Wednesday, May 9, 2012
KAMAR 216: PUISI NYOMAN KEPADA AKIRA SAN
Posted by Janu Jolang at 1:20 AM 0 comments
Wednesday, May 2, 2012
AKIRA SAN 2
(Terbit di Kompas.com, Jumat, 27 April 2012 )
Nyoman memutuskan pindah ke Hawwai, ia ingin mencari suasana baru setelah 13 tahun tinggal di New York. Ia sudah bosan dengan cuaca kota New York yang berangin dan beku di musim dingin. Ia juga kini jenuh dengan hiruk pikuk dan bunyi klakson mobil terjebak kemacetan yang memekakkan telinga, juga ketergesaan para Newyorker yang ditemui di sepanjang jalan. Raut muka mereka penuh kecemasan, terburu-buru seolah bursa saham Wall Street mau merampas uangnya, panggung Broadway tak punya lagi tempat duduk tersisa, dan rumah-rumah mode telah kebanjiran pengantri fanatik demi rancangan terbaru musim semi untuk segera dikenakan entah di Time Square, Central Park, Carnegie Hall, atau di klub-klub eksekutif Manhattan.
Kala malam ketika orang-orang pulang kerja menggunakan kereta bawah tanah -- wajah-wajah mereka tampak kuyu, seolah jiwa-jiwa sekarat yang kehilangan cahaya hidupnya. Sungguh Hutan Beton itu mampu menyandera jiwa-jiwa mereka untuk dijadikan zombie demi memperpanjang mata rantai makanannya.
Nyoman sudah tak tahan lagi berdiri di belakang sushi bar. Apa yang pernah diajarkan Akira tentang keindahan memotong ikan, membuat Nigiri dan Sashimi, dan kemudian menatanya dengan indah dalam piring-piring keramik, semua itu merupakan sebuah hasrat sekaligus kesabaran diri. Kini semuanya tak berarti lagi. Suara printer yang berderit mengeluarkan tiket order didengar Nyoman sangat memekakkan telinga dan memicu rasa muaknya. Sebaliknya, suara sirine polisi, ambulan, dan pemadam kebakaran yang dulu dibenci, yang meraung-raung sepanjang hari di penjuru kota New York, kini didengar Nyoman seperti suara: Hawaii... Hawaii... Hawaii, sebuah panggilan gaib yang membujuknya tinggal di sana.
+++++
Alo-ha Ha-waii, suara merdu seorang gadis Polinesia menyambut kedatangan Nyoman sambil mengalungkan Lei, bunga tropis warna warni ke lehernya. Selamat Datang di Hawaii. Dan udara pantai segera tercium bercampur butiran lembut pasir memenuhi paru-parunya. Suasana damai segera terasakan dalam kehangatan pagi sambil menikmati matahari terbit di pinggir pantai, seperti kebiasaannya dulu waktu masih di Bali.
Di Kailua Nyoman menemukan kembali masa kecilnya, berbaring di pantai sambil memandang air laut yang berwarna biru cerah hingga menggradasi sampai putih jernih. Atau memandang dengan takjub pelangi raksasa yang sering muncul diantara gunung dan pantai, ia ingin mengejar pelangi itu dengan skuter air dan menerobos di bawahnya.
Waktu berjalan pelan di Kailua, seperti pemalas yang memicingkan mata lantas tertidur kembali karena terbuai angin sepoi-sepoi diantara pohon kelapa dan segelas pina colada. Hidup serasa di taman surga -- tak lagi dikejar-kejar waktu. Tak ada lagi bunyi printer yang berderit mengeluarkan tiket order sampai menumpuk di lantai, tak ada lagi pelanggan yang marah karena pesanannya tak segera datang, tak ada lagi tagihan apartemen, credit card, tv kabel, atau telpon yang memusingkan kepala.
Waktunya kini dihabiskan untuk memancing, berenang, berselancar dan tidur-tiduran di pantai. Nyoman sekarang merasa seolah-olah menjadi Beach Boys, Anak Pantai yang enggan bersekolah karena semua keindahan hidup sudah tersaji di depan matanya, juga sensasi mendebarkan kala wanita Bule atau Jepang yang ditemuinya di pantai mengedipkan mata serta menawarkan permainan "budak dan tuannya", dan tak lama kemudian mereka sudah terlihat mesra berangkulan menyusuri tempat-tempat indah dan sakral di seantero Bali. Dan ketika malam menjelang, ia bisa menikmati kemolekan dan gairah tubuh tuannya. Sungguh itulah keindahan hidup yang diimpikan Anak Pantai.
Lantas keindahan hidup macam apa lagi yang akan dikejarnya?
Nyoman mulai bisa menandai Anak Pantai yang menyapa ramah dengan logat kental dan berat, "whas” up buddy", juga penduduk lokal yang sepertinya enggan bekerja dan hanya bermalas-malasan di tepi pantai. Sesekali mereka memulung kaleng-kaleng soda dari tempat sampah dan ditukar uang 5 sen sekaleng. Atau mencukupi hidup dengan merangkai bunga Kamboja dan daun Zaitun untuk kalung Lei. Andai mereka kelaparan karena tak punya uang, mereka tak perlu merasa khawatir karena banyak buah pepaya, pisang atau umbi-umbian di taman umum atau tepi jalan, dan semua boleh dipetik untuk bekal makan malamnya.
Nyoman juga mulai menandai wanita-wanita berbikini yang selalu menyelipkan bunga Sepatu ataupun Kamboja di telinganya. Dan hati Nyoman akan berdesir ketika bunga itu diselipkan di telinga kanan pertanda mereka masih single.
Seorang gadis Polinesia tinggi besar yang selalu menenteng papan selancar, berbikini biru dan hampir ditemui tiap hari di pantai itu melirik dan tersenyum padanya. Ia lantas menyapa gadis itu ketika istirahat setelah capai berselancar.
" Kamu pandai berselancar", puji Nyoman.
" Terima kasih. Kamu dari mana?"
" Aku pindah dari New York."
" Oooh... orang dari Mainland", kata gadis itu menyebut semua orang yang datang dari daratan Amerika berbeda ras dengan orang asli Hawaii. Dan ketika Nyoman melihat turis bule kanak-kanak menyelipkan bunga di telinga kirinya, ia jadi tertawa geli, “Kecil-kecil sudah nikah.”
+++
Untuk sekedar hidup Nyoman sering diminta membantu Ito San mengerjakan catering sushi, sushi party, atau memasok sushi To Go ke toko mini market. Bekerja dua hari atau tak terikat jadwal sangatlah nyaman bagi Nyoman karena sisa waktunya bisa digunakan untuk bermalas-malasan.
" Nyoman, malam ini ada kerjaan di hotel", kata Ito San dan Nyoman mengangguk.
Malam itu rombongan turis Jepang menyewa ruangan ballroom untuk berdansa dansi. Tak aneh Hawaii memang surga bagi orang Jepang untuk lepas dari beban pekerjaannya, tamasya bersama keluarga, berbulan madu bersama pasangannya, atau sekedar menghamburkan uangnya seperi terlihat di Downtown Honolulu, wanita- wanita Jepang yang bersliweran menenteng tas belanjaan mahal layaknya menenteng tas belanja pasar, menenteng Hermes, Chanel, dan Louis Vuitton, di kedua tangan dan lengannya seperti menenteng tas plastik berisi telur, sayur mayur, dan susu segar.
Malam itu di tengah kerjanya, Nyoman asyik memperhatikan seorang wanita sedang berdansa Salsa bersama pasangannya. Gerakan kaki wanita itu begitu lincah walau sepatunya berhak tinggi, juga pinggulnya yang bergoyang sexy seiring gerakan menangkap tangan pasangannya kemudian bertukar putaran, lalu mengalungkan tangan di leher lelaki gempal itu dan berputar kembali. Lantas mereka saling membelitkan tangan dengan rumit tanpa sekalipun menjadi kusut seolah ada trik khusus seperti gerakan pesulap Houdini melepas rantai yang membelit tubuhnya
Tanpa sadar Nyoman berdesis, " Akira San", Nyoman menggosok-gosok matanya seolah tak percaya dengan penglihatannya.
Dan ketika suatu kesempatan tiba, wanita itu datang ke meja buffet untuk mengambil sushi -- Nyoman menyapanya," Akira San?"
" Oh My God .... Nyomaaan", Akira berteriak sambil menangkupkan kedua tangan ke mulutnya. Ia masih tampak cantik dengan baju terusan putih transparan dan tak lupa syal ungu pendek melingkari lehernya.
"Kamu pandai menari Salsa Akira San", Nyoman sempat membaui wangi bunga melati di tubuh Akira dan angannya tiba-tiba diingatkan pada kenangan masa lalu yang kini malah bikin hatinya pilu. Akira selalu mengoleskan minyak wangi itu ke leher Nyoman dan setelah itu mengecupnya.
"Sedang apa kamu di Hawaii?", tanya Akira.
"Aku pindah dari New York", kata Nyoman.
"Tak sangka Tuhan mempertemukan kita lagi ", raut muka Akira setengah tak percaya.
"Sedang berlibur di sini Akira San?"
" Aku ikut rombongan klub Salsa."
" Akira san ... hmm...sudah menikah?", tanya Nyoman ketika melihat ada bunga Kamboja terselip di telinga kiri Akira.
Akira menggelengkan kepalanya, " Aku datang bersama Morimoto", sambil ia menunjuk seorang lelaki yang menurut Nyoman berbadan gempal dalam baju Hermes ketatnya, bersepatu Gucci, berambut ikal dan berkacamata mahal. Ia sedang asyik ngobrol dengan teman-temannya.
Dalam ingatannya, lelaki itu tak seelegan Al Pacino kala berdansa tanggo dalam film Scent of Woman. " Diakah pacarmu yang pernah kau katakan padaku?", dan Akira mengangguk.
Nyoman lantas teringat apa yang pernah diceritakan Akira dalam telponnya di masa lalu. " Dia seorang fotografer ", kata Akira.
Dan mata seorang fotografer ternyata sangat tajam untuk membidik Akira sebagai hal yang terindah tampak di matanya, seindah model-model bikini di pantai Lanikai, seindah bunga sakura yang bermekaran dimusim semi, atau selembut dan semanis kue moci yang berwarna warni.
" He is kind of male chauvinist for me" keluh Akira saat itu dalam percakapan telponnya.
Nyoman lantas membayangkan seorang lelaki Jepang yang menempatkan dirinya lebih superior dibandingkan perempuan. Yang ingin mengatur hidup Akira, yang mengharuskan tunduk pada aturan-aturan maskulinitasnya. Atau barangkali Akiralah yang seorang Harajuku.
Lamunannya buyar ketika Akira menegurnya, " Kalung itu masih kamu pakai Nyoman?", Akira terheran-heran. Kalung yang ia berikan dulu berbentuk matahari dan bulan yang melambangkan cahaya terang benderang, cemerlang -- sesuai arti namanya itu -- masih melekat di leher Nyoman.
" Iya"
" Nyoman tinggal di mana?"
" Tak terlalu jauh dari sini. Aku hampir tiap hari ada di pantai. Aku jadi Anak Pantai sekarang .. hehehe "
" Ooh ..Really....??? Baiklah Nyoman, emmmm... senang bisa bertemu dirimu", Akira segera kembali ke rombongan Klub Salsanya.
Dari jauh Nyoman memperhatikan mereka berdua asyik ngobrol diantara teman-teman Salsanya. Morimoto sesekali memperagakan rumitnya bermain tangan dalam Salsa, kemudian beralih memperagakan tarian Hula dengan gerakan pinggang yang lemah gemulai. Akira tertawa sambil memeluk Morimoto dengan mesra. Ada rasa perih yang lama kelamaan dirasa Nyoman persis seperti saat tangannya tersayat pisau sushi.
Pertemuan singkatnya dengan Akira mampu mengaduk-aduk perasaannya. Berhari-hari ia merasakan kegelisahan seolah tersedot ke mesin waktu yang menghadirkan dirinya di masa lampau. Di tempat indah dan sedamai surga di Kailua ini tiba-tiba dirasakan Nyoman bagai hidup di dalam neraka. Nyoman menyetel tape kencang-kencang sambil berteriak mengikuti suara tinggi Joe Lynn Turner, “ and I ...can't let you go, even thought it's o....ver...... I know your love is growing col...der”. Aku tak bisa melepaskanmu pergi walau semua sudah berakhir........ Aku tau cintamu mulai membeku. Dan Ito San kaget -- terbangun dari tidurnya lantas berteriak kencang," Bagero!!!"
++++
Pada suatu pagi tak disangka Akira menemui Nyoman yang sedang tiduran di pantai.
"Morimoto sedang ke Big Island motret lahar gunung berapi di laut. Mau temani aku jalan-jalan Nyoman? Aku suntuk sendirian"
"Aku siang ini mau berselancar ke pantai North Shore, Akira San. Musim dingin ombaknya sedang tinggi."
"Bolehkah aku ikut?", tanya Akira.
Nyoman mengangguk. Tak lama kemudian ia mempersiapkan segala perbekalan, menaruh papan selancar di atap jeepnya, dan sepanjang perjalanan ke pantai utara Oahu itu mereka tak banyak bicara, terasa ada sekat diantara mereka. Pemandangan indah melewati pegunungan dengan tebing-tebing terjal dan hamparan pantai membiru di kejauhan seolah dirasakan mereka seperti menonton film bisu. Telinga mereka tuli, lidah mereka kelu.
+++
Suasana mulai mencair ketika tubuh mereka sudah terendam air laut. Mereka seperti dua anak kecil yang barusaja kenalan, masih malu-malu, kemudian mulai akrab dengan saling membanggakan cerita pengalaman tamasya bersama orang tuanya. Lantas salah satu mulai menawarkan es krim, kemudian mereka mulai membangun benteng-bentengan pasir di pantai, dan tak lama mereka terlihat saling berkejaran, salah satu menghindar dari timpukan pasir karena ia telah merusak benteng temannya.
Akira terheran-heran ketika mengetahui Nyoman pandai berselancar, " You never told me "
" Aku dulu kerja di persewaan papan selancar di pantai Kuta", kata Nyoman.
Akira memperhatikan, untuk seorang peselancar amatir, Nyoman cukup nekat. Berkali-kali ia mencoba gerakan memutar (kadang salto) di atas ombak yang hampir pecah dan berkali-kali ia gagal hingga hilang ditelan ombak, terseret bersama papan selancarnya, dan muncul dengan luka berdarah di kakinya, juga lebam di dadanya. Akira tak menyangka Nyoman suka menantang bahaya. Menguji nyalinya seolah Bodhi yang sepanjang hidupnya menanti gelombang laut Bells bercampur angin Tornado mencapai titik tertingginya, dan kemudian secara sukarela menyerahkan nyawanya untuk dilumat ganasnya ombak “Sungguh bukanlah hal yang tragis mati karena sesuatu yang kamu cintai”
Matahari hampir tenggelam, pemandangan sungguh menakjubkan, mereka berdua berjalan sepanjang pantai. Akira menggamit lengan Nyoman dengan mesra. Tiba di tempat sunyi Akira merangsek dan mencumbui Nyoman.
" Love or Lust?", tanya Nyoman seolah seorang lugu mempertanyakan sebuah batas jelas antara cinta atau nafsu.
Akira membekap mulut Nyoman mengisyaratkan tak usah banyak bertanya. Nyoman tak sadar telah menjatuhkan papan selancar dari pegangannya, lalu Akira rebah di atasnya sambil menarik Nyoman dalam rengkuhannya. Akira tak sabar mengulangi kisah cintanya dahulu, dan kini mereka seakan - akan berselancar tandem di ganasnya ombak laut Pipeline, menunggu gulungan ombak datang sambil mengayuh tangan kuat-kuat, dan secepat kilat kedua kaki mereka berdiri di atas papan selancar, kemudian meliuk-liuk di antara ombak yang menggulung setinggi 7 meter. Nyoman mendekap erat Akira dari belakang sedangkan tangan Akira bergerak gerak mencari keseimbangan melewati lorong-lorong ombak yang sewaktu-waktu menghempaskan tubuh mereka berdua.
Mereka bersorak- sorai gembira telah berhasil keluar dari gulungan ombak yang ganas itu. Mereka lalu beristirahat dengan damai.
" Masihkah kau ingat doa kita dulu saat melempar koin di kolam belakang pura?", tanya Akira.
" Aku selalu ingat, Akira San. Kenapa kamu mengingatkan hal itu?"
" Entahlah Nyoman ..... Aku merasa sangat lelah bersama Morimoto. .... Ah sudahlah Nyoman ... Lupakan pembicaraanku tadi"
" Kalau Tuhan berkenan, suatu saat kita akan menikah Akira san."
Akira menganggukkan kepala, raut mukanya tampak galau.Dikejauhan terlihat tenda-tenda mulai didirikan memenuhi pantai. Beberapa anak-anak muda asyik bergoyang reggae dari tape boom box yang dibawa dari rumah, anak-anak beserta ayahnya asyik melemparkan pancing ke laut, dan si ibu menyiapkan tungku api sambil menunggu mereka di tenda. Malam kian larut, bulan tampak bulat. Anak-anak sudah masuk tenda, muda - mudi sudah tertidur pulas di pasir pantai, sayup - sayup terdengar petikan ukulele mendendangkan melodi Blue Moon.
Mereka kemudian bercinta lagi. Seolah gelombang ombak pantai Pipeline yang sedang meninggi di bulan Februari tak akan pernah ada habisnya -- bahkan tak pernah lelah menghempaskan ombaknya ke tepian pantai.
++++
Ketika terbangun dari tidurnya Nyoman menyadari tak ada Akira di sebelahnya, ia hanya menemukan tulisan merah di papan selancarnya memakai lipstick berbunyi:
"Thank you for loving me", tertanda Akira. Aku yang selalu mencintaimu.
Nyoman tersenyum. Apa yang dialaminya bersama Akira seolah bagai mimpi di siang bolong. Baginya kini tak ada gunanya melihat masa lalunya bersama Akira kecuali masa lalu itu akan menjadi sebuah pijakan ke masa depan. Seperti berselancar, ia akan berbalik arah untuk menyambut ombak yang belum pecah, dan dengan demikian ia akan mendapatkan momen gerak ke depan. Dan kini ombak yang datang bahkan tak kuat mengangkat papan selancarnya untuk melaju.
Cinta itu masih ada – tapi berupa air laut yang tenang, tak ada ombak. Hanya diam ditempat, terapung-apung.
Sejenak Nyoman termenung. Ia tiba-tiba berdiri dan kemudian meneriakkan kata-kata dengan nada panjang," Alo----ha---- Akira San."
Mengenang masa lalu bagi Nyoman kini terasa sangat sulit, sesulit sejarawan merekonstruksi sejarah penjajahan Jepang di Indonesia. Banyak kejadian, tempat, dan orang-orang yang terlupakan, bahkan terbunuh.
Dan dalam bahasa Hawaii Aloha bisa juga berarti "Good Bye". Selamat Jalan Akira San ....
Dan Nyoman segera menceburkan diri ke pantai bersama papan selancarnya ...
Janu Jolang,
pengelola Blog Suara Rantau: http://suararantau.blogspot.com/
Washington DC, April 2012
Posted by Janu Jolang at 3:25 PM 0 comments
Thursday, April 26, 2012
Jangan Kau Pisahkan Kita
Andai kautancapkan belati
di dadaku
(Janu Jolang)
Posted by Janu Jolang at 1:28 AM 0 comments
Monday, April 9, 2012
BALON PIE, SOCCER, SEPAK BOLA
Balon pie dalam bahasa Spanyol berarti football atau sepak bola.
Disela-sela waktu kerja ketika restoran sedang senggang Lazaro si tukang masak, Jose si tukang cuci piring, dan aku -- suka ngobrol tentang sepak bola. Kita suka membanding-bandingkan kehebatan antara Lionel Messi dengan Cristiano Ronaldo. Zinedin Zidan dengan Ronaldo the Phenomenon, Atau Pele dengan Maradona. Gocekan maut mereka mampu menyihir penonton -- baik di stadion maupun layar tv -- sampai terbengong-bengong , seolah-olah bola lengket di kaki, meliuk-liuk diantara pemain lawan, (sambil aku memperagakan gaya naik sepeda " bicicleta " khas Ronaldo) serta menceploskan si kulit bundar itu ke gawang. Gol-gol indah itu terlahir dari kelincahan dan kekuatan kaki-kaki mereka.
Ketika Jose yang asli Honduras bertanya tentang bagaimana sepak bola di indonesia, apakah ada kompetisi liganya? Maka kujawab ada. Dan dia tanya lagi, kenapa tak pernah kedengaran nama Indonesia di pentas Piala Dunia? Nah kini aku kebingungan menjawabnya.
Honduras yang notabene negara kecil dan tak kaya, dengan iklim juga postur tubuh dan kulit mirip orang Melayu, tapi timnas sepakbolanya bisa berlaga di Piala Dunia, bahkan sudah dua kali tahun 1982 dan 2010, sungguh sebuah prestasi yang membanggakan dan membuat diriku iri.
Juga Mexico negaranya Lazaro, yang selalu melahirkan legenda sepak bola seperti Hugo Sanchez, Jorge Campos, Chicharitto, dan tim yang cukup disegani di dataran Amerika Tengah ataupun benua Amerika, dan timnas sepakbolanya sudah 14 kali lolos ke putaran Piala Dunia, aku jadi makin iri dibuatnya.
Jujur aku nggak mau kalah gengsi di hadapan Jose dan Lazaro, karena kita sama-sama berasal dari negara dunia ke 3, tapi apa yang mau kuceritakan tentang kehebatan Timnas Indonesia? Pernah kuceritakan secara guyon bahwa sepak bola di Indonesia berbeda dengan Mexico atau Honduras. Sepakbola di Indonesia main sepakbolanya hanya 10 menit, sisanya untuk pertandingan karateka alias berkelahi. Mix Sports, campuran antara sepak bola dan karateka, seperti pertandingan hoki es di Amerika di liga NHL, dimana sering para pemainnya baku hantam sampai kelelahan, dan baru kemudian dilerai oleh sang wasit. Untung mereka berdua tak percaya dengan apa yang kuceritakan dan mengira aku hanya bercanda.
Andai kuceritakan dengan serius hal sesungguhnya yang terjadi dengan persepakbolaan Indonesia yang kacau balau, jelas aku malu sendiri. Akankah kuceritakan bagaimana para suporter pingin jadi wasit pertandingan? Dengan merangsek ke lapangan untuk mengejar-ngejar wasit? Atau lain waktu para suporter turun lapangan membela jagoannya yang gemar berkelahi di lapangan?
Atau akankah kuceritakan keberingasan suporter saat mereka menjarah toko kelontong, warung makan, dan melempari rumah- rumah warga dari atas kereta, atau tak segan-segan menganiaya suporter lawan hingga memakan korban jiwa?
Bermain sepak bola setengahnya adalah bakat lahir, pemberian Tuhan, God gifted. Selebihnya adalah membentuk mental juara, latihan keras, belajar giat tentang teknik-teknik sepak bola dan jam terbang tinggi dalam sebuah kompetisi yang ditata secara profesional. Jangan harap akan mempunyai tim dengan talenta hebat walau penduduk kita 250an juta orang. Bahkan itu lewat program khusus seperti Pemusatan Latihan di Itali atau proses naturalisasi menjadi WNI.
Aku lantas teringat "joke" lucu tentang gaya bermain sepak bola yang sampai sekarang sepertinya masih relevan. Kalau Brazil terkenal gaya sepak bola Sambanya, Argentina gaya Tanggonya, Belanda Total Football, Itali dengan Cattenacio. Maka Indonesia terkenal dengan gaya Salah Umpannya.
Atau memang jangan-jangan genetik bermain bola bukan kepunyaan ras Melayu? Karena selama ini terbukti bangsa Melayu lebih lihay menggunakan tangannya daripada kakinya, dengan lahirnya bakat-bakat besar perbulutangkisan di tanah Melayu seperti Rudi Hartono, Liem Swie King, Tjun tjun - Johan Wahyudi, Taufik Hidayat, Alan Budi Kusuma, Verawati, Susi Susanti.
Atau olah raga sepak bola memang tak cocok dengan karakter emosi bangsa Melayu yang temperamen dan mudah menyerah? Atau memang pengurus sepak bolanya yang tak profesional dalam menjalankan organisasi persepakbolaan? Sehingga dari dulu yang ada hanyalah kericuhan yang tak ada habis-habisnya? Tuhan tahu mana yang terbaik ....
Janu Jolang
Catatan Saku Imigran Gelap di Amerika
Posted by Janu Jolang at 12:36 AM 0 comments
Thursday, March 22, 2012
CINTA SEJATI
Adakah Rahwana mengira itu cinta sejati
(Janu Jolang)
Posted by Janu Jolang at 1:35 AM 0 comments
Sunday, March 4, 2012
AKIRA SAN
(Terbit di Kompas.com, Selasa, 28 Februari 2012)
Wanita Jepang itu selalu duduk di sushi bar, berbincang akrab dengan kepala sushi chefnya Nyoman, di sebuah restoran Jepang di daerah Manhattan New York. Akira lain dari kebanyakan wanita Jepang yang biasa dididik orangtuanya untuk selalu menjaga jarak dengan orang lain, karena itu tentang sebuah kehormatan diri, untuk tak terlalu akrab dan tertawa berlebihan, tangan harus menutup ke mulut. Nyoman merasa kaget karena sepanjang 12 tahun bekerja dibelakang sushi bar tak ada seorang wanita Jepangpun yang sengaja duduk di sushi bar kecuali Akira.
Andai ada yang menggugurkan kemustahilan itu atau secara kebetulan menjadikannya mungkin, itu karena alasan sederhana tatkala Akira terheran - heran melihat sajian tuna roll pesanannya berbentuk bunga Sakura. Akira lalu minta pindah duduk di sushi bar. Setahu Akira hanya kakeknyalah yang bilang sushi bunga Sakura ini khusus ditata spesial untuk cucu kesayangannya, keluar dari pakem menata sushi yang diagonal. Dan perkenalanpun akhirnya terjadi. Mereka bercakap dalam bahasa Inggris.
“ Where did you learn sushi?”, tanya Akira
“ He was a head sushi chef at this restaurant, Mr Ito ”, jawab Nyoman
Akira berpenampilan seperti anak muda Harajuku. Mewakili generasi pemberontak yang penuh semangat, mereka bebas berdandan apapun, atau model rambut apapun, tak ada trend rambut Lady Di memperbaharui era Kucir Kuda, atau potong rambut Poni lebih tua usianya dari rambut Demi Moore. Semuanya membaur jadi satu. Tak ada kata kuno alias ketinggalan jaman dalam kamus Harajuku.
“ Akira San kerja di mana?”, tanya Nyoman
“ Aku hanya berkunjung. Urusan bisnis. Summer besok aku balik ke Jepang.”
Akira tinggal di apartemen seberang jalan. Ia selalu menyempatkan mampir untuk makan malam sambil ngobrol dan memperhatikan Nyoman membuat sushi, seolah ia kembali mengenang masa kecilnya ketika diakhir pekan seharian ia bercengkerama dengan kakeknya pemilik kedai sushi di Ueno.
Kakeknya mengiris ikan tuna tipis tipis, atau memotong seekor ikan Salmon, dan ia selalu mendapatkan panggang kepala Salmon yang lezat untuk makan siangnya. Tapi Akira selalu jijik ketika kakeknya sedang mengurusi liver ikan Monk, ikan purba berwajah monster yang hanya diambil hati atau ekornya, dan sisanya dibuang begitu saja. Liver ikan Monk dipenuhi cacing cacing yang masih hidup, dan kakeknya mencabuti satu-satu dengan pinset. Akira menjerit ketika kakeknya menakut nakuti dirinya sambil menyodorkan cacing itu ke mukanya.
Bagi Nyoman, profesi Sushi Chef hanya sekedar pekerjaan, sekedar mencari uang buat hidup di perantauan. Tak pernah terpikirkan dalam benaknya Sushi sebagai sesuatu yang serius, penuh detil dan indah. Orang Jepang paling bisa membuat sesuatu yang simpel menjadi spesial, berharga mahal, memberi kesan seolah-olah perpaduan cita rasa makanan dan budaya bercitra tinggi.
Membuat gulungan sushi bagi Nyoman sekedar menaburkan segenggam nasi di atas lembaran Nori lantas meratakannya dengan jari jemarinya, sesederhana gerakan memijit, tapi barangkali bagi ahli kuliner seolah membayangkan gerakan jari jemari rumit yang memainkan piano Beethoven Symphony No. 5. Atau Akira melihatnya seolah gerakan tangan Nyoman memijit-mijit lehernya, menepuk-nepuk serta mengelus bahunya dengan lembut. Semua itu baru disadari Nyoman karena Akira telah mengajarkan keindahan itu.
*****
Bagi orang Jepang seusia Akira -- generasi setelah Perang Dunia II, dia menyandang beban moral tersendiri ketika Tuan Wang asal China secara sengaja mengungkit-ungkit pembantaian tentara Jepang di China. Atau cerita Nyoman tentang slogan “Saudara Tua” saat Jepang masuk Indonesia. Mereka datang dengan propaganda yang bersahabat: Jepang pelindung Asia, Jepang Pemimpin Asia dan Jepang cahaya Asia, tapi tentara Jenderal Hitoshi Imamura itu kemudian tega merampas dan memperkosa saudara mudanya, bahkan membunuh mereka dengan kejam.
“ Maafkan aku Nyoman. Aku tak mempelajari sejarah, maafkan aku yang bodoh ini.”
“Ooh maaf Akira San, aku sekedar bercerita, tapi kalau itu membuatmu merasa nggak nyaman ...”, kata Nyoman. Ia menyadari Akira San merasa terintimidasi. Raut mukanya merana seolah menunjukkan permintaan maaf atas kekejaman tentara Jepang kakek moyangnya dahulu.
Bagi Nyoman Akira tak pernah sekejam tentara Jepang, atau berusaha mempropagandakan dirinya sebagai Saudara Tua seperti tahun 1942, tapi sungguh perhatian dan kasih sayang Akira dirasakan benar benar sebagai saudara tuanya. Nyoman sangat menghormati Akira, maka dibelakang namanya ia selalu menambahkan San. Akira San, ungkapan hormat untuk seseorang yang dituakan. Akira San sungguh merupakan jelmaan Dewi Cinta sekaligus kakak perempuan yang tak pernah dimilikinya.
“ Watashiwa Akira San o aishite imas”, Nyoman gugup mengutarakan cintanya pada Akira.
Akira tersenyum, “ Where do yo learn Japanese, Nyoman?”, Dewi Cinta itu sungguh tenang seolah badai Tsunami takkan pernah membuatnya takut, Nyoman hanyalah badai asmara seorang lelaki lugu yang gelombangnya takkan menelannya, memporakporandakan, atau membuatnya binasa.
Pertemuan singkat itu telah menaburkan benih-benih cinta diantara dua anak manusia, berbeda bangsa, budaya, bahkan dimasa lampau pernah punya sejarah kelam penjajahan. Seolah cerita cinta selalu menghapus beribu-ribu dendam, amarah, melebur sekat-sekat perbedaan, dan selalu menemukan jalan untuk bersatu.
Akira sungguh sangat suka melihat cara Nyoman menyayat ikan Ekor Kuning. Sayatan pisau baja birunya itu tipis, tegas, dan ngilu melihatnya. Apalagi ketika pisau itu beraksi memotong daun bawang sungguh irisan itu tipis – tipis dengan gerakan pisau yang maju mundur sangat cepat, secepat kilat di musim hujan, mata Akira tak mampu mengikuti gerakannya, dan kecepatan itu membuatnya terperangah. Dengan cara berbeda pisau itu bisa mencacah timun dengan garang, menghasilkan setumpuk timun irisan jullien, sungguh irisan itu tipis dan sangat rapi. Nyoman memainkan pisau baja birunya sesempurna Samurai memainkan pedangnya.
******
Mereka berdua baru mendarat di Narita, transit sebelum melanjutkan perjalanan ke Bali. Malam telah larut. Dengan taxi limosin mereka pergi ke Tokyo. Dalam hingar bingar lampu iklan Shinjuku, diantara karaoke bar yang berserakan dan mesin-mesin pachinko yang diawasi geng Yakuza kedua pasang jiwa yang dimabuk asmara itu menerobos di sela-sela pejalan kaki, menyeberangi zebra cross yang saling berhimpitan akibat sempitnya persimpangan jalan, beberapa dari mereka adalah pegawai kantor masih dengan pakaian jas lengkap sambil menenteng tas kantor yang sempoyongan sehabis menenggak sake. Dua sejoli itu menelusuri lorong gang dan menjumpai sebuah kedai ikan Fugu. Ya .. waktu makan malam telah tiba. Menu ikan Fugu adalah sebuah tantangan yang mendebarkan bagi Nyoman.
Akira kalem dan suka menentang bahaya. Ikan Fugu alias ikan Balon adalah ikan beracun yang dalam darah dan organ pencernaannya sanggup membunuh 30 orang sekaligus. Kekuatan racun itu 1200 kali lebih mematikan dibandingkan cianida. Sebut saja mulai dari aktor Kabuki ternama yang mati hingga gelandangan yang mengais sampah di sudut taman Ueno. Menu ini sampai kapanpun dilarang masuk dapur Kerajaan..
“Lets try Fugu 5 Ways “, kata Akira. Lima hidangan kenikmatan sekaligus mematikan. Hati Nyoman berdebar-debar ketika di meja telah tersedia irisan tipis ikan Fugu mentah tertata rapi melingkar dalam piring keramik.
“ Try it Nyoman .. “, Akira seolah menantang nyalinya.
Nyoman ragu-ragu, hatinya berdebar-debar. Untuk apa aku memakan ikan itu, lantas mati, dan tak bisa bertemu Akira lagi? Apakah Akira sengaja ingin meracuninya? Atau ingin mengejeknya karena ia seorang penakut? Andai ia disuruh memilih, mending ia akan memesan sup ramen atau belut panggang saja.
Akira kemudian mengambil sehelai dengan sumpitnya dan memasukkan ikan Fugu itu ke dalam mulutnya.
” Is it good?”, tanya Nyoman.
“ Ouuuuch ... deadly good Nyoman”, desah Akira sambil memejamkan matanya.
Akira kemudian mengambil lagi dan disodorkan ke mulut Nyoman, ia mengunyah perlahan lahan daging itu dengan berdebar-debar. Rasanya renyah dimulut dan kenyal ketika dikunyah. Adrenalinnya tiba-tiba mengisyaratkan sebuah bahaya sama persis ketika orang Jawa nekat dan mati karena makan Tempe Bongkrek. Atau ketika Fugu goreng dengan sake manis itu masuk ke mulutnya, Nyoman mencecap rasa gurih yang mencekam seolah merasakan buah terlarang di Taman Eden. Akira membawa Nyoman ke tingkat ekstasi yang mendebarkan.
“ Wooow .. it is killing me ... it's so goood Akira San”, kata Nyoman seolah berlagak sebagai si Pemberani.
Dan ketika Akira menantang Nyoman untuk menikmati sajian terakhir, Fugu rebus campur sawi dan jamur, Nyoman merasakan kenyalnya daging itu membuat urat lehernya meregang kesakitan. Sejenak Nyoman memegang kepala bagian belakangnya, mengira racun tetrodotoxin sedang merenggut nyawanya, tapi kemudian Akira mengatakan racun Fugu hanya melumpuhkan otot-otot pernafasan.
Nyoman merasa lega. Diteguknya sake entah sudah berapa sloki, tubuhnya setengah melayang. Nyoman meracau sambil menirukan adegan lucu kartun Burt Simpsons, “Poison poison tasty fish.” Bagi Nyoman itu adalah pengalaman sensasional yang tak terlupakan.Sebuah puncak rasa sekaligus mendebarkan. Orang rela menantang bahaya bahkan rela menukar nyawanya.
Kedua sejoli itu mabuk berat, keluar kedai dan berjalan gontai karena pengaruh berbotol-botol sake Otokoyama, juga kelelahan perjalanan New York - Tokyo yang hampir 12 jam, dan taklama mereka menemukan Love love Hotel, hotel murahan untuk percintaan sesaat. Mereka tergeletak dalam kamar sempit dan tertidur pulas sambil berpelukan.
*****
Akira tak pernah lepas dari syal yang selalu melingkari lehernya. Biar musim berganti empat kali, ia akan memadukan syal yang dipakainya dengan jaket musim dinginnya. Atau tank top musim panas yang memperlihatkan busung dadanya, dipadu celana pendek sepangkal paha, maka kesempurnaan akan terlihat ketika orang-orang mengetahui cara berjalannya yang mirip setengah bebek, dan setengahnya macan lapar. Semuanya terasa indah karena dia seorang Harajuku, itulah ciri Akira, bahkan ketika dia memakai kawat gigi sedangkan giginya sudah rapi bagi ukuran orang Jepang, dan ia selalu mengganti warna karetnya setiap dua bulan sekali, orang menyadari bahwa itu sebagian dari gaya Akira. Ketika Nyoman menyadari ada sisa daging Wagyu yang lembut telah berpindah ke mulutnya, ia mengutuk dalam hati -- ini gara-gara trend kawat gigi Akiralah sehingga ia mendapati sisa-sisa daging dalam mulutnya.
Pesawat mereka telah mendarat di Bandara Ngurah Rai. Nyoman tak sabar ingin cepat sampai kampung halamannya, tak sabar ingin bertemu ibunya, mengenalkan Akira pada keluarganya. Atau tak sabar ingin bermain ke pura di tengah pantai di desanya saat air sedang surut, ketika ia bermain bersama teman-teman masa kecilnya, ketika melihat ibu mereka berjalan beriringan dengan kain kebaya warna warni membawa sesajian di atas kepala dan bersembahyang di pura untuk memohon agar dagangannya laris. Juga ketika turis-turis meminta berkah dari air suci, atau kemudian mereka berlari - lari menuju tebing-tebing pantai dan di bawah pohon kamboja mereka menikmati pemandangan saat matahari tenggelam. Sangat indah dan mentakjubkan.
Atau ketika warga kampungnya membuat boneka raksasa dengan muka seram, berambut gimbal, gigi bertaring tapi mempunyai payudara yang montok, seolah boneka raksasa itu mewakili roh jahat yang menggoda sekaligus mematikan, untuk kemudian pada malam harinya warga kampung mengarak Ogoh-ogoh itu keliling desa dan kemudian membakarnya. Akira sangat menikmati ritual itu sambil berpegangan erat di lengan Nyoman.
Hari-hari terasa indah bagi mereka, ingin rasanya waktu berhenti, atau berjalan secara slow motion, secara perlahan, sehingga mereka berdua dapat memaknai keindahan itu. Nyoman mengajak Akira ke sebuah pura kecil di tetangga desanya. Ada mata air tak pernah kering selama beratus-ratus tahun yang dipagar jeruji besi, juga batu-batu lonjong yang dibebat kain putih sehingga mirip bayi yang digeletakkan berjajar.
“ Balik badanmu Akira San. Pegang koin ini dan pejamkan matamu. Mintalah sesuatu yang kamu inginkan kepada Dewa. Setelah itu jentikkan koin ditanganmu ke kolam di belakangmu. Dewa akan mengabulkan permintaanmu andai koin itu masuk ke kolam.”
Akira melakukan apa yang diperintah Nyoman, memejamkan mata dan melemparkan koin itu dan berhasil masuk ke dalam kolam. Nyoman kemudian melakukan hal yang sama dan berhasil. Keduanya bergembira layaknya kakak adik yang baru menemukan permainan mengasyikkan. Akira bagi Nyoman adalah “partner in crime”, kakak yang selalu melindunginya, kakak yang selalu menyelamatkan dirinya dari amarah bapak ibunya. Ia tak pernah mengeluarkan ancaman seperti ibunya yang tak tahan melihat kebandelannya. Juga tak pernah mengecewakan dirinya dengan bilang tidak kepadanya.
“ Akira san, aku memohon pada Dewa ingin menikahimu.”
Akira tersipu sambil tak percaya, “ Really?? Permintaan kita sama Nyoman. Semoga Dewa mengabulkannya.”
*****
Malam sedang purnama, air pasang, ombak ganas menggulung, gemuruhnya memecah batu karang, badai menghempas memporak porandakan rumah - rumah kayu. Dalam kerlip cahaya lampion, wanita berkimono putih itu mengiris ikan tipis - tipis, lantas dengan hati-hati mencelup sedikit kecap asin lalu cuka dan memberikan pada dirinya. Sudah berkali-kali Nyoman mengimpikan Akira dalam tidurnya. Mimpi buruk itu selalu muncul menggantikan perbincangan yang telah lama tak dilakukan mereka berdua.
Ketika Nyoman menelpon, Akira lebih sering mengatakan,“ Aku sedang sibuk, Nyoman.”
Nyoman lantas teringat perpisahan terakhir mereka di Bandara Sukarno Hatta ketika Akira akan pulang ke Tokyo dan Nyoman balik ke New York. Nyoman tak mengira Akira yang biasanya tenang dan tegar tiba-tiba tak kuasa meneteskan airmatanya dan memeluk Nyoman erat sekali seolah tak ingin berpisah. Kesedihan itu tergambar seolah mereka takkan pernah bertemu lagi. “Como si fuera esta noche la ultima vez”, sepertinya malam itu adalah pertemuan terakhir mereka. Sepertinya rintihan itu mirip Andre Bocelli saat menyentuh nada tinggi diakhir birama Besame Mucho, benar-benar menahan kesedihan yang amat dalam untuk tak bertemu lagi.
Waktu merubah segalanya.
Andai benar sangkaan Nyoman bahwa cahaya akan luruh oleh kekuatan gravitasi, maka cahaya cinta Akira mulai meluruh secepat cahaya melintasi Tokyo - New York yang datangnya bertubi-tubi 27 kali sedetik. Nyoman merasakan seolah ia ditampar api cinta yang membuat dirinya petinju KO akibat pukulan bertubi-tubi. Cinta itu membakar jiwa raganya bahkan ketika musim dingin tiba, cinta itu mampu melelehkan gundukan – gundukan salju di perbukitan.
Lama kelamaan Nyoman merasakan cahaya cinta itu mulai melemah ketika melintasi Mongolia, Kazakhtan, Austria, Prancis, dan luruh ketika menyeberangi Samudera Atlantik tertarik oleh kekuatan maha dahsyat ke dalam palung-palung yang dalam dan beku.
Ketika telpon berdering dan Akira memberitahu Nyoman bahwa dirinya telah menjalin hubungan cinta dengan lelaki lain. Nyoman tiba-tiba patah hati. Hatinya bergemuruh seperti gunung Merapi ingin meletupkan lahar, membuat dadanya ingin meledak. Beribu kupu-kupu terbang memenuhi perutnya.
“ Why ... Akira San?”
“ Aku tak kuat menanggung derita cinta berpisah jauh darimu Nyoman.”
“ You always sing to me Akira San, I will be right here waiting for you. Do you remember ?”
“ Forgive me Nyoman.... I am sorry ...”
Terdengar nada telpon putus. Nyoman termangu. Hatinya kembali melayang ke masa lampau ingat tatkala ia menggaris nama mereka berdua di pasir pantai, berlari-lari mendekat ke air mata suci dan meminta berkah dari para pendeta, membasuh wajah dengan keduabelah tangannya, berjingkat-jingkat menuju gua tempat ular laut penunggu pura, dan tiba-tiba Akira pergi begitu saja meninggalkannya.
Nyoman sangat marah. Akira telah meninggalkan ia dalam kesendirian di pura itu. Ia ingin segera memburunya pulang ke rumah. Dan tatkala Nyoman menemui Akira sedang asyik bermain dengan boneka kesayangannya. Ia ingin segera menghambur menumpahkan kemarahannya, memukuli sekenanya, sampai puas, sampai lelah, dan ia lantas mendekap Akira, menyandarkan kepalanya pada dadanya, sambil menangis sesenggukan.
Nyoman merasakan kesepian yang mendalam. Baru kali ini ia merasa nyali merantaunya hilang setelah 12 tahun bekerja di Amerika. Masa depannya seolah kelam, bahkan ia sampai ketakutan memikirkan hari esok. Nyoman ingin waktu berhenti diam saja, tak bergerak. Tak ada esok atau lusa.
Entah sudah berapa lama Nyoman dalam kemurungan, tapi kemudian ia teringat ibunya, juga tanah Bali dimana ia lahir. Mereka mengajarkan sebuah kearifan dalam norma-norma keluarga. Kakak punya derajat yang dituakan, dihormati, ia adalah Nyoman anak ketiga, masih ada Made dan Wayan di atasnya. Ada hak istimewa sebagai kakak, hak yang tak bisa disanggah. Apapun tindakan yang diperbuat seorang kakak, Nyoman akhirnya menerima keadaan itu apa adanya, “taken for granted”, menerima Akira San dalam hirarki keluarga. Akira san adalah Harajuku. Tak ada istilah kuno atau ketinggalan jaman dalam hidupnya. Apapun itu sebuah kenangan indah, yang ada sekarang hanyalah semangat masa kininya.
Nyoman berusaha tegar, lagu sederhana dengan melodi ajaib dan indah Sukiyaki, Kyu Sakamoto dengan liriknya yang lugu menuntun kesedihannya untuk menepi.
Aku harus tengadah ketika berjalan (sambil bersiul)
Biar airmataku tak jatuh
Karena mengenang hari hari indah musim semi itu
Dan malam ini aku kesepian
Menghitung kaburnya bintang – bintang di langit (sambil bersiul)
Lewat air mataku yang menggenang
Karena mengenang hari-hari indah musim panas
Dan malam ini aku kesepian
Kebahagiaan bersandar di atas awan, Kebahagiaan ada di atas langit
Aku berjalan sambil menangis
Kesedihan terpancar pada bintang-bintang, Kepedihan terpancar pada cahaya bulan
Janu Jolang
Washington DC, Februari 2012
Posted by Janu Jolang at 11:29 PM 0 comments
Wednesday, February 15, 2012
TENTANG BAHASA
“Biarkata sudah 8 tahun di Amerika aku tetap saja punya kebiasaan menghitung uang (dalam hati) memakai bahasa ibuku, ji ro lu pat mo nem. Satu dua tiga empat lima enam. Rasanya mantep, nggak takut salah jumlahnya.”
Juga ketika marah karena ulah si Spanish gila teman kerjaku, sinyal gambar yang ada diotakku adalah binatang menggonggong dan keluar lewat makian dalam bahasa ibuku, Asu!!! Bukannya lantas dalam bahasa inggris, ... Dog!!! Malah lucu ...karena di sini anjing adalah binatang yang lucu dan punya derajat “kebinatangan” tinggi.
Masalah bahasa sangat komplek, menyangkut kerja otak yang rumit, juga kultur dimana kita dibesarkan. Aku jadi teringat sebuah kaos yang dikenakan orang hitam di stasiun kereta bawah tanah tentang definisi berpikir, “Think: Remembering, Sensing, Computing, Reasoning, Make decision, etc...etc.”
Ketika kita berpikir, apakah semuanya murni menggunakan bahasa ibu? Tidak juga.Kemampuan berbahasa seseorang berkembang lewat pengalaman dan pemahaman yang dari hari ke hari makin bertambah linier dengan pengalaman hidupnya. Aku pernah punya teman kerja bule yang bicara dan logatnya sama sama sempurna dalam dua bahasa, Spanish dan Inggris. Dan ternyata orang tuanya asli Argentina, dan dia lahir di Amerika.
Kata Wang Chuan si delivery man, pada kondisi yang spontan, atau seseorang mengalami sensasi psikis tertentu entah itu merasa terkejut, marah, sakit, atau gembira, orang cenderung kembali kepada bahasa ibunya. Bahasa pertama yang tertanam dalam otaknya dan telah terkoneksi dengan memori dasar yang pertamakali dialami. Aku jadi teringat lagu lawas Adie Bing Slamet yang populer di usia-usiaku, Mak Inem Tukang Latah (Eh... copot ..copot)
Ketika hal itu kutanyakan secara iseng kepada mBak Marmi, dan sebetulnya aku kurang kerjaan juga sehingga membuat mBak Marmi tersipu-sipu. Aku menjadi agak nggak enak hati.
Bukannya apa-apa, aku hanya penasaran tentang mBak Marni yang bahasa Inggrisnya terbata-bata (bukan maksud menghina) dan mempunyai suami orang hitam Amerika.
Sungguh aku merasa berdosa setelah menanyakan: Apakah dia masih menggunakan bahasa ibunya ketika bercinta dengan suaminya? Bukankah kata si Wang Chuan kalau kita mengalami sensasi psikis yang “nikmat” tentu akan berpulang pada bahasa ibunya? Tapi dalam hal ini mBak Marmi sudah mengalami akulturasi budaya? Juga bahasa?
Jawaban mBak Marmi begini,” Halaaah ana-ana wae pitakonane, dik.” (Halaaah ada-ada saja pertanyaannya, dik)
Jujur dalam hati tidak bermaksud “porno” atau pelecehan sexual, aku cuma ingin membandingkan antara kata-kata: Harder dengan Sing Cepet, I'm coming dengan Enak gilaaa. Mana yang spontan keluar dulu dari mulutnya.
Aaaah ..... karena aku tetap menghitung uang dalam bahasa ibuku, juga kandidat Doctor Mr. Wang Chuan berkata seperti itu. Maafkan aku mBak Marmi ....
Janu Jolang
Catatan Saku Imigran Gelap di Amerika
Posted by Janu Jolang at 12:48 AM 0 comments