Dear Parents of Barrett Students, Our Traditional Halloween Parade is Friday, October 30, 2009We will assembly on the blacktop in the back of the school yard at 1:15p.m. We will be calling by grade level to line up starting with Pre-k through grade 5 if the weather is good. In the event of inclement weather we'll parade throughout the school.again, children can bring costumes in their backpacks to dress for the parade, but:* No weapons are allowed and no red dye as blood* Nothing that resembles a weapon - not a toy gun, sword, knife, bow and arrow, or harpoonIf you would like to participate in this event, please come and join us!Sincerely,Theresa D. Bratt, Principal
Saturday, October 31, 2009
EduRantau: ITU ADALAH BENTUK DARI BULLYING ...
Dear Parents of Barrett Students, Our Traditional Halloween Parade is Friday, October 30, 2009We will assembly on the blacktop in the back of the school yard at 1:15p.m. We will be calling by grade level to line up starting with Pre-k through grade 5 if the weather is good. In the event of inclement weather we'll parade throughout the school.again, children can bring costumes in their backpacks to dress for the parade, but:* No weapons are allowed and no red dye as blood* Nothing that resembles a weapon - not a toy gun, sword, knife, bow and arrow, or harpoonIf you would like to participate in this event, please come and join us!Sincerely,Theresa D. Bratt, Principal
Posted by Janu Jolang at 1:11 AM 0 comments
Tuesday, October 27, 2009
EduRantau: United Nations Day...

Beberapa hari yang lalu, juga sudah aku terima pemberitahuan, tentang Hispanic Heritage Musseum, intinya, anak-anak di SD Barrett akan menyelenggarakan in house musseum, bertempat di perpustakaan sekolah. Dan untuk menyelenggarakan musseum ini, anak-anak diminta untuk meminjamkan barang-barang yang berasal dari negaranya, atau negara-negara yang pernah dikunjungi, atau barang-barang yang merupakan oleh-oleh dari negara lain. Tuliskan apa nama subjeknya, tuliskan negara asalnya, dan tuliskan siapa pemiliknya.., demikian dicantumkan dalam pemberitahuan tersebut.
Walahh, ngerti gitu kemaren dulu aku bawa tu wayang kulit, tembikar, bla-bla-bla... Saking inginnya
berpartisipasi, akhirnya kutemukan secarik selendang batik, dan selembar kain songket. Cuma itu barang
etnik Indonesia yang aku bawa...
United Nations Day, benar-benar buta daku tentang sejarah Amerika...Tolooong..., aku mesti search di
Google, atau Wikipedia untuk tau apa dan bagaimana, siapa, kapan, dan mengapa, hingga Amerika menjadi negara yang kayak gini ini.., negara multi ras, negara multi bangsa.
Sebelum search tentang sejarah Amerika, aku ceritakan 'live' nya aja ya, acara tadi pagi. Tapi baiklah,
sebelumnya ada cerita-cerita yang mungkin ga pernah kalian bayangkan, tentang Amerika ini. Bener-bener, boo...negara terbuka dengan multi bangsa dan multi kemampuan!
Ingat ga, sekitar 30 tahun lalu (kalau lo pade usia sepantar gue, men, women, skitar 40an geto), ada tokoh kartun dari suku Indian, namanya Hiawata. Adik perempuannya yang berkucir dua di bahu, aku lupa namanya.
Tapi yang juga tidak aku lupa, bapaknya Hiawata, kalau ga salah ingat disebut Kepala Suku Perut Buncit, yang suka mengundang pesta Hisap Cangklong alias Hisap Pipa Perdamaian (tolong koreksi kalau daku salah ingat, ya...). Naah, itu dia, di SD Barret ni memang whuampuh, alias ampuh bangets...Jan, membuatku merasa hidup jadi lebih hidup karena banyak terkaget-kaget.
Jangan bayangkan di SD Barrett ni isinya 'bule'. Kalau dihitung, paling bulenya cuma 20%. Bule Inggris,
bule Jerman, bule Perancis, bule Swedia, dan yang kayak gitu-gitulah, yang secara awam, kita di Indonesia menyebutnya, bule.

Lha yang lain siapa? Yang lain adalah orang Mexico, Spanyol, sedikit Asia, seperti Vietnam, Jepang, Black, India,Indonesia, China.., dan yang spektakuler adalah...Puji Tuhan..., anakku sekolah bareng dengan orang-orang Indian, boo! What's an amazing... Setiap antar dan jemput skul, aku mlototin, mana kira-kira yang mirip Hiawata. Tapi, tanpa ingin bermaksud melecehkan, akan akau ceritakan.., tentang, ingatkah wahai kawan-kawan,dalam cerita Hiawata itu, disebutkan suku Perut Buncit, suku Pipi Tembam.., dan itu memang bukan rekaan. Secara genetik, orang-orang Indian ini memang berwajah seperti di gambar yang dikartunkan, ada yang berpipi tembam, ada yang berperut buncit, dan ada yang 'muka garis keras'. Penampilan mereka juga masih "Indian'(jangan bayangin pake baju kulit dan bulu-bulu atau coreng moreng di muka mereka...). Maksudnya, masih cukup sederhana dari cara pemilihan jenis kain yang dipakai untuk baju, sandal, sepatu, dan.., yang paling indah adalah cara mereka menggendong balita di punggung, masih memakai kain, seperti kain tenun yang hangat, sampai si balita ga kliatan sama sekali. Yang aku pikirkan cuma satu, apa bayinya ga susah nafas, ya...(Pas mau aku foto, mereka bilang, "no picture", sambil ketawa memperlihatkan gigi-gigi emasnya,ketika aku bilang, 'I love the way you caring your baby.., may I take your photo?'...Ah, si Ibu Indian ga mau difoto, ya sudah...lain kali aku mau jadi paparazi, tembak jarak jauh).
United Nations Day,a Celebration... (sejarahnya kapan-kapan aku tulis lagi, ya, sebagai 'catatan
kaki'..kaki yang panjaaang...).., jam 9 pagi aku datang kembali ke skul untuk dandani Alma memakai kostum Indonesia, seadanya, (Lo percaya ga, kebaya yang dipakai Alma ni adalah kebayaku waktu menikah! Summ..pahhh! dan skarang dipakai anakku yang kelas 3 SD.., lha mbiyen ki awakku sing kurus apa sekarang anakku yang kegemukan? Mbuh lah, tapi itu fakta...)
Di ruang perpustakaan, kira-kira 40 anak sudah siap dengan kostumnya (tidak semua anak memakai kostum hari ini, karena ini sifatnya permintaan untuk partisipasi, bukan paksaan, bukan harus), yang tidak memakai kostum, akan 'simpuh' di lantai sebagai penonton.
Di ruang teater yang tidak terlalu besar, anak-anak dengan kostum berparade, dan sampai stage, memperagakan "We speak many languages" dengan mengucapkan "salam" dalam berbagai bahasa..., whoa..., hebats...
(Aku gak iso nirokke kabeh to, pokoke ya ada yang ala Jepang, ala arab, ala India, ala Bolivia, ala
Salvador, ala Mexico, ala Spanyol, ala Cina, ala Indonesia, ala Mali...wuakeh.., bikin aku m
enangis..,lihatlah, di manapun tempat di dunia ini, anak-anak, anak siapa pun, memang menakjubkan, miracle...).
"Hola, i'm from Mexico, Halo, i'm from..." bla-bla-bla, yang jelas tertangkap kupingku ya, "selamat Pagi,
saya dari Indonesia.." itu suara anakku, satu-satunya makhluk Indonesia di SD Barrett ini.
Acaranya sederhana, salah satu guru, Lady Narator (aku belum tau namanya), berpakaian seperti koboi
perempuan di Teksas, pidato begini, kurang lebih, "Halo, anak-anak semua, para guru, dan tamu yang hadir.., hari ini kita merayakan United Nations Day (terus terang aku ga pasti, sbenere perayaannya tu tanggal hari ini, 23 Oktober apa besok, 24 Oktober.., ga bgitu penting lah yauw). Kalian tahu, anak-anak, bahwa Amerika memang mengundang semua orang dari bangsa manapun, untuk tinggal dan hidup bersama di negeri ini. Lihatlah, kita memang berbeda, ada yang kurus, gemuk, rambut lurus, kriting, hitam, putih, kuning.., indah bukan karunia Tuhan ini? Bisakah kalian bayangkan, bila kita semua sama? Tak ada beda..., apa bagusnya? Yang penting kita di sini berpikir, bahwa perbedaan akan membawa warna hidup, bahwa meski kita berbeda, tapi dengan kebersamaan, kita akan kuat.., untuk berjuang demi anak-anak, agar lebih maju, lebih berkembang, dan tetap bahagia..." (Bagi aku, pidato ini huebats!).
Kemudian, diselingi dengan anak-anak nyanyi bersama, kadang karaoke, kadang dengan iringan musik, kadang dengan acapela, dipandu 2 guru, satu cowok dan satu cewek. Pastilah tidak semua anak bisa melafalkan syairnya, tapi kok nyanyian mereka, lagi-lagi membuatku menangis..., mereka pasti bernyanyi dengan jiwa dan hatinya..(ada yang syairnya gini, "Aku akan menjadi kawanmu, kapan pun, tak peduli, meski kaos kaki pinkmu bau, meski kau tak pernah sikat gigi...he2...)
Nah, ini lagi yang membuatku salut, di antara nyanyian yang didendangkan bersama oleh anak-anak, diputar video tentang True Story, 3 guru senior (aku juga belum hapal nama-nama mereka, maaf Mam, bukan ga hormat, bener -bener karena belum sempat gaul aja sama penjenengan sami...).
Masing-masing guru senior itu, menjadi narator bagi video True Storynya sendiri-sendiri. Dua orang di
antaranya,long-long time ago,adalah Imigran dari daerah di luar Amerika, yang sesuai jamannya, adalah
keluarga besar, 12 bersaudara, 6 bersaudara. Mereka, dengan bukan maksud menyombongkan diri, menceritakan, bagaimana sulitnya hidup waktu itu, tapi karena para orang tua mereka berpikiran maju, dibela-belain dah, kluarga besar itu pindah dari satu tempat ke tempat lain, dan akhirnya ke Amerika, untuk bisa belajar, dan sekolah lebih baik. Dan yang ke tiga, seorang guru asli Amerika, yang pada jamannya, Bapak dan Ibunya, mau ga mau harus ikut Wajib Militer...bla-bla-bla..., intinya mereka bertiga mempunyai kesadaran untuk berjuang dan terus belajar. Terakhir narasi, mereka, dengan bahasa yang hampir serupa, bilang, "Sekarang, aku di sini, di SD Barrett, dengan cinta dan hati, ingin mendampingi kalian berkembang jadi lebih maju..."
Whoah..., ini SD Barrett, ini di Amerika, tapi anak-anak ini, siswa-siswanya sangat menakjubkan, ada anak orang pas-pasan, ada anak yang homeless yang ga punya rumah, ada anak yang diberi gratisan smua fasilitasnya kayak anakku, ada anak-anak Indian yang benar-benar masih sangat sederhana..., tentu saja ini akan kalah hebat dengan sekolah-sekolah Internasional di Indonesia, dengan kurikulum ketat, dengan pengantar bahasa Inggris, dengan pengajar yang kebanyakan native alias orang asli dari negara bule..., pastilah kalah kita-kita ini, boo!
Tapi, lihatlah anak-anak ini, aku akan dan sangat percaya, KEMATANGAN EMOSIONAL mereka akan berkembang dengan baik, karena kurikulum di sini "njlimet", digodog dengan berbasis ilmu Psikologi. Ya Psikologi anak, keilmuan, pendidikan, dan seterusnya.., bukan hanya penyampaian ilmu murni. Singkat kata, sistem pembelajaran di SD ini sangat persuasif, merangsang kreatifitas, penghargaan terhadap orang lain yang demikian tinggi...

"Oke, anak-anak, waktunya istirahat", begitu kata Narator, ketika mengakhiri acara United Nations Day, satu-satu, anak-anak berjalan berbaris dengan santai, didampingi gurunya masing-masing. Setelah ganti kostum, anakku lari ke "backyard" menyusul guru dan teman-temannya, "Daahhh, Mamah, aku mau naik tangga tambang dan prosotan..." Wo, lha dirimu ki SD po Kindergarten, to, Nok? Kok masih pake prosotan, dan guru kelasnya mendampingi bahkan sampai ke backyard.., Lha kuwi salah satu nilai tambahnya, knapa anakku berani bilang, "Skolah di sini lebih enak..," bahkan sejak hari pertama mereka masuk sekolah.
Ternyata Amerika bilang, "Bocah ki yo tetep bocah, di mana aja, selain belajar, disiplin, kasih sayang, ..tentu saja, boo, mereka perlu, dan senang bermain!"
Nah..,lo... Halow, bapak ibu guru teman-teman ane..., what will you say about thissss? Heh..heh..heh..heh..
Salam Hiawata!!!
North Carlin Spring
Arlington, Virginia
Dian,
Di sini jam 9.38 malam, hari Jumat tanggal 23 Oktober 2009, musim Gugur
Posted by Janu Jolang at 8:37 AM 0 comments
Tuesday, September 29, 2009
CerpenRantau: Kereta Terakhir Ayah
Oleh Janu Jolang
(Terbit di Kompas.com,Oase,Kamis, 17 September 2009)
Aku berada di stasiun Yogyakarta sore itu, menunggu dengan gelisah kereta Purbaya dari arah Surabaya. Ayahku sakit keras, demikian kabar yang kuterima dan aku harus segera pulang. Barangkali ini saatnya, saat ajal menjemput Ayah. Bukannya aku tak hormat pada beliau, atau tak sayang – tapi beberapakali terlintas dalam pikiranku kapan Ayah meninggal dunia. Dan mungkin ini saatnya.
Hampir satu jam kumenunggu, akhirnya kereta kelas rakyat itu nampak juga di kejauhan, bergoyang lelah di atas bantalan rel. Kereta berhenti menurunkan sebagian penumpang yang keletihan karena seharian terkurung dalam gerbong. Aku bergegas naik, berebut dengan penjaja asongan yang menawarkan bakpia Pathuk. Gerbong terasa pengap, kucium bau khas kereta kumuh. Barangkali dari asap diesel yang menempel dinding dan tertutup debu, bercampur dengan kulit jeruk dan cangkang telur asin yang berserakan di lantai. Aroma itu tiba-tiba memicu kepiluan diriku. Setiap orang akan mati, dan mungkin kini giliran ayahku. Kematian adalah satu paket dengan kehidupan. Dan ketika aku mulai mengenal arti sebuah kematian, aku makin takut memikirkannya. Perasaanku, hidup hanyalah sekedar menanti proses kematian yang menakutkan.
Tiba-tiba lamunanku buyar oleh hentakan gerbong. Kereta mulai jalan. Kusapu pandangan keluar jendela. Rumah – rumah di pinggir rel seolah berkelebat melewatiku satu demi satu. Sempat kuhitung tak lama konsentrasiku buyar. Ayahku mengenalkan permainan itu ketika aku masih kecil. Apa manfaatnya aku tidak tahu. Barangkali sekedar belajar menghitung, atau sekedar menghabiskan waktu di kereta. Tapi mungkin juga untuk melatih konsentrasi anak kecil -- karena begitu kereta lewat persawahan, tak ada satu rumahpun yang kutemui sampai ketika aku menemui rumah lagi aku sudah lupa berapa jumlah yang kuhitung. Dan Ayah kini tergolek sakit menanti ajal.
Apakah beliau juga menghitung hari - harinya sekedar menghabiskan waktu? Seperti terpidana mati yang menandai hari dengan mencoret dinding begitu matahari tenggelam di ufuk Barat? Adakah sesuatu yang bisa dimaknai Ayah dari penderitaan itu?
Sakitnya sendiri datang perlahan-lahan, hanya seperti kesemutan di telapak tangan kanan. Seiring berjalannya waktu, tangan menjadi kehilangan tenaga, menjalar ke tangan kiri, dan terus ke kaki. Dokter rumah sakit di kotaku tak tahu pasti penyakitnya. Ayahku lumpuh perlahan-lahan, Ia berjuang keras melawan penyakit misteriusnya. Adik ipar ayah yang tahu tentang hal-hal gaib menganjurkan pengobatan spiritual. Sepertinya dalam terawangan Paman, Ayah terkena guna-guna. Paman kemudian membawa dukun sakti ke rumah.
“Buat apa kamu bawa dukun segala, Dik?”
“Ini orang pinter langganan pejabat penting di Pusat, Mas. Menteri Anu disantet berkali-kali dan semuanya balik ke pengirimnya. Apa salahnya dicoba Mas, siapa tahu cocok.”
Dan hari berlalu - makin banyak dukun – dukun berdatangan. Ayahku tak pernah percaya dukun sebelumnya tapi entah kenapa sekarang berubah. Barangkali bujukan paman atau putus asa karena penyakitnya. Ayahku tampak pasrah.
Setiap dukun yang datang punya penglihatan dan pengobatannya sendiri. Ada yang bilang ayahku diguna-guna dan si dukun beraksi menghilangkan guna-guna itu. Kenyataannya sakit ayahku makin parah. Kedua tangannya lumpuh dan kaki sudah mulai kehilangan tenaga. Ayah hanya bisa duduk di kursi roda.
Lain hari ada dukun yang bilang rumah kami sesungguhnya adalah Pasar Setan, tempat makhluk halus berjual-beli barang dagangan. Si dukun lantas membuat ritual sedekah dedemit. Waktu berlalu, ternyata tak ada perubahan juga pada diri Ayah. Dan yang lebih keterlaluan lagi, terawangan si dukun muda yang bilang bahwa Ayah terkena karma sehingga untuk menebusnya harus menyembelih kambing delapan ekor dan 'nanggap' wayang semalam suntuk. Belum lagi seorang dukun yang mengatakan Ayah terkena penyakit tulang dan memberikan jejamuan yang pahitnya nggak ketulungan hingga mampu merontokkan tahi lalat di sekujur tubuh ayah.
Dari semua dukun yang mengobati Ayah, kupahami ilmu kedigdayaan mereka saling bertolak belakang. Aku kasihan Ayah hanya dijadikan obyek belaka, sepertinya Ayah tempat berbagai macam penyakit, karma, dan guna-guna. Tak ada seorang dukunpun yang berhasil menyembuhkannya. Hari-hari ayahpun selanjutnya hanya tergolek di tempat tidur.
Kereta berjalan lambat, di depanku duduk anak kecil bersama ayahnya. Anak kecil itu mulai mengantuk, barangkali kelelahan. Walau demikian kulihat garis mata dan mulutnya menampakkan rona bahagia. Kualihkan pandangan ke luar jendela. Sore itu di ufuk Barat matahari hampir tenggelam menyisakan rona merah kekuningan. Di antara Kutoarjo - Kebumen kulihat ribuan burung yang terbang rendah saling berpapasan, berhimpitan, dan tak satupun yang bertabrakan. Mereka mencari sarangnya dalam rumah-rumah kosong. Aku tak tau pasti itu gerombolan burung Walet atau Sriti, tapi yang pasti pemandangan itu selalu menghadirkan ketakjuban bagiku. Sejenak kurasakan udara masih menyisakan panas yang menyengat. Aku teringat ketika Ayah menangis dalam pembaringan meneteskan air mata. Barangkali Ayah sedang kebingungan memikirkan bagaimana nasib anak-anaknya kelak.
Kepulanganku waktu itu karena aku butuh uang untuk membayar uang sekolah di tingkat pertamaku kuliah. Hal itu menyadarkan Ayah bahwa anak - anaknya masih membutuhkan biaya untuk sekolah. Tanpa pikir panjang, dengan pengorbanannya Ayah menghentikan membeli obat-obatan pemacu syaraf otot yang berharga mahal. Untung Ibu adalah seorang yang sabar dalam merawat Ayah. Ibu selalu membesarkan hati Ayah. Kalau tidak, barangkali Ayah tak sanggup lagi menanggung derita sakitnya. Juga ajakan pasrah kepada Tuhan membuat Ayah semakin bisa menerima keadaan dirinya.
Lampu gerbong tak menyala - kereta gelap gulita. Lewat cahaya lampu dari luar yang sesekali masuk kulihat anak kecil itu ketakutan. Ia bolak – balik menengok ayahnya, sorot mata itu seolah menyatakan Ia takut kehilangan ayahnya. Dan betul, ketika kereta memasuki terowongan Ijo – anak kecil itu menangis keras-keras. Bunyi bising udara dalam terowongan barangkali menambah ketakutan anak kecil itu. Sepertinya Ia benar-benar kehilangan Ayah dari penglihatan dan pendengarannya.
Entah di stasiun mana, kereta berhenti agak lama. Rasanya waktu berjalan lambat. Aku tak sabar ingin cepat sampai rumah melihat kondisi Ayah. Kereta bisnis menyusul dari belakang dan berhenti di rel samping, tanpa pikir panjang Aku memutuskan pindah kereta. Sisa perjalanan itu sendiri tak menarik lagi bagiku.
Sampai di rumah orang-orang telah berkumpul . Beberapa membacakan surat Yasin. Aku masuk ke dalam kamar. Kulihat Ibu sangat sedih, tapi ketabahan merawat Ayah selama ini memunculkan ketegaran diri. Kakak, adik, paman, dan kerabat keluarga semuanya juga sedih. Bagi beberapa orang yang mempunyai ide mencintai kehidupan, tentu Ia juga mencintai kematian itu sendiri. Barangkali sugesti mencintai kematian akan mempermudah saat maut menjemput. Makin dilawan makin sakit kita dibuatnya. Tapi insting alamiah makhluk hidup adalah mempertahankan hidupnya.
Setiap hari tubuh kita merasakan kesakitan, ketidaknyamanan, tak lain karena tubuh ingin tetap hidup. Dalam kadarnya yang paling ringan, rasa gatal di kulit adalah cara tubuh bereaksi terhadap ancaman dari luar. Juga bersin, atau batuk. Tapi dalam kadar akut, kulit yang tadinya gatal akan timbul nanah, melepuh, juga hidung yang bengkak atau tenggorokan yang meradang. Panas tubuh berubah tinggi, dan badan menggigil. Itu sebuah perlawanan tubuh secara alamiah terhadap serangan penyakit.
Dan disaat terakhirnya kulihat Ayah berjuang keras melawan maut. Aku tak hirau apakah itu reaksi tubuh secara alamiah atau memang Ayah ingin bertahan hidup. Nafasnya sengal seolah paru-paru sudah tak mampu lagi menarik udara. Matanya memancarkan sebuah pertahanan hidup. Apa yang bisa kauharapkan lebih dari seseorang yang berjuang melawan ajal. Tak seorangpun berhak menilai, biar dukun, alim ulama atau seorang sucipun, kematian tidaklah sekedar diomongkan sebagai kematian yang mudah, susah, menyakitkan, atau memalukan.
Bagiku ayah terlihat jantan dan tegar. Disetiap senggal tarikan nafasnya ada keberanian menatap maut, dengan kesadaran diri masih terpancar di matanya. Barangkali itulah satu-satunya yang ditunggu Ayah selama sakitnya.
Bagiku sangat manusiawi,“ .... sesuatu yang pasti dalam kehidupan ini adalah kematian, Ayah. Selamat jalan”
********
Kenangan
Stasiun Yogyakarta
Posted by Janu Jolang at 12:01 AM 1 comments
Wednesday, September 9, 2009
STUPID CRIMES 3
Laki-laki dari Sarasota ditangkap pada hari Minggu karena mengijinkan anaknya yang baru berumur 8 tahun mengendarai mobil. Akibatnya parking lot rusak.
MB, 34 tahun mengatakan kepada polisi bahwa ia menyuruh anaknya menggantikannya dibalik kemudi karena ia merasa 'woozy' alias pusing. Anaknya hampir menabrak dua pejalan kaki sebelum akhirnya menabrak pohon. Ketika polisi menanyakan kepada anak kecil itu, ia menjawab bahwa bapaknya baru saja meminum obat cair supaya reda sakitnya, sambil si anak menunjuk pada sebuah botol whiskey. (Dari Tabloid Examiner)
Janu Jolang
Catatan Saku Imigran Gelap Di Amerika
Posted by Janu Jolang at 12:09 AM 0 comments
Wednesday, August 5, 2009
KERJA DI RESTORAN TAK HARUS PANDAI BERCAKAP INGGRIS
Ya begitulah kenyataannya. Biarkata di Amerika bahasa resmi yang dipakai bahasa Inggris, tapi untuk bekerja di restoran tak harus pandai bercakap Inggris. Yang penting cukup ngerti Inggris pasif, dan lebih penting lagi harus bertenaga kuat alias 'manol', cepat, sekaligus tanggap. Untuk pekerjaan 'dish washer' alias tukang cuci piring, hanya dibutuhkan 1 Kata Kerja atau Verb yang harus diingat yaitu: Wash. Ditambah 2 Kata Benda/Noun yang juga harus diingat, Plate dan Glass. Itu sudah cukup. Kalau restoran ramai maka si tukang cuci piring ketambahan 1 Kata lagi: Faster! Faster!
Untuk pekerjaan Dapur seperti Kitchen Helper, perbendaraan Kata Kerja bertambah dengan beberapa kata antara lain: Cut, Cook, Make, dan Get, sedangkan perbendaharaan Kata Benda yang harus diingat cukup banyak, seperti sayuran, daging dan bumbu-bumbu antara lain: carrot, scallion, onion, garlic, cilantro, pork, salmon, white meat, ribeye, flank beef, salt, pepper, soy sauce, dan lainnya. Kalau orderan banyak, tiket menumpuk, maka teriakan para 'waiter' kepada juru masak membuat mereka jengkel. Satu kalimat yang (harus) dipelajari untuk menunjukkan ekspresi kejengkelan mereka adalah,” Don't push me, okay!!!”
Begitulah kondisi sehari-hari dunia restoran, bahasa yang dipakai adalah Inggris simple dan kebanyakan bernada perintah. Untuk memahaminya pun semudah memahami tanda-tanda lalu lintas atau instruksi – instruksi di tempat umum. No Park, Keep Right, Stop, Exit Train/Bus – Watch Your Step, Don't Lean on Doors, atau No Trespassing - Private Property.
Memang untuk pekerjaan kasar dan rendahan (salah satunya di restoran) tak banyak dibutuhkan kecakapan berbicara. Lowongan pekerjaan itulah yang kebanyakan diisi para pendatang dari berbagai penjuru dunia. Mulai dari tukang bersih gedung, tukang potong rumput, kuli panggul, sampai pekerja bangunan. Maka tak heran kalau kita menemui banyak imigran yang sudah puluhan tahun tinggal di Amerika tapi tak bisa bahasa Inggris.
Hal itu bisa ditemui salahsatunya di kawasan China Town New York. Kebanyakan para penghuninya yang imigran dari China tak bisa bahasa Inggris. Selain pekerjaannya memang tak perlu banyak bicara, juga setiap harinya hanya berinteraksi dengan komunitasnya sendiri. Mau belanja yang jualan orang China, badan sakit perginya ke tabib China, cari kerja restoran yang punya orang China. Bahkan untuk hal transportasi, mereka punya trayek bis (supirnya orang China) yang menghubungkan China Town lainnya di penjuru Amerika. Pokoknya mereka serasa hidup di kampung halaman sendiri.
Hampir mirip ceritanya, demikian pula imigran dari Africa, Jamaica, Vietnam, Mexico, Puertorico, Cuba, Honduras, atau El Salvador. Mereka secara kultur dan etnis membentuk kantong – kantong komunitasnya sendiri. Walau tak bisa dipungkiri, komunitas 'ghetto' tersebut lebih terbentuk karena faktor kemiskinan dan pembatasan terhadap minoritas rasial kaum pendatang.
Janu Jolang
Catatan Saku Imigran Gelap Di Amerika
Posted by Janu Jolang at 12:57 AM 0 comments
Wednesday, July 29, 2009
INDIVIDU FATALIS
DARI KOLOM TENTANG HUKUM DI TABLOID EXAMINER KUTEMUKAN BERITA INI:
COURT
WAUSAU,WIS.
Seorang wanita yang melihat gadis cilik usia 11 tahun sekarat, bersaksi di depan pengadilan bahwa ia shock melihat kondisi gadis cilik itu, tapi tak pernah menyarankan keluarganya untuk membawa ke dokter. Jennifer Peaslee bersaksi hari Rabu dalam persidangan ibu si gadis cilik, Leilani Neumann.
Neumann di dakwa melakukan 'second-degree reckless homicide' karena lebih mempercayai permohonan doa daripada membawa anaknya ke dokter. Medeline akhirnya meninggal pada 23 Maret 2008 karena diabetes akut.
Peaslee mengatakan Ia melihat Medeline pagi itu dalam kondisi parah tergeletak di kamar mandi. Gadis cilik itu mengatakan bahwa dia tahu orangtuanya tak akan membawanya ke dokter karena mereka percaya bahwa Tuhan akan menyembuhkannya.--AP (Dari Examiner 21 Mei 2009)
(Catatan: Aku tak habis mengerti motif apa yang membuat si ibu menerlantarkan anaknya hingga meninggal. Apakah Ia tidak mempercayai ilmu medis yang (barangkali) bisa menyembuhkan penyakit anaknya? Atau sebaliknya si ibu lebih percaya bahwa kuasa Tuhan di atas segala-galanya, dan akan menyembuhkan anaknya? Sungguh ironis mendengar keyakinan si ibu akan kemanjuran doa terhadap penyakit anaknya.
Kadang dalam diri seseorang, antara kehidupan spiritual dan kehidupan nyata bercampur aduk, jumbuh, dan susah menarik benang merah pertalian. Antara hubungan dirinya dengan Tuhan, hubungan dirinya dengan manusia lain, antara akhirat dan duniawi, antara yang gaib dan nyata, antara mukjizat dan kodrat alam.
Di Amerika hukum tidak bisa mengadili keyakinan seseorang. Entah Ia penganut faham Fatalis, sebuah doktrin filosofis yang mempercayai bahwa semua kejadian telah ditentukan sebelumnya, dan manusia tidak berdaya untuk merubahnya.
Atau dia penganut faham Atheis yang tidak mempercayai keberadaan Tuhan, sebaliknya dia lebih mempercayai Ilmu Pengetahuan - Teknologi.
Atau seseorang yang berkeyakinan bahwa Ilmu Pengetahuan - Teknologi merupakan salah satu hukum Tuhan (Walau kadang timbul kontroversi antara Tuhan dan Ilmu Pengetahuan - Teknologi, Mereka berusaha menarik benang merah antara keduanya). Tuhan mengajarkan manusia untuk belajar dari Alam Semesta. Dari yang tidak tahu menjadi tahu, dari jahiliyah menuju berperadaban, dari sosok bocah kecil menjadi dewasa. Ada proses pencerahan di dalamnya. Tuhan tidak akan merubah nasib seseorang kalau dia tidak berusaha merubahnya.
Karena Amerika negara sekuler, semua produk hukumnya tidak mendasarkan pada hukum agama melainkan berdasar hukum positif, berdasarkan etika – etika kemanusiaan, hak azasi manusia, dan hak untuk hidup tanpa paksaan dan tekanan. Entah Ia beragama Kristen, Islam, Budha, atau Atheis, Agnostic, Ras Asia, Kaukasia, Afrika, Kaya, Miskin, Laki-laki, atau Perempuan. Semua orang dengan berbagai keyakinan, agama, ras, dan strata sosial sama di mata hukum.Yang bisa diadili adalah akibat dari keyakinan yang dianutnya itu akankah menimbulkan: kebencian, kerugian, cedera, atau kematian terhadap individu lain maupun tata sosial masyarakat.)
Janu Jolang
Catatan Saku Imigran Gelap Di Amerika
Posted by Janu Jolang at 11:00 PM 0 comments
Friday, July 10, 2009
STUPID CRIMES 3
Otoritas di South Carolina sedang menyelidiki kasus seorang laki-laki jangkung yang telah meninggal dunia, dan dipercaya kakinya telah dipotong untuk bisa pas dengan ukuran peti matinya.
Sejak James Hines yang berukuran 6foot 7inch meninggal di tahun 2004, rumor menyebar di Allendale County bahwa pihak pengurusan jenazah telah memotong kakinya dari lutut dan menempatkannya disamping tubuh di peti matinya. Janda Hines tidak menanyakan ukuran peti mati waktu itu tapi kemudian dilaporkan ia mengontak rumah pemakaman untuk menanyakan tentang ukuran luas makamnya. Penyelidikan berlanjut.. (dari Tabloid Examiner)
Janu Jolang
Catatan Saku Imigran Gelap Di Amerika
Posted by Janu Jolang at 12:54 AM 0 comments