Sunday, February 22, 2009

Cerpen: Calon Ibu

(oleh: Janu Jolang)
Terbit di Kompas Cyber Media, Sabtu, 21 Februari 2009 http://oase.kompas.com/read/xml/2009/02/21/15300820/calon.ibu
Dishare di Sastra-Indonesia.com, Maret 2009
Saat mendengar dokter kandungan itu berkata bahwa bayiku sungsang, aku berpikir ini pasti operasi sesar. Sembari tangan kiri menunjuk ke arah monitor USG, tangan kanan dokter lelaki muda itu menggeser - geser alat scanner pada perutku yang buncit. Aku sedikit malu ketika kain penutup yang melingkari perutku tergeser ke bawah dan menampakkan sedikit bulu kemaluanku yang menyembul dari cawatku. Beginilah wanita waktu hamil, serba repot. Posisi tulang belakang melengkung ke depan menahan rahim berisi bayi, perutpun melembung seperti balon, menyesaki rongga di bawah pusar. Daerah yang tadinya tertutup rapat akhirnya tersembul. Perutku membesar, cawatku jadi terlalu sempit.

Suamiku yang duduk di depan meja dokter tampak gelisah memperhatikan ucapan dokter. Sepertinya dokter itu penjelmaan dukun - dukun sakti di jaman mitologi, yang kata - katanya merupakan mantra ajaib sebagai penawar keresahan. Tersugesti saran dokter, ia kemudian menguatkan hatiku dan menyuruh aku untuk sering - sering senam nungging. " Iya, siapa tahu si jabang bayi mau muter ke posisi yang sebenarnya untuk lahir ", kata suamiku mengulangi nasehat si dokter. Aku tidak merasa ucapan suamiku itu sebagai penyemangat diriku." Kalau dalam dua minggu posisi bayi masih melintang, tak ada jalan lain kecuali operasi sesar", kata dokter lelaki itu.
Dan masa - masa penantianku membawa ujian mental yang cukup berat bagiku. Hampir setiap orang yang kujumpai, kurasakan selalu bercerita tentang perempuan yang gagal dalam operasi sesar. Mereka seolah - olah menakutiku, si calon ibu kemudian meninggal karena pendarahan hebat, karena tekanan darah ngedrop, karena keteledor dalam penanganan kelahiran, atau salah obat, dan sebab - sebab lainnya. Bahkan saking cemasnya, ibu mertuaku menyarankan agar perutku "diputar" saja oleh dukun bayi, perempuan tua yang tinggal di pinggir kota dan biasa menangani bayi - bayi sungsang dalam kandungan. Suamikupun mengiyakan saran itu.

Ide itu aku tolak mentah - mentah. Aku tidak mau membahayakan bayi dalam kandunganku. Saran dokter untuk senam "nungging" dan didukung suamikupun hanya beberapa kali kulakukan. Bagaimana tidak kuhentikan, naluriku mengatakan bahwa anakku tidak akan "berputar" pada posisi sebenarnya. Tubuhku kecil, panggulkupun kecil. Apalagi setelah aku nungging, bayiku tidak gerak - gerak dalam waktu yang cukup lama. Stop! Jadi aku putuskan no nungging, no pijit. Pokoknya operasi sesar. Apa yang akan terjadi, terjadilah.
****
Hari - hari kelahiran anak pertamaku makin dekat. Aku semakin cemas. Suamikupun kelihatan pontang - panting cari pinjaman uang untuk biaya operasi sesarku. Kemarin dia pinjam ke kantor tempatnya bekerja dan hanya mendapatkan setengah dari keseluruhan biaya operasi. Aku cemas, jangan - jangan sampai waktunya nanti lahir duit belum terkumpul. Coba kuhubungi perusahaan tempatku bekerja, ternyata jawabannya malah berbelit, " Bulan depan baru ada uang", jawaban bosku kurang masuk akal, lagi pelit. Alasannya yang bilang uang kasnya kosong, duitnya dipinjam rekanan, sampai tagihan macet membuat darahku mendidih. Suamiku kemudian menenangkanku. Ia mengambilkan air putih dan membelai - belai perutku.

Aku diam saja. Tak bereaksi.
Kemudian suamiku berbisik sambil tangan masih di perutku. Katanya kalau anak yang kukandung jadi dioperasi tanggal 17 Agustus, maka senanglah ia karena hari itu bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Hari itu akan diperingati oleh berjuta - juta rakyat Indonesia. Hari pembebasan dari penindasan penjajah. Semangat kepahlawanan inilah yang diharapkan melekat pada si jabang bayi serta membawa berkah dan inspirasi bagi seisi rumah.

Aku tersulut dengan ucapan suamiku. Apa hubungannya kekurangan uang dengan hari kemerdekaan Indonesia? Kutepiskan tangan suamiku dari perutku. Dengan nada tinggi aku berpendapat, " disaat kita cemas kekurangan biaya untuk operasi, kau malahan berandai - andai anak kita lahir tanggal 17 Agustus."

Kepalaku tiba - tiba pening, darah seperti mengalir deras ke kepalaku. Muka rasanya kaku. Lantas suamiku buru - buru minta maaf atas kesalah pahaman itu. Suaraku sepertinya masih tinggi. "Yang hamil aku," tersenggal nafasku menyebut," pe-rem-pu-an!!! Aku yang telah susah payah ke sana kemari membawa 12 kilo beban diperutku. Aku yang merasa mual dan muntah - muntah mencium bau tubuhmu, minyak rambutmu, asap rokokmu. Dan aku yang akan mempertaruhkan nyawaku saat bayi yang ada di dalam perutku ini lahir. Laki - laki memang hanya enaknya saja."

" Stop, cukup, cukup. Kata - katamu selalu menyakitkan", suamiku selalu menyela begitu, barangkali dia memang nggak mau memperpanjang masalah.
" Kata - katamu selalu membuatku emosi."
Ia pergi meninggalkanku dengan membanting pintu. Akhir - akhir ini emosiku semakin memuncak. Barangkali bawaan si jabang bayi. Atau memang aku yang terlalu sensitif, mudah marah.
***
Tanggal 16 Agustus, sehari sebelum jadwal operasi sesar, aku ditemani ibu mertuaku check up di rumah sakit ibu dan anak yang terbaik di kotaku. Suamiku tidak bisa menemani, ia sedang ke rumah pamannya untuk cari pinjaman uang. Setelah itu ia akan ke kantor Palang Merah mencarikan darah untuk kebutuhan operasiku.
" Selamat malam nyonya", seperti biasa dokter kandungan itu menyapaku ramah. Disebelahnya, ada seorang wanita tengah baya berpakaian perawat, berwajah manis, sedang membereskan perkakas prakteknya. Kudengar gosip dari ibu - ibu di luaran, suster itu adalah istri sang dokter. Dahulu istrinya hanya mengurus soal administrasi dan keuangan rumah sakit miliknya itu. Kini setelah mengetahui si dokter main gila dengan beberapa pasiennya di ruang praktek, istrinya ikut mengurusi soal kebidanan.

Dokter kandungan itu mempersilahkanku berbaring. Sementara itu istrinya membantuku naik ke pembaringan, menyiapkan alat tensi darah, stetoskop dan memeriksa denyut nadiku.

Tak lama kemudian suster - istri dokter itu selalu berkata mesra kepada suaminya, " Honey, tensi nyonya ini amat tinggi. "
Dokter mendekat ke pembaringan dan bertanya kepadaku," Nyonya merasa agak stress menjelang kelahiran ini?" Ia lantas mengambil alat seperti corong memanjang dan menempelkan ke perutku, ia sibuk mencari - cari detak jantung jabang bayiku.

Ada suara degup jantung keras keluar dari sebuah kotak di atas pembaringanku. Suaranya berdegup kencang seperti laju kereta meniti rel. " Nyonya, bayinya sudah ingin keluar, " kata si dokter datar, " Saya siapkan kamar rawat sekarang juga. Nanti nyonya bisa istirahat dahulu, sembari saya akan turunkan tekanan darah nyonya."

Aku cemas, " Bagaimana bayinya, dok?"

" Detak jantungnya terlalu cepat," kata si dokter, " kondisi ini kalau terlalu lama bisa membahayakan bayi nyonya. Saya sarankan operasinya dipercepat. Tidak usah khawatir, saya akan persiapkan semuanya yang terbaik buat nyonya dan bayi nyonya."

***
Sebetulnya aku belum siap mental untuk menjalani operasi sesar. Diperberat lagi proses operasinya dipercepat, maka inilah saat - saat yang tidak menyenangkan dalam hidupku. Lambungku terpaksa dikuras karena kurangnya jam puasa sebelum operasi. Selang plastik dimasukkan lewat hidung, susah dan sakitnya minta ampun. Demikian pula bulu kemaluanku dicukur habis. Aku ngeri kalau membayangkan pisau - pisau bedah itu akan menyayat perutku. Sepertinya jarum jam di dinding menggelinding begitu cepat, aku gugup, cemas, dan takut. Akankah aku masih hidup setelah operasi? Atau aku akan mengalami pendarahan hebat? Atau tekanan darahku yang tinggi akan membahayakan jiwaku? Dan aku akan mati? Lantas bagaimana nasib bayiku yang lahir sebelum masanya? Akankah ia normal? Ataukah ia harus masuk inkubator dengan bantuan oksigen di hidungnya? Kemana suamiku? Ia tak kelihatan batang hidungnya. Disaat aku ketakutan, ia selalu tak ada. Aku akan menjadi calon ibu.
Beberapa jam kemudian aku di geledeg menuju ruang operasi. Roda - roda pembaringanku mencicit didorong perawat. Pandanganku kosong ke langit - langit atap lorong rumah sakit. Kubayangkan aku sedang menuju ke suatu tempat yang menakutkan, tempat dimana upacara pengorbanan akan dilakukan. Diujung pintu masuk ruang operasi, kulihat ibu mertuaku menanti sambil menangis, menciumiku serta memelukku. Ini adalah penantian cucu pertamanya.

Disebelah terlihat suamiku, dengan pandangan seperti kekhawatiran berlebihan akan diriku dan bayi di perutku. Ia terlihat rapuh. Wah, saat - saat seperti ini yang bikin aku nggak tahan mental. Betul mereka kasih support kepadaku, tetapi bagi kebanyakan orang, cara memberikan support yang demikian pasti tidak begitu membantuku. Mungkin paling baik dengan ucapan dan tindakan yang mencerminkan rasa optimis, jangan malah menangis. Aku akan menjadi calon ibu.
Dan tibalah suasana asing kamar operasi. Begitu mencekam. Bau bauan obat antiseptik, dinding hijau porselen, pisau bedah, jarum suntik, tang penjepit, dan lampu sorot melingkar mengarah padaku. Aku demikian takut melihat pisau - pisau tajam itu. Seolah ia adalah sesuatu yang hidup, bertenaga, berkuasa, untuk mencabik - cabik tubuh tak berdaya. Seolah ia adalah pisau ajimat dalam sebuah upacara pengorbanan, dan aku sebagai korbannya. Sekujur tubuhku gemetar hebat.

Ketiga dokter lelaki dan dua perawat perempuan mulai mengelilingiku. Yang kukenal hanyalah si dokter kandungan dan istrinya. Aku sangat malu ketika salah satu perawat itu mulai melepas baju atas dan kain yang menutup bagian bawah tubuhku. Aku ditelanjangi dalam keadaan masih sadar sesadar - sadarnya. Duh, aku pikir masih bisa mengenakan baju dan kain itu. Aku tak bisa membayangkan apa yang ada dalam benak dokter - dokter itu ketika di depan mereka ada sesosok wanita telanjang tak berdaya. Ketakutanku menguasai segenap tubuhku. Bayangan pisau - pisau tajam itu muncul lagi. Sekujur tubuhku gemetar hebat. Ketika melihat aku yang telanjang, apakah mereka merasa kikuk? Atau malu? Bak malunya anak sholeh melihat wanita yang bukan muhrimnya? Atau barangkali etika kedokteran yang membuat mereka bersikap wajar. Tapi laki - laki, terkadang punya keusilan dalam menilai tubuh perempuan. Biarpun tubuhku tengah hamil tua, barangkali mereka menikmati tubuh yang telanjang ini.

Dokter anestesi kemudian membekapkan selang bius ke hidungku. Sebentar kemudian dia mengajakku ngobrol, tanya macam - macam ini - itu. Mungkin dia ngecek, aku masih sadar atau sudah lelap, tapi semua itu tidak aku gubris. Aku sudah terlanjur malu, emangnya enak dalam keadaan telanjang diajak ngobrol.

Dan lecutan cahaya kemudian menyilaukan mataku. Tiba - tiba pula terang berubah jadi gelap. Aku tersedot dalam pusaran jurang begitu dalam. Itulah saat terakhir aku bisa mengingat sesuatu. Ketakutan dan kecemasan yang aku rasakan sebelumnya hilang begitu saja. Aku tidak ingat lagi wajah cemas mertuaku, kekurangan biaya operasiku, nasib bayiku, sosok suamiku, istri dokter itu, dan perut buncitku. Aku dalam mimpi indah, tenang dan nyaman.

***

Entah sudah berapa lama aku terlelap, tiba - tiba kudengan gemeritik suara pisau bedah. Aku takut, sekujur tubuhku gemetar hebat. Aku coba menggerakkan badan, menghindar dari pisau - pisau itu. Ternyata tidak bisa, terlalu berat. Kucoba membuka kelopak mata juga tak bisa. Aku sadar sesadar - sadarnya bahwa aku masih di meja operasi. Mungkin pengaruh bius itu kurang mempan di tubuhku. Tapi kenapa aku tidak merasa sakit? Aku dengar ada suara tangis bayi di sudut ruangan, itu pasti bayiku. Ya bayiku telah lahir, tapi apakah ini sudah masuk tanggal 17 Agustus? Kudengar suara - suara dokter sibuk menjahitkan benang di perutku. Ya aku sadar tapi tak bisa membuka mataku.

Tiba - tiba kepalaku berputar sangat cepat. Aku mual. Diantara pertengahan sadar aku berteriak sekuat tenaga. Seperti dilempar dari awan gemawan, jatuh menuju lorong gelap dalam kecepatan amat tinggi. Aku meneriakkan nama seseorang, dan (maaf) itu bukan nama suamiku. Dia mantan pacarku, Frans.

Sepersekian detik kemudian gambaran berubah. Aku melewati lorong seperti gua jaman purba, remang berdebu, seingatku berwarna marmer kecoklatan. Tiba - tiba aku melewati tempat yang tinggi jatuh ke tempat yang rendah. Sangat cepat, aku berteriak ketakutan. Ya, rasanya seperti naik roller coaster. Setelah itu seperti tertindih batu sangat besar. Aku tak bisa bernafas.
Kurasakan badanku tersedot susut menjadi kecil. Di ujung lorong gelap, samar - samar kulihat sosok besar berjubah hitam. Mukanya tertutup bayangan, memegang pisau di tangannya. Kakiku gemetar hebat. Suaranya menggema menimbulkan daya angin dahsyat. Aku tercekat, nafasku sesak. Ia mulai mengejarku dengan langkah cepat tak bersuara, sepertinya melayang. Aku berlari kencang melewati lorong - lorong yang bercabang. Kuikuti salah satunya, ternyata buntu. Dan bayangan itu makin mendekat. Aku berbalik arah dan lari. Nyaris bayangan itu mendapatkanku.

Aku terus berlari. Lorong bercabang itu tiada akhirnya. Sepertinya aku terjebak dalam rumah labirin, tak ada jalan keluar, berputar terus berputar. Akhirnya aku terjerembab, tergolek tanpa daya. Ketakutanku kian memuncak. Bayangan berjubah itu kian mendekat dengan pisau terhunus. Aku tak kuasa mengelak, pisau itu akan merenggutku. Dan tiba - tiba semuanya gelap. Aku tak ingat apa - apa.

Samar - samar kurasakan seluruh tubuhku perih. Bagian kemaluanku perih sekali. Terdengar ramai suara orang berdengung seperti di pasar. Tiba - tiba kilau cahaya memasuki mataku yang masih terpejam. Apakah bayangan hitam itu masih di dekatku? Kucoba membuka mata. Walau kabur kulihat ada bayangan di situ. Ia mendekat ke arahku sambil mengulurkan tangannya. Anginnya sampai ke tubuhku. Ternyata bayangan itu mendiang ibuku.

Aku menangis kencang. Aku marah, benci, baur rindu. Ingatanku kembali ke masa kecil. Gerimis sore waktu itu adalah hari terakhir aku melihat ibuku. Beliau meninggalkanku. Aku tidak tahu penyebabnya. Mungkin ia marah padaku? Kala itu ibu bersitegang dengan nenek, tapi aku tidak tahu masalahnya. Barangkali aku biang keladinya? Aku diam meringkuk di kamar seraya mendengar nenek meneriakkan kata - kata kotor. Selanjutnya kudengar isak tangis ibu diantara hardikan nenek. Aku takut sekali.

Berhari - hari aku meratapi kepergian ibuku. Apakah ia marah padaku? Aku sungguh sosok yang rapuh setelah itu. Hari demi hari aku lalui dengan kesedihan mendalam. Ayahku sudah tiada, kini ibu telah meninggalkanku. Tak ada lagi sosok yang memberiku sekedar perhatian, sekedar kasih sayang, dan tempat untuk bergantung. Sebaliknya, semua tiba-tiba memusuhiku. Lebih - lebih nenek, ia adalah figur pemarah. Sering dengan alasan yang tak kumengerti ia marah padaku. Ketika kutanyakan pada nenek kemana ibuku pergi. Ia tak mau menjawab. Sekali lagi aku merajuk ingin bertemu dengan ibu. Nenek malah marah dan menamparku. Hatiku sedih sekali.

Barangkali aku memang anak kecil yang bandel, atau anak yang suka berbantah, atau aku memang menuruni sifat pemarah nenek, aku tak tahu. Pernah suatu hari ia pukulkan gagang sapu berkali - kali ke punggungku hanya karena aku menggambar setangkai bunga mawar di tembok ruang depan. Cara memukulnya kuingat persis seperti memukuli kucing yang mencuri ikan. Setelah itu aku dikunci dalam gudang yang pengap lagi gelap. Entah berapa lama aku di sana, perutku terasa lapar, dan pakde kemudian mengeluarkan aku dari gudang. Hari telah petang.
Lain hari, aku menemukan segepok kertas di laci meja nenek. Kertas itu lalu kubuat main uang - uangan bersama temanku. Peristiwa selanjutnya terjadi, dan itulah awal yang menjadikan aku mengerti apa arti dendam dikemudian hari. Tiba - tiba nenek muncul dari pintu dan menendang perutku sekencang - kencangnya. Aku terjerembab kesakitan. Kulihat sorot mata merah berapi - api, mencengkeram leherku, dan menamparku membabi buta. Dalam ketakutan, aku melihat nenekku seperti orang gila yang mengamuk.
Apa salahku? Kenapa membenciku?
Belum puas juga rasanya nenek memukuliku, bahkan setelah temanku menjerit-jerit, ia tetap mengayunkan tangannya ke mukaku sambil menghardik dengan kata - kata yang menyakitkan. Ya, sorot mata berapi - api itu, pukulan bertubi-tubi itu, dan kata-kata yang menyakitkan itulah yang terus melekat di batinku. Selalu membayang hingga kini.

Kekerasan demi kekerasan yang diperagakan nenek lama kelamaan mematikan syaraf - syaraf perasaku. Batinku beku. Aku mulai membangun kerajaanku. Setiap dinding benteng kubangun dengan pahit getir pengalamanku. Lantas kusiapkan prajurit berpedang dan berbusur panah sebagai amarahku. Maka kuperangi mereka satu persatu yang membenciku. Satu kata kubalas dua kata, satu pukulan kubalas dua pukulan, dan andaikan aku tak mampu melawannya maka akan kukutuki musuh - musuhku biar mati mengenaskan. Kebenaran adalah pengalamanku, dan pengalamanku adalah panglimaku.

Aku kemudian terhempas ke jurang dengan kecepatan cahaya. Sempat kudekap batang licin untuk menahan hempasan. Kuikuti liukan putaran batang itu sambil menahan ketakutanku yang berdesir - desir. Sampai di pangkalnya ternyata ular yang besar sekali, barangkali Anaconda. Aku menjerit ketakutan.

Dan aku siuman, tapi masih dalam kesadaran yang lemah. Mataku tak bisa kubuka, badanku tak bisa kugerakkan. Rasanya seperti ditindih batu yang sangat besar. Napasku sengal, tercekik, aku merintih. Kudengar suara mertuaku menyebut asma Tuhan, ia menuntunku untuk bersama - sama mengucapkannya.

Aku mengikutinya pelan - pelan, sambil merintih ketakutan. Ada tangan hangat menggenggam jemariku, aku merasa nyaman. Tanpa sadar kusebut nama Frans, dan ia bukan suamiku. Berkali - kali nama itu terucap hingga berhenti ketika kudengar suara mertuaku menyebut asma Tuhan. Suara itu menyelinap lirih di telingaku.

Aku lelah, aku letih. Telah berapa lama aku terombang - ambing dalam alam sadar, tidak sadar dan setengah sadar, lewat peristiwa yang begitu cepat berganti. Kukuatkan menyibak kelopak mata, remang - remang kulihat orang - orang mengelilingiku. Aku sudah berada di pembaringan kamar rawat inap. Penglihatanku mulai nampak jelas. Ada suamiku, mama mertuaku, paman suamiku, adik suamiku, bibiku, dan sepupuku. Semua memperhatikanku. Pandangan mereka nampak kosong, tak ada ekspresi sedikitpun. Mungkin kalau ada, sekilat perasaan sedih terlihat di sudut mata mereka. Mama mertuaku menitikkan air mata.

" Anak kita lahir tanggal 17 Agustus kan?" suaraku lirih kepada suamiku.

" Tidak," dia menjawab kelu. " Tanggal 16 Agustus pukul sebelas limapuluh "

Dan wajah orang - orang yang mengelilingiku menundukkan kepalanya.

****

Ruang praktek dokter jiwa itu tampak sepi. Di ruang tunggu, seorang wanita muda berparas ayu sedang menggendong bayinya. Tergambar jelas wanita muda itu punya problem kejiwaan yang berat. Raut wajahnya kuyu, sinar matanya kosong, tarikan nafasnya berat. Ia tampak menanggung beban berton - ton dalam hidupnya. Barangkali pula ia mempunyai problem rumah tangga yang tak mungkin diselamatkan. Hubungan dengan suaminya makin memburuk. Ia tak tahu pasti apa penyebabnya. Dirasakan kejadian demi kejadian mengalir begitu cepat tanpa ia bisa memaknai, tanpa ia bisa meyakini. Rasanya seperti terhanyut arus sungai deras, tanpa ia bisa menggapai tepian. Dalam hati kecil ia ingin memperbaiki hubungan. Ia ingin mengakhiri pertengkaran. Ia tak ingin mereka saling membenci.

"Silahkan masuk nyonya", dokter jiwa itu berkata dengan sopan. Wanita muda itu kemudian meletakkan bayinya ke tempat tidur yang telah disediakan. Lantas ia berbalik menuju sofa pembaringan untuk menjalani terapi.

Dokter jiwa itu kemudian memulai percakapan dengan ringan, sopan, dan suara halus yang menyejukkan hati. Terdengar lirih musik instrumentalia mengalun lembut memenuhi ruangan. Wanita muda itu terlihat mulai nyaman dalam pembaringan. Dengan mata terpejam ia mulai menjawab pertanyaan ringan yang diajukan. Kadang ia tertawa lembut, kemudian suaranya berubah manja, dan menceritakan sesuatu dengan lancar tanpa beban. Sepertinya ia adalah pribadi yang periang, manja, dan terbuka. Dokter jiwa itu membiarkan pasien bebas dalam pengembaraan jiwa.

Tak lama entah punya kekuatan magis apa, dengan nada halus dokter jiwa itu mampu membuat tubuh wanita itu menggigil. Barangkali tekanan - tekanan yang ada di kedalaman hati wanita muda itu terkuak. Tubuhnya goncang, ia ingin menolak tapi tak kuasa. Keping - keping trauma wanita muda itu berada di dasar jurang jiwa, tak tersentuh, terkubur, dan tiba - tiba melonjak ingin keluar.

Suasana hening, tiba - tiba ia terisak bercampur takut. Ia bangkit dan memeluk lutut erat - erat. Tubuhnya menggigil, rahang mengencang, mulut terkatup, dan sorot matanya menerawang. Barangkali gambaran yang ia ucapkan telah membangkitkan ingatan lama. Sesuatu yang buruk pernah terjadi. Wanita berparas ayu itu punya trauma masa kecil yang pedih.

Si dokter jiwa itu dengan tekun mencatat. Dalam tumpukan file pasien tertulis bahwa si pasien pada masa kecilnya kerap mengalami penyiksaan jasmani oleh neneknya. Pasien gampang tersinggung, pemarah, bermusuhan, siap bertengkar, dan cenderung anti sosial. Dalam catatan yang ditandai kurung buka tutup, dokter itu menuliskan karakter perlawanan itu sebagai hal yang natural secara keturunan atau karena cara pasien bertahan terhadap perlakuan - perlakuan kasar. Karena setelah itu, si pasien juga mengalami penganiayaan seksual dan sadistis oleh Pakdenya. Tetapi perlawanan itu tak tampak pada diri pasien.

Perbuatan itu terjadi saat dia berusia 6 tahunan. Hal itu sering dilakukan Pakdenya saat rumah kosong atau malam hari ketika suasana sepi. Pasien diancam dengan sebilah pisau dan akan dibunuh jika ia menceritakan kepada nenek atau orang lain. Pasien telah kehilangan ayah dan ibunya, ia kehilangan kasih sayang serta keterlibatan seorang ayah dalam hidupnya. Hal ini dimanfaatkan oleh Pakdenya. Pasien lemah dalam menghadapi eksploitasi yang dilakukan Pakdenya. Pasien membutuhkan kedekatan dan perhatian untuk mengatasi perasaan cemas, rasa takut, rasa nyeri, dan frustasi yang dialami.

Akhir – akhir ini bayangan Pakdenya sering muncul dalam diri suaminya. Perubahan fisik suaminya yang bertambah gendut, keringat yang bau tengik, serta kini memelihara brewok telah mengingatkan wanita muda itu pada Pakdenya yang menjijikkan.

Hanya kepada si ahli jiwa itulah ia bisa melepaskan perasaan dihantu-hantui yang mencekam. Sepertinya si ahli jiwa itu adalah obat mujarab yang harus diminum ketika sakitnya datang. Ia menjadi kecanduan. Kini wanita muda itu terbaring lelah di atas sofa pembaringan, setengah tertidur. Seolah ia baru saja mengakhiri pengembaraan jiwa yang melelahkan. Seolah ia baru saja mengakhiri mimpi buruk yang menakutkan. Dan wanita berparas ayu itu kembali pada kesadaran dunianya.

Tiba - tiba terdengar tangisan bayi di pojok ruangan. Suara bayi itu membuyarkan kenyamanan istirahat wanita muda itu. Dengan reflek ia bangkit dan berkata kepada dokter jiwa itu, " Frans .., bayi kita menangis. Aku akan menyusuinya dulu."
Jakarta, Juli 2004
Washington, DC Desember 2005

Tuesday, February 3, 2009

Cerpen: Mengais Rezeki

(oleh: Janu Jolang)
Terbit di Kompas Cyber Media, Sabtu, 31 Januari 2009
http://oase.kompas.com/read/xml/2009/01/31/06174410/mengais.rezeki


Jakarta, November 2002
Sudah satu tahun lebih aku kehilangan kabar dari Ahmad Sanusi, suamiku. Aku tak tahu di mana ia berada. Sejak empat tahun lalu, ia merantau ke Amerika. Awalnya, ia dapat informasi bahwa ada lowongan kerja di Amerika dengan bayaran besar. Sejak itu dalam benaknya hanya ada satu tujuan, bagaimana cara ia bisa ke sana. Maklum, bekerja di Amerika – katanya – menjanjikan masa depan yang cerah.

Ia berangkat beberapa bulan setelah meletus peristiwa berdarah Mei 98. Waktu itu situasi politik Indonesia kacau balau. Perekonomian diambang kebangkrutan. Harga – harga semakin tinggi. Kami kesulitan mencukupi kebutuhan hidup sehari – hari. Maklum suamiku hanyalah guru kontrak di salah satu Sekolah Menengah di Jakarta, tugasnya mengajar ilmu – ilmu sosial.

Aku ingat saat ia bercerita kepadaku, ketika menerangkan tentang perpindahan penduduk, migrasi, transmigrasi, dan emigrasi, di depan murid – muridnya. Tak pernah terlintas dalam pikiran suamiku untuk melakukan hal itu. Profesi guru katanya pengabdian, turut mencerdaskan bangsa, mulia sifatnya. Ia cukup bangga dengan prinsip itu. Tapi akhirnya ia gadaikan juga prinsip itu demi alasan ekonomi.

Ya, alasan ekonomi. Aku ingat suamiku sering berkeluh kesah padaku, pada rekan sejawat, atau pada pak de-nya. Sesungguhnya suamiku tidak menuntut berlebih dalam hal materi. Maklum, jadi guru bukanlah jalan untuk meraih kekayaan. Cukuplah dari gaji yang dihasilkan bisa menutup kebutuhan sehari – hari atau sesekali bila ada lebih untuk ditabung. Tapi nyataannya gaji suamiku tak cukup. Pertengahan bulan kami selalu kehabisan uang, lantas kalang kabut cari pinjaman untuk menutupi kebutuhan sisa bulan berjalan. Barangkali hal itu disebabkan upah terlalu rendah. Ataukah harga – harga yang terlalu tinggi? Hidup melulu tekor, alias rugi, alias besar pasak daripada tiang. Kami sekeluarga tidak tahu kondisi seperti itu dinamakan apa: kemiskinan, kurang mampu, atau kurang makmur. Yang kami tahu, hidup terasa penuh tekanan, penderitaan, dikejar hutang, dan tanpa pengharapan.

Akhirnya ia merantau ke Amerika, katanya negeri kaya raya, tanah pengharapan, tanah segala macam ras dan kaum imigran berburu rezeki. Negeri yang dalam waktu kurang dari 250 tahun menyulap dirinya menjadi mercu suar dunia. Tapi bukannya sontak nasib keluarga kami berubah, bukan pula ia lantas mendapat pekerjaan yang layak, melainkan dengan kerja, dan bekerja keras.

Kini aku tak tahu di mana suamiku berada. Ia tak pernah lagi menulis surat, mengabari lewat telepon, bahkan mengirimi uang. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah di sana ia kecantol gadis lain dan melupakan anak istrinya? Atau ia mendapat musibah? Sepertinya ia hilang ditelan bumi. Hanya surat – surat ini yang tertinggal:

Surat pertama ditulis 15 Desember 1998,
Rahmi, kini aku tahu bagaimana rasanya bekerja sebagai tukang cuci piring, di restoran asia bernama Bamboo Buffet, di daerah pinggiran, Ashburn, Virginia. Restorannya ramai. Banyak kantor – kantor di sini, pelanggannya kebanyakan pegawai dari MCI, dan juga AOL. Jangan ditertawakan ya, jauh – jauh ke Amerika hanya jadi tukang cuci piring, pekerjaan yang tak pernah kubayangkan sama sekali dalam benakku.

Awalnya, kupikir pekerjaan itu enteng, apa susahnya mencuci piring. Bukankah aku sering membantumu waktu di rumah? Apalagi di sini pakai mesin, pasti lebih cepat. Ketika hari pertama kujalani, ternyata tak semudah yang kubayangkan. Sungguh aku nyaris putus asa, Mi. Berbagai kotoran: piring, gelas, panci, wajan, garpu, pisau berdatangan tak ada habisnya bak mesin pabrik mengeluarkan isinya untuk dirampungkan. Belum selesai satu kranjang, telah menunggu bertumpuk kranjang lain penuh piring kotor. Secepat tanganku menaruh piring di mesin, secepat itu pula pelayan membawa lagi piring – piring kotor. Aku kewalahan, capai, mau muntah, sekaligus jengkel. Ya, jengkel pada pelanggan yang tak ada habisnya, jengkel pada tumpukan piring kotor, jengkel pada orang – orang dapur, jengkel pada diriku sendiri, jengkel pada profesi tukang cuci piring.

Sampai akhirnya Mr. Kong pemilik restoran turut membantu. Sepertinya bos-ku baik, Mi, mau menolong biarpun sudah juragan. Kalau di Indonesia mana mau juragan seperti itu, pasti mereka gengsi. Ia sudah 60 an tahun, termasuk pendiam, atau karena bahasa Inggrisnya tak lancar, sering perintahnya hanya sepotong – sepotong. Bahkan ia lebih sering menggunakan bahasa Spanish karena kebanyakan pekerja restoran di Amerika orang – orang dari Amerika Tengah.

Hari kedua aku bekerja, otot – otot lengan dan telapak tanganku bengkak, kaku, dan susah digerakkan. Barangkali kemarin aku mencuci selama sepuluh jam. Atau karena aku tak pernah bekerja seberat itu sebelumnya. “Rapido - rapido”, cepat, cepat, seperti itu Mr. Kong berteriak menyuruhku bekerja lebih sigap.

“ Muchos platos, Ahmad! Hayyaa”, banyak piring, nadanya tampak marah.
Aku diam saja, kukerjakan lebih cepat (menurut perkiraanku), tapi ia kelihatan tak sabar dan akhirnya turut membantuku. Demikian keadaanku, Mi. Ternyata hidup di Amerika tak seindah yang digambarkan oleh film – film Hollywood.

Malamnya setelah restoran tutup aku dipanggil Juan Carlos, si Chef restoran, lantas diajak menemui Mr. Kong yang sudah menunggu di ruang kerjanya. Aku mengerti, ini pasti karena kerjaku yang kurang cepat. Mr. Kong tidak puas. Kukemukakan alasanku, memang aku tak pernah bekerja mencuci piring sebelumnya, apalagi baru sepuluh hari tiba di Amerika.

Tampaknya Mr. Kong kecewa, entah padaku – atau barangkali pada si Chan, agen penyalur tenaga kerja di China Town – New York. Ia yang menjamin dan mengirimku ke Ashburn sini. Sejenak suasana lengang, aku diam, wajahku tegang. Tak lama berselang si Chef bicara dalam Spanish pada Mr. Kong dengan mimik serius, dan kutahu kemudian bahwa Mr. Kong memutuskan untuk cari dish washer lain yang sudah berpengalaman. Aku dipecat
Betapa kerasnya hidup di Amerika, Mi. Bahkan untuk pekerjaan rendahan seperti tukang cuci piringpun harus bersaing ketat, terutama dari orang – orang Honduras, Salvador, atau Mexico, yang rata – rata memang kuat, gesit, cepat, walau mereka tak berbahasa Inggris. Biar tukang cuci piring, istilah kerennya kudu profesional. Kalau tidak, mudah saja mencari penggantinya. Alih alih masa training, ternyata mereka tak mau rugi. Barangkali demikian cara berpikir mereka, Mi, pragmatis. Toleransi diukur dengan uang. Apakah itu salah satu wajah dari dunia modern? Aku harus banyak belajar untuk beradaptasi.

Keesokan paginya aku diantar Mr. Kong menuju terminal bis untuk dipulangkan. Diberikannya gajiku selama dua hari, 120 US dollar. Tujuanku New York, kembali ke agen Chan, minta pekerjaan lain. Di dalam bis aku diam terpaku, salju turun perlahan. Angin sesekali berhembus kencang menggetarkan badan bis. Kulihat kijang terkapar di pinggir jalan, mungkin tertabrak kendaraan yang lalu lalang. Galau perasaan menyekap tubuh, uangku menipis. Aku harus cari pekerjaan. Aku harus bisa bertahan hidup di sini, harus gigih. Dan kini kumengerti, Mi, ternyata uang dan waktu adalah segalanya di sini, atau barangkali pondasi kehidupan mereka.
Time is money , ya aku ingat kata – kata itu di Indonesia hanya sekedar lips service, atau paling banter untuk istilah orang-orang mencari obyekan diluar jam kantor. Tapi di Amerika, waktu sangatlah berharga. Barangkali aku harus merubah cara berpikirku, waktu adalah uang. Rezeki tidak dibagikan secara gratis. Kata orang sini, bapak – bapak pendiri negeri ini, kemerdekaan individu berarti tiap orang harus mandiri secara finansial. Dengan begitu mereka bebas menentukan pilihan hidupnya. Mereka tidak diperbolehkan meminta belas kasihan negara. Harga yang harus ditebus untuk kebebasan itu, tiap orang harus bersaing dengan ketat dan bekerja keras.

Surat ke dua ditulis beberapa hari kemudian:
Rahmi, sudah seminggu semenjak dari restorannya Mr. Kong, aku menunggu di penampungan kumuh daerah China Town New York. Musim salju sangat dingin, sekujur tubuku gatal – gatal. Aku hanya diam di ruko bersama beberapa orang cina daratan yang juga sedang menunggu beroleh pekerjaan. Sehari dikutip 8 dollar untuk sewa tempat tidur model tingkat, suasananya seperti barak pengungsi. Aku tak tahu mereka bercakap dalam Mandarin atau Kanton, tapi kelihatannya seru, persis dalam film – film silat. Mereka statusnya sama dengan aku, kaum pendatang. Barangkali di Cina mereka tak kebagian rezeki, kaum miskin persis seperti kita.

Rahmi, duitku makin menipis, semoga tak lama lagi aku segera mendapat pekerjaan. Kemarin ada kabar dari agen Chan kalau ada lowongan pekerjaan di Maryland. Doakan aku cepat bekerja. Bagaimana kabar Indonesia? Kelihatannya makin memburuk ya? Kangenku untukmu dan anak – anak.

Surat ke tiga ditulis satu bulan kemudian, tertanggal 15 Januari 1999:
Rahmi, seperti yang dijanjikan agen Chan akhirnya aku bekerja di restoran lagi, namanya Asian Noodle di Bethesda, Maryland. Pemiliknya orang Korea, Mr. Chun, berusia 45an tahun. Kini pekerjaanku kitchen helper, tugasku memotong sayuran, memotong daging, meracik bumbu-bumbu, dan menanak nasi. Selain itu aku juga ditugasi mengatur stok di kamar pendingin.

Semestinya pekerjaan itu dibayar 7.5 dollar sejam, tapi berhubung aku dilihatnya belum berpengalaman, hanya dibayar 5.5 dollar. Aku tak protes, daripada tak ada penghasilan. Lagipula aku butuh uang untuk segera mencicil hutang, untuk kebutuhanmu dan anak-anak, juga kebutuhanku di sini. Biarpun pekerjaan ini berat, tapi aku bisa menjalaninya.

O ya, juru masak restoran ini orang Indonesia namanya Junianto dari Banyuwangi. Ia tinggal di Amerika sudah 10 tahun, masih membujang, sepertinya sudah makmur. Mobilnya Mustang sport dua pintu, punya rumah di German Town, punya kartu kredit Discover, Amex, punya anggota klub kebugaran, punya komputer beserta perangkat internet, punya cellphone keluaran terakhir, dan pergi ke klub di akhir pekan. Demikian gaya hidupnya, khas Amerika. Di sini, status manusia dalam lingkungan sosial sering dinilai dari berapa banyak dia punya (kaya). Sedangkan aku, tak bisa kubayangkan apakah itu jadi impianku juga? Atau hanya fatamorgana saja. Sepertinya jarak sosial untuk meraih itu terlalu panjang. Yang kubutuhkan sekarang hanyalah uang, dan uang. Apakah suaraku terdengar materialistis?

Surat ke empat ditulis satu bulan kemudian, pendek saja:
Rahmi, Apakah uang kirimanku telah sampai? Jika sudah, sisihkan 1500 US dollar untuk cicilan hutangku (untuk berangkat ke Amerika) ke pak De Harmin. Sisanya yang 1000 US dollar, belanjakanlah untuk kebutuhanmu dan anak-anak. Jika ada sisa uang sebaiknya ditabung.

Surat ke lima ditulis empat bulan kemudian, Juni 1999:
Rahmi, sudah enam bulan kita berpisah. Akhir – akhir ini yang memenuhi benakku hanyalah kamu dan anak – anakku. Tak jarang aku kehilangan konsentrasi dan gairah bekerja, dan tiba – tiba aku sudah dalam lamunan. Pernah tanganku tergores pisau saat merajang wortel, pernah pula aku lupa menaruh tamarind sauce ke dalam bumbu Pad Thai, lain waktu aku lupa mengangkat rebusan lomein noodle dari atas kompor. Apakah ini salah satu gejala home sick?

Dulu waktu kudengar cerita dik Narti tentang celana dalam, aku hampir tak percaya. Ya, waktu suami dik Narti tengah study di Kanada. Dan minta dikirimi cawat istrinya yang telah dipakai. Aku menganggap permintaan mas Imam mengada – ada. Setelah enam bulan aku di sini, baru aku bisa mengerti. Aku kangen baumu, Mi. Bau tubuhmu dari rambut sampai kaki.

Bagaimana kabar Faisal dan Nurul? Apakah mereka merindukan ayahnya? Aku ingat sikap Nurul dua minggu sebelum keberangkatanku ke Amerika. Ia jadi pendiam dan murung. Ia tidak bisa menerima penjelasanku. Ia sepertinya menjauh dariku, tak mau lagi dekat denganku. Aku sedih melihat perubahan itu. Tolong Nurul diberi pengertian, ayahnya pergi ke Amerika bukannya pesiar, bukan pula tak sayang lagi padanya. Tapi ayahnya pergi untuk cari uang, untuk beli bonekanya Nurul, untuk beli buku gambar dan krayonnya Nurul, untuk beli popok adik Faisal, dan susu bayi adik.

Belilah handphone Mi, agar kita bisa berbicara, aku kangen suaramu yang merdu, juga ceriwisnya anak – anak. Apakah Faisal sudah mulai berjalan? Atau masih di tetah?

Surat ke enam ditulis enam bulan kemudian, Desember 1999:
Rahmi, satu tahun di sini aku sudah mulai bisa beradaptasi. Mengenai makan, aku masih bisa mendapatkan nasi putih tiap hari. Di sini malah berasnya bagus, putih dan pulen. Mengenai lauk pauk dan sayurannya, aku biasa belanja di Asia market. Bahkan untuk trasi udang aku mudah mendapatkannya.

Mengenai keseharianku di sini, praktis waktuku habis hanya di tempat kerja. Jam 11 malam aku baru sampai di apartemen, mandi, trus langsung tidur. Paling kalau pas hari libur dan badan nggak lelah, aku pergi jalan – jalan entah itu ke lapangan Mall, musium Smithsonian, Lincoln Memorial, atau bangunan bersejarah lainnya.


Rahmi, setelah satu tahun di sini aku merasa lega karena hutangku ke pak De Harmin telah lunas. Bebanku juga makin ringan ketika membaca suratmu bahwa kalian tidak kekurangan uang lagi tiap bulannya. Aku sudah bosan dengan kemiskinan, bosan menganggap hidup layak adalah sebuah kemewahan. Kini ada semangat dalam diriku untuk menata masa depan. Masa depan keluarga kita. Belum pernah aku merasa hidup seindah ini, walau tentunya merasa sedih harus berpisah denganmu dan anak – anak.Tapi itu hanya sementara. Nanti kalau duit yang kukumpulkan sudah cukup, aku akan pulang ke Indonesia. Kita bikin usaha kecil – kecilan, atau kita coba membesarkan usaha pakaian muslim yang telah kamu rintis. Bukankah hidup layak sudah sewajarnya bagi setiap manusia? Dimanapun ia berpijak di atas bumi ini.

Surat ke tujuh ditulis enam bulan kemudian, Juni 2000:
Rahmi, kini posisiku naik jadi asisten juru masak. Pekerjaanku sekarang bikin order masakan grilled, saute dan fried. Aku banyak belajar dari Junianto cara memasak daging untuk chicken teriyaki, grilled salmon, shrimp tempura, bulgogi, lamb skewer, lime chicken, dan masih banyak lagi jenis masakan yang aku tidak tahu sebelumnya. Nanti kalau aku pulang, aku akan memasak untukmu dan anak – anak.

Mi, sudah satu setengah tahun aku bekerja di sini alhamdullilah keadaan ekonomi kita semakin membaik. Keberanianku untuk memandang masa depan keluarga kita kian timbul. Aku juga senang mendengar usaha baju muslim-mu kian maju. Bagaimana orderannya? Ramai? Bukankah tetangga kita sekarang banyak yang memakai baju muslim? Memang kini baju muslim sudah umum dipakai, barangkali sudah jadi trend mode atau memang karena panggilan jiwa. Coba itu barang duapuluh tahun yang lalu, usahamu tak bakalan seramai sekarang.


Surat ke delapan ditulis tujuh bulan kemudian, Januari 2001:
Rahmi, ada yang mau kuceritakan, tentang sesuatu yang akhir – akhir ini kurasakan. Bukan sesuatu yang mengganggu tapi cukup jadi beban pikiranku. Awalnya ini tentang pekerjaanku. Aku bekerja sehari 12 jam, seminggu 6 hari. Waktu libur hanya sehari dan itu kugunakan untuk tidur untuk memulihkan tenaga buat keesokan hari. Sedangkan dalam setahun hanya ada libur resmi dari restoran pada hari Natal dan Thanksgiving. Pekerjaan itu, rutinitas yang kujalani selama dua tahun ini, lama kelamaan kurasakan sebagai beban tersendiri. Aku seperti mesin, seperti robot dalam pabrik yang hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja. Barangkali kalau kamu dan anak – anak ada di sini, aku tak akan merasakan beban seberat itu.

Kadang aku mencoba menguranginya dengan mencari teman, nonton tv, atau jalan – jalan, tapi hal itu tak banyak membantu. Aku merasa asing dengan hidupku, dengan lingkunganku, bahkan dengan diriku sendiri. Rasanya aku seperti hidup dalam alam mimpi yang kesemuanya membisu, asing, kosong, dan senyap. Ada sesuatu yang hilang dalam batinku. Barangkali “Time is Money” telah merasuk dalam pikiran bawah sadarku, atau mungkin memang kehidupan orang – orang di sini selalu dikejar waktu, dibatasi waktu, dan terperangkap oleh waktu.


Itulah surat - surat yang dikirim suamiku kepadaku. Kabar terakhir ia bekerja di sebuah kafetaria milik orang Itali, di tempat wisata daerah Washington DC. Kami sempat berhubungan lewat telepon, terakhir tanggal 10 September 2001. Kini setahun telah lewat, tak ada tanda – tanda dimana suamiku berada. Telah kuhubungi hp-nya tapi tak aktif lagi. Aku bingung hendak mengadu kemana. Adakah yang bisa membantu?


The Mall, Washington, DC. 11 September 2001

Hari cerah, sinar matahari menebarkan kehangatan pagi hari, rerumputan masih basah oleh embun. Lapangan sepanjang satu setengah kilometer itu belum ramai. Di ujung sebelah kiri, kulihat Gedung Kapitol mengeliat angker seperti raksasa baru bangun tidur. Sedangkan di kejauhan sebelah kanan, kulihat rombongan turis sedang mengantri masuk ke Monumen Washington untuk menikmati panorama kota Washington DC di ketinggian.

Kafetaria tempatku bekerja strategis letaknya, di pinggir lapangan, dinaungi rerimbunan pohon tua, dengan beberapa patio yang diatur rapi, dan berseberangan dengan salah satu musium Smithsonian. Aku bergegas menyiapkan kopi Colombia pada coffe machine, sebentar lagi kafetaria akan buka. Roti bagel, bun, sub, white bread sudah kuletakkan ditempatnya. Burger, hotdog, pastrami, tuna sandwich, corned beef telah kusiapkan dalam etalase pendingin. Sudah enam bulan rutinitas ini kujalani semenjak aku dipecat dari restoran Asian Noodle karena aku berkelahi dengan majikanku.
Pemilik kafetaria ini, Mr. Lombardo, imigran asal Itali generasi kedua, mempekerjakanku dengan bayaran 8 dollar sejam. Untuk ukuran itu, aku merasa Mr. Lombardo lebih manusiawi daripada majikan - majikanku terdahulu. Selain itu, aku melihat Mr. Lombardo adalah pribadi penuh perhatian, kental sifat kebapakan, tidak pelit, dan sepertinya tulus. Aku merasa senang bekerja di tempat ini, juga kepada Mr. Lombardo.

Jam menunjukkan pukul 9:00 pagi. Kulihat seorang pegawai musium Smithsonian datang dan memesan kopi. Smith nama pemuda kulit hitam itu, pelanggan setia kafetaria ini, menceritakan sesuatu kepadaku dengan berapi-api. Katanya ia baru saja melihat tayangan TV yang memberitakan bahwa sebuah pesawat jet baru saja menghantam gedung World Trade Center di New York. Aku setengah tak percaya, Smith seperti biasa, suka membual. Bahkan kini Smith berani bertaruh 50 dollar. Aku kemudian menuju mini compo memutar frekwensi radio untuk memastikan kebenaran cerita itu.
Kudapatkan channel berita, dan kudengarkan liputan dengan seksama. Kulihat sekilas Mr. Lombardo asik menghitung stok minuman kaleng. Ia tak memperhatikan apa yang sedang kami ributkan. Ia sudah paham kalau Smith datang suasana kafetaria pasti hingar bingar.

Tak beberapa lama perasaanku tercekam: bukan saja North Tower yang dihantam, sekarang gedung kembarnya South Tower juga dihantam pesawat jet. Mr. Lombardo yang kini berada di sebelahku mendadak sesak nafas, terkejut mendengar berita itu. Wajahnya pucat pasi. “Ini serangan teroris..”, suaranya tersekat di kerongkongan.
Diraihnya cepat – cepat telpon genggam dari meja kasir, Mr. Lombardo mondar – mandir gelisah, ia berusaha menelpon seseorang. Kulihat wajahnya berubah cemas, sorot matanya meratap. Tak ada jawaban dari orang yang diteleponnya. Dalam kegalauannya, Mr. Lombardo menggumam dalam bahasa Itali. Barangkali sebaris doa, atau ungkapan kecemasan. Ia mencoba menelpon lagi, tetapi tak ada nada jawab.

Kembali ke radio, reporter melaporkan dengan berapi-api seolah pendengar sedang melihat kejadian mencekam itu dengan mata kepala sendiri. Sungguh mengerikan, sesekali suara reporter itu menghela napas karena dahsyatnya kejadian itu. Aku miris mendengar beberapa orang telah meloncat dari gedung pencakar langit entah untuk menyelamatkan diri atau bunuh diri. Beberapa orang terlihat di jendela melambai – lambaikan tangan dengan putus asa berharap pertolongan. Aku tak tega membayangkan bagaimana rasanya jika berada di dalam gedung itu, ketika mengetahui kematian sudah di depan mata, dan merasakan detik – detik mencekam dimana malaikat pencabut nyawa akan datang menghampiri, dengan beribu cara yang mengerikan. Semenjak tragedi Pearl Harbour, baru kali ini Amerika diserang musuh.

Kulihat sekeliling lapangan Mall tampak normal, wajah – wajah pejalan kaki kalem seperti tak terjadi apa – apa. Barangkali mereka tak mendengar kejadian itu. Tiba-tiba kudengar suara menggelegar seperti ledakan bom di sekitar lapangan Mall. Getarannya terasa pada dinding kafetaria. Kami bertiga di kafetaria tersentak kaget. Kulihat asap hitam mengepul di angkasa di belakang Washington Monument. Orang – orang disekitar juga tampak kaget, beberapa mengira ada pesawat jatuh di bandara Ronald Reagen.
Jam 9: 58 gedung South Tower ambruk karena tak mampu menyangga beban disebabkan konstruksi meleleh. “Ya Tuhan, tidak mungkin”, seru Mr. Lombardo, ia terduduk lemas seakan darah menghilang dari kakinya. Kulihat tubuhnya limbung tak bertenaga. Aku segera meraih pundaknya dan membimbingnya duduk di kursi. Kudengar Mr. Lombardo berteriak parau menyebut nama John. Ya, John anak semata wayangnya. John yang bekerja sebagai manajer di salah satu restoran di gedung WTC itu ikut terkubur bersama reruntuhan South Tower. Aku ikut prihatin atas kejadian itu. Kudengar kemudian Mr. Lombardo meracau tak sanggup membayangkan anaknya jatuh dari gedung setinggi 1,362 feet dan hilang dalam timbunan puing – puing bangunan. Keseimbangan batinnya tergoncang hebat, kulihat air mata meleleh di atas pipinya, matanya sembab. Aku memberikan segelas air putih tapi ditolaknya.

Mr. Lombardo segera menyuruhku menutup kafetarianya. Aku lantas mematikan wajan penggorengan, mematikan toaster, memasukkan daging dan sayuran ke dalam kulkas, setelah itu membereskan coffe machine. Tak lama kudengar raungan sirine polisi, pemadam kebakaran dan ambulan bersahutan. Ini pasti karena ledakan keras tadi.
“ Hurry - hurry up, Ahmad “, seru Mr. Lombardo cemas. Aku panik, dalam benakku timbul bermacam bayangan menakutkan, barangkali itu bom nuklir, bom kuman, atau pesawat yang menghujam sekitar Washington, DC.

Tak berselang lama kudengar berita di radio, gedung North Tower ambruk. Bersamaan itu dikabarkan Pentagon juga kena hantam pesawat. Kemungkinan selanjutnya serangan ke Gedung Putih dan Gedung Kapitol. Ini dekat dengan tempatku bekerja. Tak lama kemudian kudengar pesawat tempur F-16 membelah angkasa dengan suara yang memekakkan telinga. Hal yang buruk sedang terjadi jika melihat pesawat itu melintas di atas area Kapitol. Di kejauhan dekat monumen Washington, kulihat petugas polisi memblok jalan dan menyerukan kepada setiap orang untuk meninggalkan lapangan Mall, rasa - rasanya seperti terjebak dalam medan pertempuran. Aku beralih melihat wajah Mr. Lombardo, tatapan matanya kosong. Tak bisa dipungkiri hatinya remuk redam karena kehilangan anak satu-satunya. Aku menawarkan diri untuk menemaninya, tapi ditolaknya. Setelah mengunci kafetaria, kami berdua akhirnya berpisah. Smith sudah kabur entah kemana.

Aku berjalan menyusuri jalan Pennsylvania Avenue. Nafasku memburu, kedua bahuku rasanya naik turun dengan cepat. Semakin lama jalan dipadati oleh orang – orang yang keluar dari gedung – gedung perkantoran. Jalan – jalan menjadi lautan manusia. Rupanya berita penyerangan Pentagon telah menyebar dengan cepat. Raungan sirine polisi, pemadam kebakaran, dan ambulan kudengar di semua penjuru kota. Suasana bertambah mencekam. Aku perhatikan wajah-wajah orang yang berpapasan dan melintas di depanku. Serabutan. Sebagian tampak takut dan sedih. Beberapa kulihat kalem dan rileks berjalan mengikuti arus besar manusia itu. Aku tak berani menilai apa yang ada dalam benak mereka masing – masing. Bahkan diantara lautan manusia itu ada yang tertawa cekikikan.

Aku teringat keadaan yang mirip, yang pernah kualami waktu peristiwa Mei 98 lalu. Setelah kota Jakarta dilumpuhkan oleh amok massa ribuan orang, setelah mereka puas menjarahi toko – toko, merampoki apartemen, membakari mobil, memperkosa wanita, dan beberapa membantai korbanya secara kejam. Aku mengikuti arus besar manusia menjauhi kerusuhan. Aku berjalan kaki di terik matahari sejauh puluhan kilometer. Dibenakku terbersit sebuah gambaran akan masa depan yang suram. Masa depan bangsaku, juga kekhawatiranku akan masa depan keluargaku. Perasaan serupa itu kini muncul kembali dalam waktu dan tempat berbeda. Aku khawatir sesuatu akan menghadangku dikemudian hari, sesuatu yang suram bagi masa depanku di Amerika.

Tiga tahun sudah aku mengais rezeki. Disaat setitik harapan telah tumbuh mengatasi kemiskinanku, disaat aku berharap akan menuai hasil dari keringat di tanah baru ini. Semuanya tiba – tiba musnah bak ditelan gelombang lautan. Aku khawatir kalau orang – orang Amerika marah setelah kejadian mencekam ini. Bagaimana jika Mr. Lombardo, orang yang telah bersikap baik padaku, tiba tiba berubah membenciku, mendendamku, hanya karena ejaan namaku, barangkali pula agamaku, yang menyebabkan anaknya tewas dalam tragedi itu. Atau tangan – tangan kekuasaan berusaha menggiringku menuju jeruji besi, tanpa pandang bulu, tanpa belas kasihan. Aku tidak tahu.

Alexandria, Virginia Desember 2002
Pagi itu pelataran penjara tertutup salju tebal akibat badai semalam. Angin masih berhembus kencang menebarkan hawa dingin bercampur butiran salju. Sederetan pohon maple di pinggir jalan meringkuk kedinginan tanpa daun. Ahmad tergeletak tak berdaya merenungi hari – harinya di balik terali besi. Tatapan matanya meredup tanda tiada lagi pengharapan dalam dirinya. Hatinya kini kosong, tak nampak gelegak magma yang menggelora memompakan semangat hidupnya.

Ahmad tidak tahu sudah berapa kali dipindahkan, sepertinya penjara terakhir yang ditempatinya ini berada di Joseandria, Virginia. Ahmad juga tidak tahu kenapa ditanyakan tentang sejumlah daftar nama – nama yang khas untuk dikenalinya. Ia tidak tahu pasti apa kesalahannya, barangkali akibat dari tragedi penyerangan gedung WTC dan Pentagon.

Memang perburuan dan pengejaran kemudian dilakukan terhadap kaum pendatang. Kaum pendatang yang diduga sebagai pelaku – pelakunya, juga kaum pendatang yang datang ke Amerika karena alasan ekonomi. Tanpa pandang bulu. Kesalahan Ahmad tiga hal: ijin tinggalnya habis, tidak punya ijin bekerja, dan pemakaian identitas atau nomer social security palsu. Hal yang biasa dilakukan para pendatang gelap di Amerika. Pupus sudah harapan Ahmad mengais rezeki di Amerika.
Ia lantas teringat anak istrinya di Indonesia, “Sedang apa mereka malam – malam di sana?” Tidak pernah Ahmad merasa serindu ini sebelumnya. “Jangan kau tahu keadaanku di sini Rahmi, Nurul, dan Faisal. Penopang hidupmu kini mendekam di penjara.”

Entah sampai kapan ia berada di penjara, Ahmad hanya bisa pasrah akan nasibnya. Disebelah kamarnya, terdengar seseorang menyenandungkan lirih lagu Illegal Aliennya Phill Collins, “It's no fun being an illegal alien, …It's no fun being an illegal alien, …...”, dan ia seorang pendatang gelap di Amerika.


(Washington, DC 2005)

 
Site Meter