Monday, June 29, 2009

CSIG di Amerika: PARADE GAY DAN LESBIAN LEWAT DEPAN RESTORAN

Seperti yang pernah aku singgung di catatan sebelumnya, restoran tempatku bekerja terletak di daerah 'ngumpulnya' Gay dan Lesbian. P Street diartikan mereka sebagai Jalan alat vital laki-laki dan istilah 'slank' untuk alat kelamin perempuan. Bulan Juni ini menjadi bulan spesial bagi kaum Gay dan Lesbian di DC, karena di bulan itu mereka punya hajatan pawai keliling kota. Temanya adalah CAPITAL PRIDE PARADE. Kebanggaan dan Kejujuran menjadi Gay dan Lesbian.

Kulihat dari jendela kaca restoran, pawai mereka sangat atraktif dan mencengangkan, walau nuansa politis-nya sangat kental. Rombongan terdepan dipimpin sekumpulan polisi yang berjalan disamping mobil patroli mereka dari Baltimore-MD, DC, dan Virginia. Kupikir mereka hanya mengawal jalannya parade, ternyata mereka ikut berpartisipasi. Ya, mereka para polisi Gay dan Lesbian. Salahsatunya adalah polisi perempuan pelanggan restoran sushi.

Masyarakat Amerika sudah bisa menerima orientasi sexual mereka, juga institusi tempat bekerjanya. Tetapi sedikit fakta, kalau merunut 40 tahun silam, justru polisilah yang sering merazia dan menangkapi para Gay.

Seorang Gay pelanggan restoran bercerita, dahulu pada tahun 1969 di akhir bulan Juni ada sebuah Gay Bar di New York bernama Stonewall yang sering dirazia oleh polisi. Karena jengkel atas seringnya mereka digrebeg, diperlakukan kasar dan diskriminasi – maka kemarahan para gay tak bisa dibendung lagi. Ratusan Gay dan Lesbian mengepung barikade polisi di depan Bar dan memprotes tindakan mereka. Teriakan “Gay Power” berkumandang di jalan-jalan. Selanjutnya botol beer, kaleng soda, dan lainnya berhamburan melayang ke arah polisi. Kekacauan dan kerusuhan akhirnya tak bisa dihindari. Beberapa polisi terluka, kemudian Polisi anti huru – hara datang untuk menghalau para Gay yang berubah beringas, beberapa terkena pentungan dan terluka, dan puluhan lainnya ditangkapi. Justru dari tindakan represif polisi itulah yang menginspirasikan kebangkitan kaum Gay di Amerika. Keesokan paginya seribu orang baik gay atau para simpatisan melanjutkan protes dengan arak-arakan sambil meneriakkan yel – yel “Gay Power” di jalan-jalan. Pergerakan dimulai, bangkit menuntut dihapuskannya perlakuan diskriminasi atas mereka.

Dan 40 tahun berlalu gerakan mereka makin politis, menjangkau ke ranah hukum. Banyak dari peserta pawai membentangkan spanduk dengan slogan berbunyi:
MARRIAGE EQUALITY IN DC NOW!!

Ya, mereka menuntut persamaan hak dalam masalah perkawinan. Perkawinan Sejenis alias Same Sex Marriage. Kulihat salahsatu rombongan pawai 'membawa nama' sebuah gereja L yang membentangkan spanduk bertuliskan: GOD MADE RAINBOW (simbol Gay & Lesbian). Juga jemaat dari gereja E yang membawa spanduk berisi perjuangan Persamaan hak kaum Gay dan Lesbian dalam Perkawinan Sipil.

Timbul berbagai pertanyaan dalam benakku, apakah institusi gereja dan para pemimpinnya menyetujui dan mendukung perjuangan mereka? Atau sekedar simpati? Atau barangkali mereka tidak tahu sama sekali kalau jemaatnya ikut parade? Sepertinya semua agama memandang dosa dan tak bermoral terhadap perilaku homoseksual.

Perkawinan adalah institusi antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Perkawinan adalah “procreation”, wadah berlanjutnya keturunan spesies manusia. Lantas kalau Perkawinan Sejenis dibolehkan, tentu definisi Perkawinan sendiri secara hukum akan berubah.

Dan selanjutnya ini akan memicu keinginan minoritas orang untuk menuntut dilegalkannya Kawin Incest, Polygamy, Kawin Di Bawah Umur, atau Kawin Kontrak. Masalah lainnya yang menjadi pro-kontra adalah ketika timbul keinginan mereka mengadopsi anak, bagaimana ketika si anak mulai bertanya-tanya siapa ayah dan ibunya? Ketika Bu Guru menerangkan tentang arti sebuah keluarga, kenapa kedua orang tuanya punya peran sama sebagai ayah atau kebalikannya sebagai ibu? Bagaimana ketika tiba Hari Ayah atau Hari Ibu yang selalu diperingati, akankah mereka menggabungkannya menjadi Hari Orangtua?

Dan apakah kedua orangtuanya akan mengajarkan 'orientasi seksual' mereka terhadap anaknya? Atau membiarkan anaknya tumbuh dengan alami dan menemukan identitas seksual mereka? Semuanya bagiku merupakan tanda tanya, tapi ketika kulihat rombongan Rainbow Families DC yang terdiri dari anak2 kecil, remaja, dan orangtua melintas di depan restoran, terlihat mereka seperti layaknya sebuah keluarga yang normal-normal saja. Mereka bergembira ria, anak - anak mengayuh sepedanya, dan yang remaja beserta orangtua meneriakkan yel – yel seolah minta dukungan dan sesekali melemparkan kalung pelangi ke arah penonton. Bahkan kulihat mereka sepertinya mendapat dukungan pribadi dari Walikota DC, Adrian Fenty yang turut berparade jalan kaki sambil membagi-bagikan kalung pelangi.

Pawai tambah meriah, kini giliran wanita – wanita berpostur kekar dan berwajah keras mengendarai Harley Davidson sambil mem'bleyer' gas yang terdengar meraung-raung memekakkan telinga. Kalau melihat tingkah mereka aku lantas teringat rombongan motor gede di Jakarta. Barangkali karakter suara knalpot motor gede-lah yang membikin mereka merasa perkasa di atas sadel, meraung-raung seolah jalanan milik mereka. Dan diantara peserta parade, terdapat beberapa perusahaan swasta yang menjadi sponsor antara lain Suntrust Bank, SouthWest Airlines, Honest Tea dengan slogannya: Proud to be Honest, dan Jasa Cleaning service MAID TO CLEAN dengan slogan: LOVE GAYS – HATE DIRT.

Pawai tambah meriah. Kulihat melintas Truk panggung dengan para penari wanita yang hanya mengenakan bikini thong. Kata Wang Chuan si delivery man, menonton parade Gay dan Lesbian lebih mengasikkan ketimbang nonton parade hari Kemerdekaan Amerika. Kulihat para penari meliuk-liukkan badannya yang sexy tanpa rasa canggung sedikitpun. Sungguh mereka mempunyai daya magnet yang sangat kuat.

Berbeda di belakangnya, melintas Truk panggung, tapi kini berisi para penari pria yang memakai topi koboi lengkap dengan syal melingkar leher dan bersepatu boot. Karena khas gay, semua penarinya hanya memakai cawat ketat dan bertelanjang dada seolah sengaja ingin mempamerkan tubuhnya yang berotot. Mereka menarikan lagu populer tahun 80an berjudul YMCA oleh grup penyanyi Village People. Dengan gaya tari yang 'melambai' mulut mereka bernyanyi genit, “...It's fun to stay at the YMCA (2X) ... They have everything for young men to enjoy – You can hangout with all the boys ...”

Wednesday, June 3, 2009

CSIG di Amerika: STUPID CRIMES 2

Seorang mantan mafia, tukang jagal yang masuk dalam program perlindungan saksi, terbuka identitasnya gara – gara ia tertangkap kamera video sedang bertindak brutal terhadap dua pelanggan restoran Pizzanya dikarenakan mereka 'cerewet' mengenai makanan yang disajikan.

Dahulu kala, si Joe ini adalah 'the hit man' alias tukang bunuh pada sebuah keluarga mafia kondang yang beralih menjadi informan, seharusnya ia bersikap kalem dan tidak menarik perhatian di daerah tempat barunya, di Palm Coast, Florida. Dengan identitas baru dan sebagai pemilik restoran Pizza, alih-alih bersikap ramah – ini malah mengintimidasi pelanggannya dengan pistol yang siap ditembakkan hanya gara-gara mereka protes masakan Calzone-nya.

 
Site Meter