Monday, June 17, 2013

JUMP SHIP


Istilah Loncat Kapal sering dipakai anak-anak yang kabur dari kapal. Menurut cerita Hendro bekerja di kapal pesiar sangat berat. Tidak seperti gambaran orang awam yang mengira bekerja di kapal pesiar adalah suatu hal yang mewah, dengan baju seragam yang gagah dan suasana kapal pesiar yang luks, ditambah iming-iming gaji yang tinggi dan kesempatan bisa berkeliling dunia ke tempat-tempat indah di segala penjuru dunia. Iming-iming itu melekat di benak anak-anak muda seusiaku.

Hendro pernah ikut kapal pesiar tujuan Eropa. Di kapal Ia mendapatkan supervisor galak yang menginspeksi kamar secara detil, ke bagian-bagian yang tak terlihat mata, bahkan sampai ke balik toilet duduk. Dan ketika ia menemui debu disana maka segera ia berteriak memanggil Hendro dan "ngomel-ngomel" dengan sumpah serapah.
" Kerja di kapal pakai disiplin militer, man. Kalau kita nglawan atasan bisa-bisa kita malah makin sengsara. Pernah teman kerja dari Filipina protes gara-gara dia dikasih kerjaan nglewatin jam kerja, eeh keesokan hari dan selanjutnya dia malah ditekan ... sengaja dikerjain ... Akhirnya dia gak betah dan minta pulang. Ini kapal liat benderanya dulu man. Emang kepunyaan orang Amrik tapi benderanya bisa di Karibia, atau mana saja. Jadi aturan kerjanyapun tak seperti pekerja Amerika. Kita-kita gak bisa nuntut terlalu banyak. Makanya anak-anak kapal pasti ngiri kalo denger cerita temen-temennya yang kerja di darat, walau gelap tapi masih bikin duit. Makanya ketika ada kesempatan, lebih baik kabur dari kapal. Di darat biarpun dibayar murah jatuhnya masih lebih gede, man. Udah gitu kerja di darat nggak boring kayak kerja di kapal, ada liburnya. Kita bisa jalan-jalan. Kalo di kapal ada libur juga percuma, liatnya air laut saja hehehe. Kerja di kapal sistemnya kontrak 10 bulan, setelah itu dikasih ijin pulang dua bulan sambil bikin kontrak baru."
Hendro memperpanjang kontraknya yang ke tiga tahun ini, tapi keberangkatan kali ini untuk lompat kapal alias tak memenuhi panggilan kerja. Kerja di kapal sangat berat, sehari bisa kerja 10 sampai 13 jam, selalu ada yang harus dikerjakan, tak pernah berhenti, tidur hanya 5 jam. Dalam seminggu tak ada hari libur. Setelah bekerja selama 10 bulan baru diberi cuti 2 bulan. Hendro yang kebagian pekerjaan bersih-bersih sering mengeluh apalagi ketika harus membersihkan kotoran penumpang yang mutah, ketika kapal sedang oleng dihantam ombak atau penumpang yang mabuk di bar.
Saat pesawat lepas landas dari bandara Frankfurt hatiku berdebar campur gembira. Perjalanan menuju Amerika tinggal hitungan jam lagi. Badanku terasa letih setelah menempuh perjalanan panjang dari Singapore menuju Frankfurt. Anganku melayang kembali kepada kata-kata paman. Apa yang akan kucari di Amerika, aku sendiri tak pasti menjawabnya, tapi ada satu keyakinan diantara semua perantau yang akan pergi meninggalkan Indonesia bahwa mereka ingin memperbaiki kondisi ekonominya, mencari penghasilan yang lebih baik di negeri orang. Ya, motif ekonomi adalah iming-iming yang mampu menggoda hasrat mereka untuk menempuh resiko apapun. Apalagi semenjak Pak Harto Lengser, makin banyak orang tergiur untuk merantau ke sana, bekerja apa saja, dengan imbalan dollar. Ya .. ekonomi Indonesia terpuruk, banyak perusahaan bangkrut, lapangan kerja menyusut, dan nilai rupiah menjadi susut. Dollar Amerika yang tadinya dikisaran 2000 rupiah melonjak hingga 14.000 rupiah, dan bekerja di Amerika adalah suatu impian surga.

4 comments:

Unknown said...

bang , aq minta emailnya dong

Nichla Haliza said...

Pak saya boleh meminta emailnya? Saya sedang membahas mengenai jump ship untuk skripsi saya jadi saya ingin sharing mengenai pengalaman bapak selama jump ship

Nichla Haliza said...
This comment has been removed by the author.
Nichla Haliza said...
This comment has been removed by the author.
 
Site Meter