Saturday, October 31, 2009

EduRantau: ITU ADALAH BENTUK DARI BULLYING ...

Wednesday, October 28, 2009 at 3:22pm
Dear Parents of Barrett Students, Our Traditional Halloween Parade is Friday, October 30, 2009We will assembly on the blacktop in the back of the school yard at 1:15p.m. We will be calling by grade level to line up starting with Pre-k through grade 5 if the weather is good. In the event of inclement weather we'll parade throughout the school.again, children can bring costumes in their backpacks to dress for the parade, but:* No weapons are allowed and no red dye as blood* Nothing that resembles a weapon - not a toy gun, sword, knife, bow and arrow, or harpoonIf you would like to participate in this event, please come and join us!Sincerely,Theresa D. Bratt, Principal




Halloween.., Halloween, apa maning kiye..,

Banyak cara orang bersenang-senang. Pesta Halloween, setahu aku, hubungannya dengan Pumpkin, Waluh, basa Jawane. Selain itu, kostum aneka ragam, lebih hebohnya lagi mungkin yang selama ini kita tahu, kostum-kostum yang scary.., menakut-nakutkan.. Kemudian, mereka yang berkostum akan berkeliling ke tetangga-tetangga, ntar dikasih permen, deh..


Yah, atau modifikasi lain dari acara ini, tergantung usia yang menyelenggarakan pesta juga, mungkin anak SD akan lain dengan anak SMP, SMA, orang tua, dan seterusnya.


Na, sudah sebulan ini, di Amerika, spanjang swalayan, toko, restoran, kedai.., semuaaa.., berdandan menyambut Halloween. Union Jack Bar, memasang 2 balon kucing hitam yang menyeramkan, yang bisa bergerak tengak tengok. Swalayan Hariss Teeter,memajang Pumpkin kecil-kecil yang sudah dilukis gambar aneka rupa, sebuah counter baju memasang boneka sawah (kalau di Indonesia, yang takut sama boneka sawah, ya burung-burung kecil pemakan padi, itupun kalau digoyang-goyangkan, kalau diem aja, burungnya ya EGP, Emang Gue Pikirin...).Oya, hampir semua berwarna orange Pumpkin dan hitam...




Ngeri di dunia anak-anak, mungkin ngeri yang mengundang degup jantung berpacu sedikit lebih cepat, dan kengerian ini, akan berubah menjadi kegembiraan, karena mereka menyadari, "ini cuma maen-maen kok, biar perayaan Halloween jadi tampak lebih hebat.., Huray..!" anak-anak bersorak.. sensasi yang didapatkan adalah rasa gembira bersama-sama.




Sebab aku menangkap, ada rasa ngeri yang sifatnya lebih tajam, keras, dan tentu saja, sensasi yang didapatkan adalah, salah satunya, trauma...dan seterusnya. Seperti apa ? Buanyak... Mari kita tengok hal-hal sederhana, tentang apa dan bagaimana, anak kita menerima rasa ngeri, dan akhirnya menyimpan trauma yang mendalam bagi mereka. Dan itu, seratus persen aku bilang, JANGAN TERJADI. Tolong, lindungi anak-anak di manapun mereka berada.




Anak-anakku, perempuan. Sejak kecil, bahkan ketika masih balita, ketika mereka aku dandani pakai rok, aku selalu kasih celana dobel untuk underwearnya. Maksudnya, setelah celana dalam, kasih lagi tu celana pendek. Buat apa? Ga sumuk, apa? Gak, tuh.., anak-anakku nyaman-nyaman aja, mungkin karena sudah dibiasakan sejak kecil.




Ya, buat apa celana dobel-dobel gitu? Buanyak, lho manfaatnya.., Salah satunya, melindungi paha dan pantat anak-anak dari debu, karena anak-anak kecil suka ndeprok sana ndeprok sini sesuka hati. Iya gak?Slain itu.., risih gak, ngliat anak perempuan, kecil pun, kelihatan celana dalamnya ketika memakai rok? Hei, lihat, mereka sudah sangat lucu dengan rok warna-warni, tapi ketika naik tangga mau prosotan, di taman atau sekolah TK, waduhh, pengantri lain yang dibawah tangga, bisa melihat dengan jelas, paha si anak, celana dalam si anak perempuan...Kalau pengantrinya cowok (meski kecil tetep disebut cowok, kan?)...Trus, dimalu-maluin dah, "Ehh, kliatan tu celana dalamnya..."




Hmm.., sayang sekali.., kasihan anak perempuan kita, keliatan dalemannya. Kasihan juga cowok kecil ini, sedikit banyak pasti terobsesi untuk "melihat lebih dalam".., sesuai kodrat. Apalagi, anak-anak kecil umumnya sudah tahu, bahwa alat kelamin antara anak perempuan dengan laki-laki, berbeda. Itu saja yang mereka tau, belum mengarah pada hal yang "saru". Tapi, pemikiran, "kok punyaku gak kayak punyamu.." itu yang memicu anak, dalam beberapa contoh kasus, terjadi peristiwa "cocok-cocokan", saling ingin menunjukkan" bahwa mereka "berbeda."




Pernah dengar kasus seperti itu, kan Bu, Pak? Tapi, tolong, jangan hardik mereka dengan kata-kata "keji", sebab mereka akan tambah bingung, alias ga nyandak, alias ga klop dengan tuduhan orang dewasa.. Bapak dan Ibu harus bisa menerangkan hal ini dengan lebih "keilmuan". Hal ini, sangat pantas diterangkan, karena ini memang fakta, mendasar, dan harus disadari sejak dini, bahwa "Aku ni siapa? Ohh, aku anak perempuan. Ohh, aku anak laki-laki.."




Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak sekaliyaaannn...,Itu tadi lho Bu, Pak.., hal-hal kecil yang nampaknya remeh, ternyata kok bisa berkembang menjadi hal besar yang cukup menakutkan...




Kasus ketika anakku TK, (heranku, kok ya di setiap angkatan di TK, selaluuu saja ada"regenerasi" yang jelek-jelek gini), anakku bilang, "Tadi Lani nangis." "Kenapa?" tanyaku spontan. "Roknya disingkap sama Akbar. Sebenere aku juga sih, tapi kan aku pake celana dua (anakku menyebut celana pendek dobelan sebagai celana dua), jadi ya gak kliatan dalamnya""Lha Adek marah gak, digituin sama Akbar ?" tanyaku lagi."Wo.., ya marahlah Mah.., aku kejar, aku omelin... Trus anak-anak perempuan bilang ke Bu Guru.." "Oke, gud job, my girl..kamu harus bilang bu Guru kalau ada yang saru" kataku.




(SARU ARTINYA -kurang lebih- TIDAK SOPAN YANG MENGARAH PADA PELECEHAN YANG BERBASIS JENDER! he2, bahasanya medeni bangets!)




Ada lagi ni, masih di Tk, namanya si Arya (he2, gak pake si, cuma Arya, gt..maap ya, Mamahe arya)..Kalau ke skul bawa mainan mlulu. mainannya juga serem-seremmmm, maksudnya, tiruan palu, tiruan pistol..ahh, sebutannya ga asyik, gini, palu-paluan, pistol-pistolan, pedang-pedangan..., nah, gitu-gitulah..Saat istirahat, dia akan berciat-ciat bak pendekar memecundangi teman-temannya, apalagi yang badannya lebih kecil...Yang aku liat kemudian, dia bagaikan Penguasa, Ketua Gang yang ditakuti, punya anak buah.., uhh, gile..gile.. Tentu saja beberapa temannya kadang menangis kena jatah "kekerasan" si Arya. Sampai-sampai, para ibu saling beradu mulut, saling marahan gara-gara soal anak-anak ini..Wuih, cepek dehhhh...




Lain hari, anakku yang lebih gede, kelas 3 SD waktu itu melaporkan dirinya padaku sepulang sekolah, "Mah, tadi Edo pukul-pukul pantat anak perempuan." Aku langsung nyolot, "Sapa aja?" "Ya, Nia, aku, Dea.." "Trus, Kakak bilang apa?" cecarku."Aku teriakain, aku marahin...""Doang ?" desakku lagi."Lha trus, mesti gmana? Edo kan memang nakal, Mah...""Bilang bu Guru atau pak Guru" jawabku tegas."Itu tidak baik, tidak sopan, pelecehan, dan seterusnya..!" "Ah, bu Guru dan pak Guru cuex aja kalo kita lapor...""Ohh, kalo gitu, besok Mamah temui Kepala Sekolah.Mamah harus diskusi.""Jangan Mah, ntar aku malu, dikira ngadu...""Ehh, mang kamu ngadu, dan itu hukumnya wajib. Dan Guru harus tahu, ini tidak boleh dibiarkan, ntar habis tepuk pantat, lain lagi yang dicolek laki-laki kecil itu. No Way alias kagak bisa Mamah diam. Ini bukan hanya buat kamu, tapi buat semua anak perempuan, dan kebaikan Edo sendiri. Santai, neng, Mamahmu kan 'hopeng' (akrab) sama Bapak Ibu Guru, ini bukan masalah adu mengadu, oke?". Anakku yang ini agak 'jaim' pengennya sok manis di depan siapa pun, bukan pengadu, dst..,huhh, sdikit keliru kaprah ni anak!(bukan salah, tapi keliru, ini bisa diperbaiki, dengan mengajari dan memberi pengertian lebih lanjut)




Kasus lain, aku dengar ada seorang Ibu yang tanpa basa basi, "mencabut" anaknya pindah sekolah. Pagi itu, dengan muka murka dia menemui Kepala sekolah, "Tolong tandatangani surat pindah anak saya!" Weishhh, ini mah perintah, bukan tolong. Ketika Kepsek mencoba bertanya apa dan bagaimana, si Ibu langsung teriak, "anak saya dipalakin temannya di sekolah, dan ga ada guru yang tahu? Lha panjenengan pada kemana hari-harinya?" Di sudut kelas 3, aku liat Dewi si 'TERTUDUH' pemalakan, nangis bombay. Ketika aku tanya, "knapa, sayang?" Sambil terisak, dia bilang "telponin Mamahku, aku dimarahin Mamahnya Ami..huu..." Ami,anak yang kabarnya dipalakin Dewi, dan Ibunya marah2 kepada Kepala sekolah, minta pindah.




Waduh, kok jadi main hakim sendiri gini jadinya? Ami kena palak Dewi. Ibunya Ami datang ke skul langsung nyari Dewi dan marah-marah (dengan muka kejam kale ya.., sampai si Dewi histeris gitu), dan nyabut anaknya pindah skul.Oo..lha piye to iki Bapak-bapak Ibu-ibu, itu namanya menyembuhkan luka lama dengan menimbulkan luka baru. Aminya merasa dibela, Dewinya merasa dianiaya..Buuu, ini di skullll, tolong dong, lapor dulu ke Bapak Ibu Guru.., jangan langsung marahin anak orang..Kagak bener ni...belum tentu juga kasusnya benar-benar nyata...




Ada lagi yang gak mau masuk sekolah, mogok, karena apaaaa? Karena bu Gurunya mengatakan sesuatu yang menyakitkan hati si anak. Lha bagaimanaaaaa?Yang ini ceritanya gini, sudah 3 kali berturutan, Afi telat masuk kelas. Bu Guru bertanya, "Rumahmu mana?" Afi menjawab, "Dukuhwaluh, Bu.." "Ohh, pantas telat terus, apa di sekitar Dukuhwaluh tidak ada sekolah? Kenapa harus sekolah jauh-jauh di sini?" cerca si Ibu Guru.Haa.., kok pertanyaannya gitu, bukan ditanya, "Kenapa 3 hari ini terlambat terus ?"... Pasti Afi tidak akan sakit hati, dan gak harus mogok sekolah.Lha trus pirwe kiye lah...Tenang Bu, Pak, jangan panik. Mari kita urai sedikit demi sedikit benang kusut ni, moga-moga berhasil.Gak sadar ya, bahwa sebenarnya, anak-anak yang demikian itu, sedikit banyak adalah buah dari kekurangwaspadaan kita. Dari tayangan televisi, banyak film-film, bahkan film kartun yang kerjaannya ciat-ciat melulu, tentu saja menggunakan pedang, tali laso, parang, panah, anak panah, pistol.., yaa.., semuanya mainan sih, tapi esensinya kan, berantem, kekerasan berperang, kekuatan, kalah menang, menimbulkan rasa berkuasa di satu pihak dan kelemahan, kekalahan, ketakutan, rasa tertekan, dan mengecilkan hati di pihak lain. Ingat, Bu, Pak, anak-anak adalah PEREKAM YANG HEBAT, Reaksi yang akan muncul kemudian di antara anak-anak antara lain adalah meniru adegan, menyakiti teman lain, timbulnya rasa dendam, pengen membalas. gak terima, dan, makin hari "kekerasan" yang timbul pada jiwa anak-anak, akan makin tinggi, tinggi, dan tinggi..Tanpa ingin bilang ini baik itu tidak baik-monggo lah, panjenengan bisa menilai sendiri- saya hanya ingin mengabarkan bahwa di Amerika yang film dewasanya sering dar der dor.., ternyata untuk anak-anak, mereka peduli sekali. Sangat peduli, bahwa anak-anak tidak boleh diajarkan pada kekerasan.Berkali-kali aku ke mal, sampai hari ini jarang sekali aku liat mainan macam pedang-pedangan, pistol-pistolan, panah, dan seterusnya.Tayangan kartun anak-anak, juga "manis" dan "mendidik" macam Dora si Explorer, Mickey Mouse Club yang mengajarkan bagaimana menggunakan mesin pembuat jus, bagaimana memanaskan roti untuk sarapan, bagaimana menyapu dedaunan di halaman, yah.., gitu2lah.Soal senjata mainan ini, juga pernah aku 'keluhkan' pada teman di Kunci D (Komunitas Cinta Drum Band), di Purwokerto, yang aktif melatih Marching Kids,(halo, Kakak Deni...), waktu itu aku bilang, "Kak, sayang ya, TK X itu musiknya bagus, kostumnya menarik, koreografi CG (Color Guard-penari dengan memainkan bendera dan dikombinasikan dengan alat-alat lain seperti tongkat, dan alat mainan yang lain) lumayan.., tapi kok pake senjata pedang.., hitam lagi.., sayang sekali..."Dan ternyata benar, meski permainannya bagus, TK ini malah menduduki peringkat terakhir di kelompoknya, ketika lomba waktu itu.. (Makasih Juri-juri, pasti anda person-person yang memahami psikologi anak...).Dan.., lihat undangan untuk Perayaan Halloween ini, perayaan yang scary-scary-an (maksudnya menakut-nakutkan, menyeram-nyeramkan).., ternyata GAK BOLEH PAKE SENJATA (MAINAN) MACAM PEDANG, PISTOL, SENAPAN, TRISULA ATAU TOMBAK BERMATA TIGA, PISAU, DAN WARNA MERAH SEOLAH-OLAH DARAH.. GAAAK BOOO-LEHHH. ITU NGERI YANG MENIMBULKAN IMAGINASI TENTANG KEKERASAN.....Trus pirwe kiye, bakul-bakul senjata mainan yang bahkan sering nongkrong di skul, ga boleh jualan ya? Toko-toko yang jual mainan, ga boleh majang senjata mainan juga? Trus tanyangan di TV.., sensor, boo! Satu lagi, aku ingat salah satu famili yang dengan bangganya "mempersenjatai" anak lakinya berusia 2 tahun dengan sebilah pedang mainan, di mana tiap saat anak tersebut diputarkan DVD kartun Ciat-ciat, kemudian si anak memperagakan ciat-ciat,.."We, Le, lha kowe kok wes pinter men lehe dadi pendekar..," dengan ketawa-ketawa bangga si Ibu dan Bapaknya mengomentari anak ini... Padahal, anak perempuan kecilku yang sudah berumur 7 tahun, langsung meledak tangisnya sambil pegangi dahinya, yang ternyata memerah dan benjol..."Mamah aku di sabet pedang, Huaa...huaa... (Hualah, Nduk..,Nduk, piye to tante dan pamanmu itu,wong bikin anak lain nangis kok malah bangga pada sabetan pedang anaknya... hii..hi...hi...)




North Carlin Spring,Arlington, Virginia,Dian,


Di sini jam 3.10 sore, hari Rabu, tanggal 28 Oktober 2009




Tulisan ini terinspirasi dari tulisan seorang teman di wall FaceBooknya, yang berbunyi :




1. Perlakuan buruk spt ditendang, dipukul,dipalak, ditampar, dijegal, dipermalukan, dihina, dicaci, disoraki,diancam & dilecehkan adalah bentuk dr BULLYING yg hampir sbagian besar terjadi di sekolah.Ortu harus tanggap bila beberapa hari anak tiba2 diam, murung,menutup diri & malas sekolah. Sudah banyak korban..jangan lagi terjadi pada kita..dan,




2. Lady Concelor di INTAKE CENTER, seorang Dokter yang memberi bimbingan dan konseling fisik pada kedua anak perempuanku.waktu itu beliau, sambil menyentuh pantat, dada, dan daerah kelamin anak-anak perempuanku, bilang, "Ini daerah privat, tak seorang pun boleh memegangnya. Bila suatu saat ada yang melakukannya pada kalian, maka kalian harus TERIAK, LARI MENJAUH DARI ORANG TERSEBUT, MENDEKAT KE ARAH GURU, ORANG TUA, POLISI...dst, untuk minta PERLINDUNGAN. Hal ini TERLARANG, tidak boleh dilakukan di negara ini, bahkan bila teman-temanmu membuat ini sebagai candaan atau lelucon... TIDAK BOLEHHHH!

No comments:

 
Site Meter