Wednesday, April 10, 2013

MENINGGALKAN INDONESIA

Bandara Soekarno Hatta menjadi pertemuan terakhirku dengan paman. Wajahnya tampak kecewa walau ia berusaha menutupinya. Ibu juga terlihat sedih anak tertua yang kelak jadi andalan keluarga, jadi tempat berbagi suka dan duka akan pergi meninggalkannya.
Aku kembali teringat betapa paman sangat bijaksana menghadapi kerasnya keinginanku untuk merantau ke Amerika. Ya, aku telah mengecewakan paman dengan tindakanku meninggalkan bisnis percetakan yang sudah mulai besar, dan kedua (yang aku merasa sangat malu) saat aku memohon-mohon pada paman untuk dipinjami uang guna melunasi sisa hutangku kepada Hendro. Aku kalang kabut minta tolong kepada siapa lagi. Jelas ibu tak punya uang sebanyak itu untuk menutup hutangku. Aku sempat mengutarakan kepada Haji Uung untuk pinjam uang tapi dia bilang tak punya. Pikiranku kalut saat Hendro dan Pak Parman mulai menagih kekurangan pembayaranku. Paman saat itu hanya terdiam, tak bicara apa-apa.
Aku putus asa; cara apalagi yang harus kutempuh? Permintaanku kepada Hendro untuk mengangsur kekurangan uang ketika aku sudah kerja di Amerika tak bisa dipenuhi. Uang itu katanya akan dibagi-bagi kepada orang dalam, mereka sudah menagih. Aku putus asa, sempat terlintas dalam kepala niat untuk membatalkan keberangkatanku. Tiket pesawat akan kuuangkan untuk membayar utangku. Dalam detik-detik terakhir kegalauanku tiba-tiba paman mengajak aku bicara.
" Ini bukan duit paman ... Ambillah. Paman mati-matian cari pinjaman ini, ... Haji Uung yang berbaik hati meminjami. Berangkatlah ke Amerika kalau kamu yakin di sana kamu akan menjadi lebih baik."
Aku terharu mendengar perkataan paman, kebaikan paman. Tak terasa air mata keluar dan menghilangkan segala beban berat di dadaku. " Aku akan segera lunasi uang pinjaman ini setelah aku dapat kerjaan." kataku meyakinkan paman. Jujur dalam hati kecilku aku malu sekaligus merasa bersalah kepada paman, juga kepada diriku sendiri. Semestinya aku tak boleh gegabah waktu pertamakali menerima tawaran Hendro. Aku juga mestinya tak boleh mengandalkan paman untuk melunasi hutangku. Andai aku tak bisa membayar hutangku tentu aku akan dicap sebagai penipu, tak bisa menepati janji. Hampir saja aku terjerumus ke dalam tindakan kriminal. Untung paman menolongku, aku tak akan lupa dengan jasa baiknya.
Terminal Keberangkatan Luar Negeri menjadi tempat terakhir aku berpisah dengan paman dan ibu. Kepada keduanya aku sungguh-sungguh meminta doa restu dan keikhlasannya. Aku tak kuat menahan air mata yang mulai mengambang. Segera aku berbalik dan masuk ke dalam bandara.

No comments:

 
Site Meter