam, selalu ada yang harus dikerjakan, tak pernah berhenti, tidur hanya 5 jam. Dalam seminggu tak ada hari libur. Setelah bekerja selama 10 bulan baru diberi cuti 2 bulan. Hendro yang kebagian pekerjaan bersih-bersih sering mengeluh apalagi ketika harus membersihkan kotoran penumpang yang mutah, ketika kapal sedang oleng dihantam ombak atau penumpang yang mabuk di bar.
Saat pesawat lepas landas dari bandara Frankfurt hatiku berdebar campur gembira. Perjalanan menuju Amerika tinggal hitungan jam lagi. Badanku terasa letih setelah menempuh perjalanan panjang dari Singapore menuju Frankfurt. Anganku melayang kembali kepada kata-kata paman. Apa yang akan kucari di Amerika, aku sendiri tak pasti menjawabnya, tapi ada satu keyakinan diantara semua perantau yang akan pergi meninggalkan Indonesia bahwa mereka ingin memperbaiki kondisi ekonominya, mencari penghasilan yang lebih baik di negeri orang. Ya, motif ekonomi adalah iming-iming yang mampu menggoda hasrat mereka untuk menempuh resiko apapun. Apalagi semenjak Pak Harto Lengser, makin banyak orang tergiur untuk merantau ke sana, bekerja apa saja, dengan imbalan dollar. Ya .. ekonomi Indonesia terpuruk, banyak perusahaan bangkrut, lapangan kerja menyusut, dan nilai rupiah menjadi susut. Dollar Amerika yang tadinya dikisaran 2000 rupiah melonjak hingga 14.000 rupiah, dan bekerja di Amerika adalah suatu impian surga.

Friday, May 24, 2013

BARU PERTAMA KALI AKU NAIK PESAWAT

Kakiku masuk ke dalam pesawat yang akan membawaku ke Singapore. Aku mengikuti Hendro yang berjalan santai di depanku. Dia sudah terbiasa bepergian jauh dengan pesawat, kali ini adalah yang ketiga kalinya ia ke Amerika. Tak ada rasa takut dan canggung dalam menghadapi para petugas bandara dan kru pesawat. Bagiku melihat pesawat dari jauh adalah hal yang biasa, aku dulu kos di dekat jalur naik turunnya pesawat di Bandara Adi Sucipto Jogja. Tapi urusan naik pesawat aku belum pernah sama sekali. Saat itu aku hanya bisa membayangkan betapa asyik terbang bersama burung besi meliuk-liuk menembus awan, menerjang badai, dan melaju tenang di ketinggian.

Hari ini adalah pertama kali aku terbang dan tak tanggung-tanggung jarak yang akan kutempuh 15.000-an km. Aku duduk di kelas ekonomi dekat sayap sisi jendela. Hendro mengajari aku cara memakai sabuk pengaman, juga cara merebahkan kursi. Hatiku berdebar ketika ada pemberitahuan pesawat segera lepas landas. Sabuk pengaman sudah kukenakan dari tadi dan kini kuperiksa kembali sembari mengencangkan perutku. Perasaan takut menyergap diriku. Ketika bunyi bising mesin jet mulai mendengung keras, roda-roda pesawat mulai terasa kencang melaju di atas landasan pacu, ketakutanku makin menjadi-jadi. Benar tingkat keamanan menggunakan pesawat jauh lebih aman daripada mengendarai mobil, tapi kalau sekali celaka dampaknya bisa dipastikan fatal. Dan ketika pesawat mulai terangkat oleh angin perutku terasa berdesir, jantungku seakan meloncat. Moncong yang mendongak ke atas bergoncang ketika menembus awan tebal yang menggantung di atas langit.  
Tak lama posisi pesawat datar dan aku merasa lega, barangkali ini sudah di ketinggian. Suara dari kabin pilotpun sudah memperbolehkan kita melepas sabuk pengaman. Kulihat di kejauhan kerlap kerlip cahaya kapal di laut Jawa. Hatiku mulai agak tenang, Hendro yang duduk di sebelahku mulai sibuk dengan menyetel film-film yang ada di layar kecil di balik punggung tempat duduk. Para pramugari sudah mulai mondar mandir sepanjang lorong pesawat. Mereka menawarkan handuk panas untuk membasuh wajah dan tangan. Aku coba pencet-pencet remote ingin nonton film, Hendro akhirnya memberitahuku cara mengoperasikannya.
Jamuan makan malam tak lama diantar oleh pramugari yang gesit lagi ayu. Dari gerobak dorongnya mereka menawarkan kepadaku pilihan ayam atau daging sapi. Mereka juga menawarkan minuman. Hendro memesan red wine, minuman anggur beralkohol sedangkan aku pilih jus jeruk. Tak terasa perutku keroncongan, aku belum makan sejak siang. Kumakan daging ayam dan nasi gurih dengan lahap sambil sesekali menyeruput jus jeruk. Hendro minta tambah red wine lagi, aku ikut-ikutan, rasanya pahit.
" Perjalanan masih panjang, satu jam lagi sampai Singapore. Transit 4 jam kemudian dilanjut 10an jam ke Frankfurt. Entar nunggu lagi 4 jam di sana, baru ke Amerika. Total kira-kira 21 jam lagi .." 
Hendro punya pengalaman kerja di kapal pesiar Eropa, ia pernah ke Venesia, Yunani, Prancis, Belanda, dan Inggris. Pergi bersama dia aku tak merasa khawatir. Inggrisnya lancar, lagak bicara dan tingkah lakunya sopan. Diapun pandai memuji dan suka bercanda, pramugari tak keberatan menuangkan gelas ketiga red wine-nya.
Tak terasa perjalanan ke Singapore hampir sampai, pilot menyuruh penumpang untuk memakai sabuk pengaman. Kurasakan badan pesawat mulai turun perlahan-lahan, juga mulai mengurangi kecepatannya, sesekali kurasakan pesawat itu mengerem di udara, terasa seperti kehilangan daya dorong dan terhenyak kena gravitasi. Badan pesawat sesekali miring kekiri kanan untuk mensejajarkan sudut pendaratan dengan landasan. Dan tak lama roda-roda mulai keluar menimbulkan bunyi gemeretak seakan pesawat akan pecah. Tak terasa roda-roda sudah menyentuh landasan di bandara Changi, pilotnya sangat pandai dan halus dalam mengoperasikan burung besi itu.
***
Singapore, inilah pertama kali aku menginjakkan kaki di luar negeri. Ya, walau hanya sekedar transit di bandara Changi, tapi tetap saja ini berada di Singapore, aku menghirup udara dan menjejakkan kakiku di sana, meminum air kran dan meninggalkan air kencing di toilet.
Teman-teman pelaut semua berjumlah 12 orang. Kami berjalan beriringan menuju Gate tempat pemberangkatan pesawat yang menuju Frankfurt. Masih ada waktu empat jam menunggu. Diantara kami ada team leader yang membawa dokumen perjalanan. Tadi dalam penerbangan Jakarta - Singapore Hendro sudah wanti-wanti kepadaku untuk tidak bercerita apapun tentang rencana "Jump Ship" alias kabur dari kapal. Aku mendengar ada rombongan yang akan menuju Miami dan New York.
Aku melihat-lihat sekeliling bandara Changi yang megah. Banyak toko-toko yang menjual barang oleh-oleh, ada permen coklat, rokok, minuman beralkohol, barang elektronik juga barangi-barang bermerk seperti tas, sepatu, dan jam tangan. Aku tak tertarik sama sekali dengan apa-apa yang ditawarkan mereka. Uang di saku celanaku hanya 500 dolar, dan aku bukan mau pesiar, tapi mau merantau. Perjalanan ke Amerika masih jauh. Hendro bilang bahwa nanti aku akan ditampung di rumah mas Windi di Maryland, dan itu sudah termasuk dalam perjanjian awal ketika aku sepakat untuk menggantikan Tirta Projo yang batal mengurus visa.
Hendro juga memberikan jaminan bahwa nanti saudaranya akan mencarikan aku pekerjaan ketika sudah sampai di Amerika. Yaa, kini aku masih berada di Singapore, dan uangku hanya 500 dollar. Aku harus berhemat dan uangku akan kugunakan untuk kebutuhan yang penting saja.

Wednesday, April 10, 2013

MENINGGALKAN INDONESIA

Bandara Soekarno Hatta menjadi pertemuan terakhirku dengan paman. Wajahnya tampak kecewa walau ia berusaha menutupinya. Ibu juga terlihat sedih anak tertua yang kelak jadi andalan keluarga, jadi tempat berbagi suka dan duka akan pergi meninggalkannya.
Aku kembali teringat betapa paman sangat bijaksana menghadapi kerasnya keinginanku untuk merantau ke Amerika. Ya, aku telah mengecewakan paman dengan tindakanku meninggalkan bisnis percetakan yang sudah mulai besar, dan kedua (yang aku merasa sangat malu) saat aku memohon-mohon pada paman untuk dipinjami uang guna melunasi sisa hutangku kepada Hendro. Aku kalang kabut minta tolong kepada siapa lagi. Jelas ibu tak punya uang sebanyak itu untuk menutup hutangku. Aku sempat mengutarakan kepada Haji Uung untuk pinjam uang tapi dia bilang tak punya. Pikiranku kalut saat Hendro dan Pak Parman mulai menagih kekurangan pembayaranku. Paman saat itu hanya terdiam, tak bicara apa-apa.
Aku putus asa; cara apalagi yang harus kutempuh? Permintaanku kepada Hendro untuk mengangsur kekurangan uang ketika aku sudah kerja di Amerika tak bisa dipenuhi. Uang itu katanya akan dibagi-bagi kepada orang dalam, mereka sudah menagih. Aku putus asa, sempat terlintas dalam kepala niat untuk membatalkan keberangkatanku. Tiket pesawat akan kuuangkan untuk membayar utangku. Dalam detik-detik terakhir kegalauanku tiba-tiba paman mengajak aku bicara.
" Ini bukan duit paman ... Ambillah. Paman mati-matian cari pinjaman ini, ... Haji Uung yang berbaik hati meminjami. Berangkatlah ke Amerika kalau kamu yakin di sana kamu akan menjadi lebih baik."
Aku terharu mendengar perkataan paman, kebaikan paman. Tak terasa air mata keluar dan menghilangkan segala beban berat di dadaku. " Aku akan segera lunasi uang pinjaman ini setelah aku dapat kerjaan." kataku meyakinkan paman. Jujur dalam hati kecilku aku malu sekaligus merasa bersalah kepada paman, juga kepada diriku sendiri. Semestinya aku tak boleh gegabah waktu pertamakali menerima tawaran Hendro. Aku juga mestinya tak boleh mengandalkan paman untuk melunasi hutangku. Andai aku tak bisa membayar hutangku tentu aku akan dicap sebagai penipu, tak bisa menepati janji. Hampir saja aku terjerumus ke dalam tindakan kriminal. Untung paman menolongku, aku tak akan lupa dengan jasa baiknya.
Terminal Keberangkatan Luar Negeri menjadi tempat terakhir aku berpisah dengan paman dan ibu. Kepada keduanya aku sungguh-sungguh meminta doa restu dan keikhlasannya. Aku tak kuat menahan air mata yang mulai mengambang. Segera aku berbalik dan masuk ke dalam bandara.

Thursday, March 14, 2013

VISA PELAUT AMERIKA

Surat panggilan kerja dari sebuah perusahan kapal pesiar kondang di Amerika membuat hatiku berdebar-debar. Hal ini sebetulnya terjadi secara kebetulan. Pak Parmanlah yang memperkenalkan aku dengan Hendro, ia saudara jauh Pak Parman yang pernah merantau ke Amerika sebagai pelaut. Hendro telah malang melintang bekerja di beberapa kapal pesiar seperti Royal Caribbean, Holland America Line, dan Carnival Cruise.

Ketika Hendro menunjukkan kepadaku surat panggilan kerja dari sebuah perusahaan kapal pesiar kondang di Amerika, aku sedikit bingung memahaminya. Hendro meyakinkanku bahwa surat panggilan kerja ini asli, asli dari saudaranya di Amerika yang punya jabatan dalam perekrutan tenaga kerja di kapal pesiar. Memang kudengar banyak sekali pelaut-pelaut asal Indonesia yang bekerja di kapal pesiar baik rute Asia, Eropa maupun Amerika. Ya tapi surat undangan itu bukan atas namaku, di situ tertera nama Tirto Projo, bagaimana aku bisa memakai itu untuk diriku? Hendro menjelaskan bahwa masalah identitas adalah hal yang mudah dipalsukan di Indonesia. Mulai dari KTP sampai paspor, semua bisa dibikin asal ada uang. Dan posisi yang akan kuisi atas nama Tirto Projo, kata Hendro adalah tukang bersih-bersih kamar. Tirto Projo sendiri (kata Hendro) tak jadi berangkat ke Amerika. Hendro kemudian menjelaskan bahwa prosedur prescreening dan interview bersama perwakilan perusahaan sudah tak diperlukan lagi, ia lantas menunjukkan masa kontrak kerja yang berlaku dan surat garansi dari bagian perekrutan tenaga kerja yang telah ditandatangani.
" Hanya tinggal proses pengajuan visa ke Kedutaan Amerika." kata Hendro seolah meyakinkan aku.
Aku mulai tergiur dengan ajakannya. Keinginan pergi ke Amerika yang telah kukubur dalam-dalam kini menyeruak lagi. Disaat bersamaan timbul juga rasa khawatirku bagaimana menyampaikan semua itu kepada paman dan ibuku. Aku yakin paman akan kecewa dengan niatku untuk merantau ke Amerika. Paman sudah terlanjur mempercayai aku untuk menjalankan usaha percetakannya. Apalagi aku baru saja meminta seperangkat komputer dan scanner yang lebih canggih untuk keperluan disain grafis. Kalau kutinggalkan siapa yang akan mengerjakan order-order yang mulai menumpuk? 
Aku tak tahu pasti apakah Hendro berbohong tentang surat panggilan kerja itu, aku sungguh awam tentang seluk beluk mendaftar jadi pelaut di kapal pesiar. Tapi entah seperti aku tersihir kekuatan magis, aku menuruti kata-kata Hendro. Aku mulai membuat KTP baru dengan meminta tolong Pak Usup hansip desa. Setelah itu aku membuat paspor baru dan buku pelaut lewat calo di Tanjung Priok. Untuk identitas baru, namaku kini berubah menjadi Tirto Projo sesuai dengan nama yang tertera di surat panggilan.
Ketika menurutku saatnya sudah tepat, maka kusampaikan keinginanku merantau ke Amerika pada paman, ia langsung tak setuju. Ia membujuk aku dengan mengatakan bahwa Hendro mau menipuku. Ketika aku bersikeras ingin pergi kesana, sekaligus kusampaikan niatku untuk meminjam uang sejumlah 40 juta rupiah, paman berbalik marah. "Kamu ponakan celaka ...Apa yang membuat otakmu diracuni iming-iming Amerika? Selama ini kamu buang-buang uang ibumu hanya untuk ngurus visa yang nggak ketahuan juntrungannya. Sekarang kamu minta pinjam uang paman; bukankah kamu tahu semua uang paman sudah habis buat beli mesin cetak, komputer grafis, dan peralatan lain? Niatmu nggak berkah;.. mau jadi gelandangan di sana??"
Aku tak menjawab. Aku hanya diam dan pergi meninggalkan paman di ruang makan. Di dalam kamar aku merenungkan kembali niatku pergi ke Amerika. Ada rasa berdosa ketika tiba-tiba aku meninggalkan semua apa yang telah aku rintis bersama paman dalam memajukan usahanya. Disisi lain ada perasaan menggebu-gebu dalam diriku, keinginan untuk menjamah Amerika. Entah kekuatan gaib apa, ibarat Amerika adalah seorang gadis molek berkaki jenjang, sungguh membuat aku gelap mata ingin memburunya.  Kuhitung-hitung jumlah tabunganku, hanya ada 30 juta. Sementara Hendro mematok harga 60 juta, aku berpikir keras bagaimana cara mencari sisa kekurangannya.
Waktu terus berjalan dan aku dikenalkan Hendro kepada Pak Amin saudara sepupunya yang katanya "orang dalam" yang akan membantu dan mendampingi aku untuk mengetahui seluk beluk bekerja di kapal pesiar. Sementara aku berpikir keras mencari pinjaman uang, aku (karena awam dan tak tahu apa-apa tentang bekerja di kapal pesiar) ada baiknya menuruti anjuran Pak Amin untuk mengikuti kursus BST alias Basic Safety Training tentang dasar-dasar keselamatan kerja yang disyaratkan oleh calon-calon pelaut. Mulai dari menghadapi kebakaran dan cara mengatasinya, Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan, cara-cara pengamanan sampai menyelamatkan diri jika kapal mengalami musibah. Aku juga disuruh ikut tes Marlin, tes wajib bahasa Inggris untuk para kru kapal, secara nanti aku harus bisa berinteraksi dengan tamu-tamu kapal pesiar, juga dengan kru kapal yang berasal dari berbagai negara. Beberapa surat pengalaman kerja dari hotel amat mudah kupalsukan dengan bantuan komputer grafis dan mesin pencetak paman.
Untuk tes kesehatan dan biaya tiket pesawat aku memberikan uang 2000 dollar kepada Hendro. Dari beberapa cerita bahwa tiket pesawat ditanggung maskapai kapal pesiar, aku tak bertanya lebih lanjut kepada Hendro. Aku masih punya hutang 30 juta rupiah kekurangannya dan akan kulunasi setelah aku dapat "visa pelautku".
Lewat jasa Pak Amin, aku kini tinggal menunggu jadwal interview visa. Tes kesehatanku dinyatakan layak, dan kini tibalah aku mengantri untuk ketiga kalinya di depan Kedutaan Amerika. Kali ini bersama teman-teman pelaut yang akan wawancara visa. Ya jumlahnya banyak ... Orang Indonesia memang terkenal dalam dunia pelayaran. Puluhan ribu orang Indonesia tersebar ke berbagai penjuru dunia entah itu kapal pesiar, kapal tanker atau kargo. Ada yang sedang bersandar di Peru, Liverpool, Korea, atau Bahama, atau ada yang sedang cuti di kampung halamannya. Tak begitu salah (ternyata) dengan lagu Nenek Moyangku seorang pelaut, bahwa dari akar sejarahnya -- di dalam tubuh kita memang ada jiwa Bahari. Orang-orang kapal senang melihat cara kerja orang Indonesia yang rajin, penurut, dan bisa diandalkan.
Dan ketika rombongan calon pelaut satu persatu mulai diinterview, timbul rasa deg-degan di hatiku. Trauma menghantui diriku. Aku tak bisa membayangkan andai permohonan visaku ditolak lagi. Sudah puluhan juta kuhabiskan dan aku tak bisa berpikir lagi andai yang ketiga ini gagal.
Terdengar dari balik loket seorang lelaki bersuara ramah," Sugeng enjing..." selamat pagi."
Aku kaget orang bule itu kok ngomongnya bahasa Jawa," Saged basa Jawai to Pak? " -- Bapak bisa bahasa Jawa ternyata.
" Lha aku wis tau urip nang Jogja je .... Japhe methe dab !!! (slank bahasa jogja: kanca dewe .. mas)." Aku pernah tinggal di Jogja.
Aku tersenyum, rasa takutku cair sambil manggut-manggut keheranan. Rupanya dia tau aku dari Jogja, membaca pasporku, namaku yang Jawa (banget) - Tirto Projo, juga tempat dan tanggal lahirku yang asli Jogja.
Ketika dia membolak balik semua dokumen pelaut kepunyaanku, dia tak banyak mengajukan pertanyaan. " Mas Projo ... Slamet ...panjenengan siap - siap bidal Amerika njih." Mas Projo .. Selamat ... Anda siap-siap berangkat ke Amerika ya.  
" Oh matur nuwun Pak dhe." Oh terima kasih Pak dhe, jawabku kegirangan. Kali ini proses wawancara visa nampaknya sekedar formalitas belaka. Hatiku girang bukan kepalang. Keberuntungan sedang berpihak kepadaku, aku serasa terbang ke awan-awan, hatiku berdesir seakan mendapat perhatian dari gadis molek berkaki jenjang, ia tak bertepuk sebelah tangan. Aku seperti tersihir dengan kekuatannya, akan kukejar terus dirimu Amerika ...

 
Site Meter