Thursday, March 14, 2013

VISA PELAUT AMERIKA

Surat panggilan kerja dari sebuah perusahan kapal pesiar kondang di Amerika membuat hatiku berdebar-debar. Hal ini sebetulnya terjadi secara kebetulan. Pak Parmanlah yang memperkenalkan aku dengan Hendro, ia saudara jauh Pak Parman yang pernah merantau ke Amerika sebagai pelaut. Hendro telah malang melintang bekerja di beberapa kapal pesiar seperti Royal Caribbean, Holland America Line, dan Carnival Cruise.

Ketika Hendro menunjukkan kepadaku surat panggilan kerja dari sebuah perusahaan kapal pesiar kondang di Amerika, aku sedikit bingung memahaminya. Hendro meyakinkanku bahwa surat panggilan kerja ini asli, asli dari saudaranya di Amerika yang punya jabatan dalam perekrutan tenaga kerja di kapal pesiar. Memang kudengar banyak sekali pelaut-pelaut asal Indonesia yang bekerja di kapal pesiar baik rute Asia, Eropa maupun Amerika. Ya tapi surat undangan itu bukan atas namaku, di situ tertera nama Tirto Projo, bagaimana aku bisa memakai itu untuk diriku? Hendro menjelaskan bahwa masalah identitas adalah hal yang mudah dipalsukan di Indonesia. Mulai dari KTP sampai paspor, semua bisa dibikin asal ada uang. Dan posisi yang akan kuisi atas nama Tirto Projo, kata Hendro adalah tukang bersih-bersih kamar. Tirto Projo sendiri (kata Hendro) tak jadi berangkat ke Amerika. Hendro kemudian menjelaskan bahwa prosedur prescreening dan interview bersama perwakilan perusahaan sudah tak diperlukan lagi, ia lantas menunjukkan masa kontrak kerja yang berlaku dan surat garansi dari bagian perekrutan tenaga kerja yang telah ditandatangani.
" Hanya tinggal proses pengajuan visa ke Kedutaan Amerika." kata Hendro seolah meyakinkan aku.
Aku mulai tergiur dengan ajakannya. Keinginan pergi ke Amerika yang telah kukubur dalam-dalam kini menyeruak lagi. Disaat bersamaan timbul juga rasa khawatirku bagaimana menyampaikan semua itu kepada paman dan ibuku. Aku yakin paman akan kecewa dengan niatku untuk merantau ke Amerika. Paman sudah terlanjur mempercayai aku untuk menjalankan usaha percetakannya. Apalagi aku baru saja meminta seperangkat komputer dan scanner yang lebih canggih untuk keperluan disain grafis. Kalau kutinggalkan siapa yang akan mengerjakan order-order yang mulai menumpuk? 
Aku tak tahu pasti apakah Hendro berbohong tentang surat panggilan kerja itu, aku sungguh awam tentang seluk beluk mendaftar jadi pelaut di kapal pesiar. Tapi entah seperti aku tersihir kekuatan magis, aku menuruti kata-kata Hendro. Aku mulai membuat KTP baru dengan meminta tolong Pak Usup hansip desa. Setelah itu aku membuat paspor baru dan buku pelaut lewat calo di Tanjung Priok. Untuk identitas baru, namaku kini berubah menjadi Tirto Projo sesuai dengan nama yang tertera di surat panggilan.
Ketika menurutku saatnya sudah tepat, maka kusampaikan keinginanku merantau ke Amerika pada paman, ia langsung tak setuju. Ia membujuk aku dengan mengatakan bahwa Hendro mau menipuku. Ketika aku bersikeras ingin pergi kesana, sekaligus kusampaikan niatku untuk meminjam uang sejumlah 40 juta rupiah, paman berbalik marah. "Kamu ponakan celaka ...Apa yang membuat otakmu diracuni iming-iming Amerika? Selama ini kamu buang-buang uang ibumu hanya untuk ngurus visa yang nggak ketahuan juntrungannya. Sekarang kamu minta pinjam uang paman; bukankah kamu tahu semua uang paman sudah habis buat beli mesin cetak, komputer grafis, dan peralatan lain? Niatmu nggak berkah;.. mau jadi gelandangan di sana??"
Aku tak menjawab. Aku hanya diam dan pergi meninggalkan paman di ruang makan. Di dalam kamar aku merenungkan kembali niatku pergi ke Amerika. Ada rasa berdosa ketika tiba-tiba aku meninggalkan semua apa yang telah aku rintis bersama paman dalam memajukan usahanya. Disisi lain ada perasaan menggebu-gebu dalam diriku, keinginan untuk menjamah Amerika. Entah kekuatan gaib apa, ibarat Amerika adalah seorang gadis molek berkaki jenjang, sungguh membuat aku gelap mata ingin memburunya.  Kuhitung-hitung jumlah tabunganku, hanya ada 30 juta. Sementara Hendro mematok harga 60 juta, aku berpikir keras bagaimana cara mencari sisa kekurangannya.
Waktu terus berjalan dan aku dikenalkan Hendro kepada Pak Amin saudara sepupunya yang katanya "orang dalam" yang akan membantu dan mendampingi aku untuk mengetahui seluk beluk bekerja di kapal pesiar. Sementara aku berpikir keras mencari pinjaman uang, aku (karena awam dan tak tahu apa-apa tentang bekerja di kapal pesiar) ada baiknya menuruti anjuran Pak Amin untuk mengikuti kursus BST alias Basic Safety Training tentang dasar-dasar keselamatan kerja yang disyaratkan oleh calon-calon pelaut. Mulai dari menghadapi kebakaran dan cara mengatasinya, Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan, cara-cara pengamanan sampai menyelamatkan diri jika kapal mengalami musibah. Aku juga disuruh ikut tes Marlin, tes wajib bahasa Inggris untuk para kru kapal, secara nanti aku harus bisa berinteraksi dengan tamu-tamu kapal pesiar, juga dengan kru kapal yang berasal dari berbagai negara. Beberapa surat pengalaman kerja dari hotel amat mudah kupalsukan dengan bantuan komputer grafis dan mesin pencetak paman.
Untuk tes kesehatan dan biaya tiket pesawat aku memberikan uang 2000 dollar kepada Hendro. Dari beberapa cerita bahwa tiket pesawat ditanggung maskapai kapal pesiar, aku tak bertanya lebih lanjut kepada Hendro. Aku masih punya hutang 30 juta rupiah kekurangannya dan akan kulunasi setelah aku dapat "visa pelautku".
Lewat jasa Pak Amin, aku kini tinggal menunggu jadwal interview visa. Tes kesehatanku dinyatakan layak, dan kini tibalah aku mengantri untuk ketiga kalinya di depan Kedutaan Amerika. Kali ini bersama teman-teman pelaut yang akan wawancara visa. Ya jumlahnya banyak ... Orang Indonesia memang terkenal dalam dunia pelayaran. Puluhan ribu orang Indonesia tersebar ke berbagai penjuru dunia entah itu kapal pesiar, kapal tanker atau kargo. Ada yang sedang bersandar di Peru, Liverpool, Korea, atau Bahama, atau ada yang sedang cuti di kampung halamannya. Tak begitu salah (ternyata) dengan lagu Nenek Moyangku seorang pelaut, bahwa dari akar sejarahnya -- di dalam tubuh kita memang ada jiwa Bahari. Orang-orang kapal senang melihat cara kerja orang Indonesia yang rajin, penurut, dan bisa diandalkan.
Dan ketika rombongan calon pelaut satu persatu mulai diinterview, timbul rasa deg-degan di hatiku. Trauma menghantui diriku. Aku tak bisa membayangkan andai permohonan visaku ditolak lagi. Sudah puluhan juta kuhabiskan dan aku tak bisa berpikir lagi andai yang ketiga ini gagal.
Terdengar dari balik loket seorang lelaki bersuara ramah," Sugeng enjing..." selamat pagi."
Aku kaget orang bule itu kok ngomongnya bahasa Jawa," Saged basa Jawai to Pak? " -- Bapak bisa bahasa Jawa ternyata.
" Lha aku wis tau urip nang Jogja je .... Japhe methe dab !!! (slank bahasa jogja: kanca dewe .. mas)." Aku pernah tinggal di Jogja.
Aku tersenyum, rasa takutku cair sambil manggut-manggut keheranan. Rupanya dia tau aku dari Jogja, membaca pasporku, namaku yang Jawa (banget) - Tirto Projo, juga tempat dan tanggal lahirku yang asli Jogja.
Ketika dia membolak balik semua dokumen pelaut kepunyaanku, dia tak banyak mengajukan pertanyaan. " Mas Projo ... Slamet ...panjenengan siap - siap bidal Amerika njih." Mas Projo .. Selamat ... Anda siap-siap berangkat ke Amerika ya.  
" Oh matur nuwun Pak dhe." Oh terima kasih Pak dhe, jawabku kegirangan. Kali ini proses wawancara visa nampaknya sekedar formalitas belaka. Hatiku girang bukan kepalang. Keberuntungan sedang berpihak kepadaku, aku serasa terbang ke awan-awan, hatiku berdesir seakan mendapat perhatian dari gadis molek berkaki jenjang, ia tak bertepuk sebelah tangan. Aku seperti tersihir dengan kekuatannya, akan kukejar terus dirimu Amerika ...

Friday, March 1, 2013

MENEKUNI DUNIA PERCETAKAN


Selama di Jakarta aku tinggal di rumah paman, ia punya usaha percetakan kecil-kecilan di daerah Kali Baru. Karena tak ada pilihan lain maka aku membantu paman dengan bekerja di sana. Paman sering mendapat orderan cetak mulai dari kartu nama, kop surat, brosur, ataupun kartu undangan perkawinan. Semenjak kutinggalkan kuliahku di Jogja dan aku memutuskan tak ingin meneruskan lagi paman meminta aku untuk membantu mengurusi bisnis percetakannya. Aku diajari cara mengoperasikan komputer untuk mendisain berbagai macam orderan yang masuk, diajari mengerti ukuran dan jenis kertas, tinta cetak, sampai mengoperasikan mesin cetak. Disamping itu aku juga diajari cara menghitung biaya pokok produksi dan mengambil sedikit keuntungan dari order cetakan yang masuk. Aku menurut dan berusaha untuk bekerja dengan rajin, terus belajar, dan menikmati keseharian bekerja di percetakan. Paman rupanya menaruh harapan kepadaku suatu saat nanti aku bisa meneruskan usahanya.

Tak terasa bulan berganti dengan cepat. Usaha percetakan paman makin berkembang. Aku berusaha mengoptimalkan kerja mesin - mesin cetak satu warna milik paman dengan mencari order ke kantor - kantor pemerintah maupun swasta sepanjang Matraman - Mangga Dua. Pagi hari aku mulai berkeliling menawarkan jasa apa saja mulai dari alat tulis, sablon, bordir sampai cetakan keperluan kantor. Kalau aku dapat orderan sablon maka akan kulempar ke Bang Joni tetanggaku di Kali Baru, kalau aku dapat order bordir akan kulempar ke Mas Sari di Pramuka. 
Waktu berlalu aku mulai merasa bahwa dunia percetakan adalah tempat aku mendapatkan rejeki. Dari situ aku mulai bisa menghidupi diriku, membeli baju atau celana jeans kesukaanku, sepatu Kickers dan sedikit sisa untuk ditabung. Andai aku mendapatkan cetakan full color yang butuh separasi warna yang berarti mesin paman tak sanggup untuk mengerjakannya maka aku akan lari ke tempat Haji Uung. Dia punya mesin cetak Heidelberg yang mampu mencetak 4 warna dengan kecepatan tinggi.
Karena aku sering mendapatkan order buat Haji Uung maka atas kemurahan hatinya dia melempar sebagian ordernya ke tempat paman. Kamipun lantas sibuk mengerjakan pesanan Haji Uung hingga larut malam. Kami sering kekurangan karyawan terutama saat kami kebanjiran order. Aku lantas menyarankan paman untuk menambah karyawan lepas, dan rupanya paman menuruti saranku. Apalagi kini aku bisa mendapatkan order tetap dari temanku waktu kuliah di Jogja dulu - Hengki, ia kini bekerja pada distributor perlengkapan komputer di Mangga Dua. Mesin cetak kepunyaan paman jadi tak pernah menganggur. Brosur satu warna berisi daftar harga memori, vga card, hard disk, speaker, dan lain - lain dilempar ke aku. Juga kop surat, surat jalan, dan pernik alat tulis perkantoran.
Ibu yang mendengar kabar tentang perubahanku ikut senang. Rasa khawatir ketika aku memutuskan berhenti kuliah dan ngotot pergi ke Amerika sempat membuat ibu kalang kabut. Ibu marah karena aku sudah membuang uang dengan berhenti kuliah di tengah jalan. Juga ketika aku merengek minta uang yang tak sedikit untuk mengurus visa ke Amerika. Aku jadi merasa bersalah kepada ibu.
Ibu yang bekerja sebagai guru SMP tidaklah punya uang cukup, adik-adikku masih membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Semenjak ayah meninggal, ibulah satu-satunya tulang punggung keluarga. Dan kini aku telah bekerja, tak menjadi beban ibuku lagi. Aku sudah bisa mencukupi kebutuhan hidupku sendiri. Ibu kini konsentrasi membiayai adik-adikku, aku sesekali mengirimi uang untuk jajan adik-adikku. Sebagai anak tertua aku mulai merasakan sebuah tanggung jawab muncul dalam kesadaranku bahwa aku harus ikut memikirkan kelangsungan hidup mereka, demi masa depan adik-adikku. Semoga mereka punya semangat belajar tinggi tak gampang menyerah, bisa sekolah sampai tamat, dan mendapatkan pekerjaan yang mapan dikemudian hari. Jangan seperti kakak tertuamu.
Ya, aku sebagai anak tertua tak bisa menjadi contoh bagi adik-adikku. Aku merasa bersalah telah menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa meraih gelar kesarjanaanku. Menjadi yang pertama di keluargaku dan tentu itu sebuah kebanggaan keluarga. Harapan ibu agar kelak aku bisa menyandang gelar insinyur seperti si Doel Tukang Insinyur -- film tv yang digemari ibu -- tak bisa kuwujudkan. Sebetulnya aku tak mau mencari alasan kenapa aku memutuskan untuk berhenti kuliah. Aku juga tak menyalahkan dosen Matematika yang killer, Pak Mastur. Tapi dari dulu aku memang tak pernah beruntung dalam ilmu Matematika. Nilai Matematika I dan II yang selalu dapat E menjadikan aku patah semangat. Dengan dua semester tertunda setidaknya aku telah membuang waktuku satu tahun untuk mengulang kembali di tahun  berikutnya.
Barangkali juga aku kecewa karena Arini pergi meninggalkanku tanpa alasan yang jelas, ya ..cinta pertamaku sejak SMA telah kandas. Rasa kehilangan Arini sanggup membuat hidupku guncang. Semua kejadian begitu beruntun tatkala dua bulan kemudian Ayah meninggal. Duniaku seakan runtuh.
Waktu berlalu dan keinginanku pergi ke Amerika pelan-pelan meredup seiring dengan kesibukanku berkecimpung dalam dunia cetak mencetak.

 
Site Meter