Wednesday, November 4, 2009

EduRantau: Intake Center

Ini cerita, ketika anak-anakku menjalani proses pendaftaran sekolah di Amerika, alias pindah dari Indonesia. Proses pembuatan surat pindahnya pun, di Purwokerto, kota tempat anak-anak bersekolah di Indonesia, sudah cukup membuat Dinas Pendidikan setempat menggelar "Rapat Mendadak", dengan alasan belum pernah memberikan rekomendasi pindah ke luar negeri, mereka bilang "belum ada format surat pindah ke luar negeri." Ya wes, nganah lah, sana lah, rapat ndisit.. maturnuwun...Sampai akhirnya mereka bilang, surat yang sudah di setujui dari Dinas Pendidikan Kabupaten, harus dibawa ke Provinsi, dan kemudian ke Departemen Pendidikan di Jakarta. Alamak.., mana sempat, waktuku untuk berangkat tinggal 1 minggu. Ya, aku cuex ajalah, tenang-tenang aja, gimana nanti lah, gitu pikirku.

Singkat cerita, sampai di Amerika, untuk anak-anak yang berbahasa asal (bahasa utama negara) bukan bahasa Inggris, harus melalui lembaga yang bernama INTAKE CENTER. Eeh.., ternyata bener, di sini tidak ditanyakan surat pindah apa pun, ga ditanyakan rapor kelas berapa pun. Hanya ditanyakan passpor, Birth Certificate alias akta kelahiran, dan secara lisan ditanyakan, "Di Indonesia kelas berapa?"..tok!Kemudian anak-anak di tes bahasa Inggris dan matematika, ini penting karena akan digunakan sebagai dasar penempatan di sekolah, karena sistem sekolah di sini bukan mutlak, "kelas berapa kamu", tapi lebih dari itu,"seberapa jauh kemampuanmu". Nantinya, boleh jadi anak kelas 6, karena kemampuan Matematika dan Bahasa Inggrisnya lebih, maka dia akan mengikuti pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris di kelas 7, dan seterusnya. Sebaliknya, bagi yang kemampuannya di bawah standard kelasnya, maka dia akan 'turun' ke kelas di bawahnya. Jadi mereka akan seperti anak kuliahan, pindah-pindah ruangan kelas...

Setelah selesai tes tertulis, mereka di cek mengenai imunisasi dan vaksin yang sudah dan belum diberikan ketika di Indonesia. Setau aku, mereka sudah diberikan vaksin dan imunisasi "wajib" bagi anak2, di Rumah Sakit Internasional di Jakarta sebelum berangkat, karena hal ini sangat ketat di Amerika. Tapi apa kata Virginia, Lady paramedis di INTAKE CENTER ini mendata kembali, dan bilang, "Mereka akan menerima 7 suntikan hari ini sebelum bisa masuk sekolah." Tujuh suntikan, gila, boo! Ketika aku mengabarkan hal ini pada anak-anak, kontan aja mereka teriak "Gak mauuuu!" Si Lady Paramedis terkejut dan bertanya, "What they say?" Aku bilang, "mereka ga mau 7 suntikan, mbak..Apakah ini wajib?" Jawabnya, "Ya wajib, tapi kalau anda keberatan, ada 3 yang paling wajib yang harus di terima hari ini. Measles Mump Rubella (MMR), Varecella (Chickenpox alias cacar air) and DPT tahap lanjutan. No shots no school!" Wuih, gile, ga suntik, ga boleh skul!Pelan-pelan aku coba menerangkan pada anak-anak tentang "No shots no skul".., dan akhirnya mereka pasrah menerima 3 suntikan.

Lain hari, anak-anak dites secara fisik oleh dokter, dan apabila perlu, anak akan direkomendasikan ke dokter spesialis yang diperlukan. Misalnya anak dengan gigi tidak sehat, dia langsung diberikan pada dokter gigi yang berpraktek di wilayah tempat si anak tinggal, untuk diberikan perawatan, bebas biaya.Setelah itu, tanpa diminta, orang-orang INTAKE CENTER memberikan banyak rekomendasi, yang intinya, asuransi untuk anak-anak, sekolah, makan di sekolah, bus sekolah dan lain-lain, semua gratis..

Aku jadi ingat, bahwa di Indonesia sering terjadi wabah penyakit. Mungkin bukan penyakit berat, saat ini pastilah sudah mudah ditangani, seperti cacar, dan flu. Bahkan kira-kira dua bulan sebelum anak-anak pindah ke Amerika, Alma, kelas 3 SD, pernah aku "ground'kan, alias bolos 4 hari, bukan karena dirinya sakit, tapi karena teman-temannya banyak yang tidak masuk kelas (26 anak dalam satu kelas dalam hari yang sama!), karena cacar dan flu.Ya, kalau sudah begini memang kegiatan belajar mengajar pasti terganggu. Secara finansial, orang tua juga harus mengeluarkan uang untuk pergi ke dokter demi kesembuhan anaknya. Belum lagi minimnya pemahaman tentang masa inkubasi suatu kuman penyakit, yang sakit cacar, 4 hari kemudian sudah masuk kelas.., lha yo kuwi sing marai nular-nulari kancane...Kerugian yang dialami akan semakin meluas menyentuh berbagai lini kehidupan. Piye neh...

Amerika, negeri ini sangat peduli untuk membuat rakyatnya tidak sakit "yang ga perlu". Artinya, orang-orang di sini tidak perlu sakit semacam flu, cacar, campak, dan lain-lain, di mana sudah disediakan vaksin maupun imunisasinya. Apalagi untuk anak-anak sekolah. Untuk itu, setiap sekolah punya "nurse" di UKSnya (Unit Kesehatan Sekolah). Tugas nurse ini bukan semata-mata merawat anak-anak yang tiba-tiba pusing di sekolah, atau yang semacam itu, tapi dia adalah pelaksana seluruh program kesehatan yang ada di sekolah. Jadi, bagi anak-anak yang belum lengkap imunisasi dan vaksinnya, akan diberikan di sekolah, gratis. Bahkan untuk anak perempuan, sampai dengan imunisasi untuk pencegahan kanker serfix! Wajib hukumnya! Juga flu H1N1, yang kabarnya sudah ditemukan vaksinnya, besok tanggal 26 Oktober ini, anak-anak akan mendapatkannya di sekolah.

Ya, beda tempat akan beda budaya, itu pasti. Contohnya gini, di Indonesia, ketemu orang flu yang bersin-bersin, batuk-batuk, dan mungkin suhu banadnya tinggi, ya..., apes-apesnya yang kita pikirin, paling ketularan..gitu kan.Naa, di Amrik ini, ketemu orang kudisan sepanjang badan, bagi mereka masih jauh lebih baik daripada harus ketemu orang flu...Mereka akan pelan-pelan menjauh (Iii aku alami ketika ngantri kasir di swalayan, ktika aku bersin-bersin dan keluarin tisu dari tas untuk ngelap hidung..., orang-orang di sekitarku pindah ke kasir lain..., he2, maap ya bapak2 ibu2, ini mah biasa di negeri aye...Soalnya mereka langsung akan berpikir, ni bukan orang bule, pasti pendatang yang bisa jadi bawa flu burung atau flu babi dari negaranya...atau dapat di pesawat..Hahh..hahh..hahh). Tapi dari hari itu, aku langsung konsumsi makanan dan banyak vitamin, agar tidak kena flu dan "mengkhawatirkan' banyak orang...

Demikianlah cerita ndaftar skul.., sekarang Alma tetap kelas 3 dan Cedar kelas 6 Middle School (setara SMP) karena di Amrik, SD mung tekan kelas 5, cuma sampai kelas 5. Dan dengan kebisaan mereka berbahasa Inggris yang tidak terlalu banyak, mereka bisa langsung merasa nyaman sekolah di sini, bahkan berani bilang "Lebih senang sekolah di Amerika.""Lebih senang" ini akan aku "selidiki" lebih lanjut, karena bagi aku agak aneh. Dulu di Indonesia, tidak ada kendala bahasa, pulang jam setengah 12 siang aja mereka sudah bener-bener bete, dan sampai rumah langsung tidur, bahkan ga sempat makan siang saking capeknya.Malamnya jam 8 atau 9 juga sudah merem lagi. Lha ini pulang jam 3 sore kok masih pada sumringah, melek fesbukan, ngerjain PR, dan tidur jam 10an malam...Oke, mulai hari ini akan terus aku gali, mengapa mereka bilang "Sekolah di sini lebih menyenangkan..."

North Carlin Spring, Arlington, Virginia
Dian ibu dari dua anak
Di sini jam 7.05 malam, tanggal 22 Oktober 2009

2 comments:

Muraigondrong said...

sekali lagi terima kasih atas bagi2 infonya ..., bisa menjadi bahan renungan buat kita, orang tua dari anak2 kita sendiri ..
Sukses selalu ya ..

Salam

Janu Jolang said...

Thx Mas Cahyono atas komentarnya. Jangan bosan nengokin blog suara rantau

 
Site Meter