Friday, August 20, 2010

SENYUM DI AMERIKA AMAT MAHAL HARGANYA

Di Amerika tidak ada yang gratis, nothing is free, demikian orang-orang menyebutnya. Di dunia kapitalis ini bahkan sebuah senyuman amat mahal harganya.

Ini kualami sendiri kemaren, ya hari itu aku merasa menjadi orang yang paling sial se-restoran. Gigi depanku patah ketika aku terpeleset dan mulutku terantuk meja. Dengan mulut berdarah-darah, kulihat di kaca -- gigiku tinggal sedikit disekitar gusi. Bagaimanapun, kalau aku tertawa itu malah bikin teman kerjaku ketakutan. Lebih baik Aku tidak banyak bicara, senyumpun tak berani lebar-lebar – hanya segaris saja. Malam itu, Laury pelanggan tetap yang selalu duduk di sushi bar agak heran dengan sikap diamku.

Ya. Senyum Menawan itulah yang diiklankan para dokter gigi kosmetik di sini (dan ternyata mahal harganya). Hal itu kutahu ketika keesokan harinya kuperiksakan, si dokter gigi itu menawarkan prosedur 'implant' yang menghabiskan biaya 5000 an dollar untuk gigi depanku. Si dokter akan mencabut sisa gigiku, mengebor tulang gusi, menanamkan sekrup metal sebagai dudukan, dan memasangkan 'crown' gigi yang terbuat dari porselen. Berhubung aku tak punya asuransi, tentu biaya itu harus kubayar penuh.

Cara lainnya, si dokter akan menanamkan jarum metal pada sisa gigiku, tapi sebelum itu harus terlebih dulu dilakukan perawatan syaraf atau 'root canal'. Setelah itu baru dipasang 'crown' gigi. Biayanya 1800 an dollar untuk satu gigi.

Dari kedua cara itu, dua – duanya amat memberatkan diriku. Ketika kutanyakan berapa biaya untuk memasang gigi palsu di Indonesia, ibuku di kampung menjawab hanya 2 juta saja. Jauuuuh mbok !!!! Dengan 5000an dollar aku bisa langsung melunasi cicilan rumahku di kampung. Apalagi sebagai pendatang gelap kita tidak pernah membawa uang cash banyak-banyak. Selain kita kesulitan membuka rekening bank, begitu gajian (untuk amannya) kita langsung mengirim uang itu ke Indonesia. Jadi tak ada duit buat ke dokter gigi.

Pikir punya pikir akhirnya kubiarkan saja gigiku ompong. Toh semua manusia yang beranjak tua secara alamiah akan kehilangan giginya satu persatu. Lama – lama aku akan terbiasa untuk tersenyum (tidak menawan) tanpa rasa malu. Yang penting, “TERSENYUMLAH DENGAN TULUS”. Itu yang sulit kita temui di dunia Kapitalis ini.


Janu Jolang
Catatan Saku Imigran Gelap Di Amerika

No comments:

 
Site Meter