Wednesday, November 27, 2013

KAMAR 324: LURAHNYA KAMPOENG MELAJOE

Walau sudah tinggal di Amerika, tinggal di kawasan elit daerah downtown Washington DC dalam sebuah apartemen dengan sebutan keren Kampoeng Melajoe, kita warga Indonesia tetap tak bisa melepaskan tradisi untuk menghormati seseorang yang di-tua-kan. Ya.. tanpa lewat pemilihan, kita sepakat menyebut Rudi Syamsudin sebagai Lurahnya Kampoeng Melajoe. Jadi Lurah di sini bukanlah seorang yang punya pekerjaan seperti layaknya lurah di Indonesia tapi hanyalah sebutan untuk seseorang yang dihormati. Ya .. jiwa penolong, supel dan mengayomi membuat para perantau segan padanya.

Rudi si Pak Lurah sering menjadi juru damai ketika ada permasalahan timbul diantara sesama perantau. Maklum, warga Indonesia yang tinggal di apartemen Kampoeng Melajoe datang dari berbagai ragam kalangan sosial maupun tingkat pendidikan. Ada para TKW yang bekerja sebagai pembantu, ada mahasiswa yang sedang sekolah di Amerika, ada staf lokal Kedutaan Indonesia, dan turis-turis overstayed alias imigran gelap sepertiku.
Pernah suatu kejadian sebut saja Yusuf yang mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi swasta di Washington DC berantem dengan Darus gara-gara rebutan cewe. Dilain waktu si Murni yang bekerja sebagai nanny menggosipkan Rani sebagai wanita murahan yang sering bergonta ganti lelaki. Keributan - keributan itu bisa didamaikan oleh Rudi.
Ya .. Rudi telah melewati beberapa generasi warga Indonesia yang tinggal di Kampoeng Melajoe. Lelaki yang kini menginjak usia 40an asal Jakarta itu pernah bekerja jadi staf lokal di Kedutaan Indonesia di bagian umum, atau menjadi tenaga keamanan bersama Ocim si jago silat. Dalam sebuah obrolan, Rudi menceritakan generasi terdahulu yang tinggal di Kampoeng Melajoe, ketika ekonomi Indonesia masih bagus, dengan nilai tukar waktu itu 1 dollar masih 1800an rupiah. Orang Indonesia datang ke Amerika hanya karena berwisata atau bersekolah. Ya .. Kala itu banyak anak-anak dari pejabat negara datang hanya untuk bersekolah. Sungguh kala itu tak ada yang mau menjadi imigran gelap. Saat itu nilai uang $1000 adalah setara dengan Rp. 1.800.000, bayangkan dengan kurs sekarang yang rata-rata $1 setara Rp. 10.000. Nilainya melonjak menjadi 13 jutaan rupiah. Dan berbondong-bondonglah orang ingin bekerja di Amerika, juga anak-anak pejabat yang bersekolah tadi tak bisa lagi mengandalkan uang kiriman dari orang tuanya. Terpaksa mereka bekerja.

No comments:

 
Site Meter