Thursday, January 1, 2009

Kuliner Rantau: Makan Bakso

Bakso adalah makanan populer bagi masyarakat Indonesia. Kuahnya yang sedap serta daging sapi yang kenyal sanggup menggelitik lidah kita untuk bergoyang. Apalagi ditambah dengan sambel pedas serta kecap manis, lengkap sudah kenikmatan dalam memanjakan lidah kita.

Bagi perantau asal Indonesia, khususnya yang tinggal di Amerika bagian Timur, kerinduan akan cita rasa bakso sedikit terobati dengan adanya restoran Vietnam yang berlabel Pho yang berarti "sup".
Menurut sejarahnya, Pho berasal dari Vietnam Utara pada tahun 1880an. Mereka meyakini Pho dipengaruhi oleh cara memasak dari China dan Prancis. Pho memakai mie berbahan beras dan menggunakan rempah - rempahan yang kala itu diimpor dari China. Sedangkan kebiasaan memakan daging sapi setengah matang dan juga memanggang bawang bombay untuk mendapatkan cita rasa kuah yang lezat adalah pengaruh dari Prancis.


Salah satu tempat yang ramai dikunjungi orang - orang Indonesia adalah Pho 75 yang terletak di daerah Rosslyn, Arlington Virginia. Jangan heran di restoran ini sering terdengar orang bercakap dalam bahasa Indonesia. Entah itu bercakap masalah negara karena memang banyak orang yang bekerja di kedutaan Indonesia yang makan di sana, atau beberapa berceloteh tentang suka dukanya bekerja di Amerika. Mereka - mereka itu adalah para perantau yang mencari nafkah di sini. Dan yang terakhir, restoran ini juga sering dikunjungi para pelajar Indonesia yang sedang menimba ilmu di sini.

Restoran Pho75 sendiri tidaklah mementingkan tempat yang mewah. Hanya dengan menempatkan meja panjang berderet beserta kursi - kursinya, Anda siap melahap pho seperti layaknya makan di warung bakso di Indonesia.
Khusus hari Minggu, antrian pengunjung tampak mengular terjadi pada jam makan siang. Sampai - sampai si Empunya menyediakan kurang lebih 80 galon kuah sup mendidih yang siap disantap. Dalam hal pelayanan, restoran ini terbilang seadanya. Setelah Anda diberi tempat duduk, Pelayan datang dengan wajah tanpa ekspresi sambil menyerahkan menu, beberapa menit kemudian dengan secarik kertas di tangan, tanpa banyak omong, pelayan siap menulis pesanan Anda. Ada kurang lebih 20 jenis variasi pho yang disediakan restoran ini.
Sekedar info tambahan, walau tempat dan pelayanannya sederhana, restoran ini selalu memenangkan penghargaan dari Washingtonian sebagai salah satu restoran yang menjual makanan enak dan murah. Ada 21 piagam menempel di dinding yang berarti sudah 21 tahun restoran ini memenangkannya.

Pertamakali mencoba Pho, kita langsung jatuh cinta dibuatnya. Kuahnya yang harum dan lezat ternyata berasal dari perpaduan kuah daging sapi dan bermacam bumbu seperti cinnamon, jahe, star anis, cengkeh, serta dipadu dengan bawang bombay yang dibakar.
Kebanyakan orang Indonesia suka memilih menu Bo vien yang berarti meat ball atau bakso saja. Tetapi kalau Anda tertarik merasakan berbagai rasa daging sapi dalam semangkuk pho, maka menu no.1 adalah pilihan yang paling komplit. Di dalamnya terdapat irisan tipis flank beef atau daging dari bagian perut, irisan brisket beef yang diambil dari daging diantara dada dan iga, babat, tendon, dan irisan tipis daging setengah mateng. Untuk yang terakhir, sebetulnya dagingnya masih mentah - tapi berhubung disiram kuah panas maka berubah jadi pink kecoklatan alias setengah mateng. Tapi jangan tanya rasa dagingnya, juicy banget!!

Selain daging, kita juga dimanja oleh isi garnisnya yang bermacam - macam, diantaranya kecambah, thai basil yang rasanya persis daun kemangi, cilantro, daun bawang, irisan bawang bombay, dan jalapeno. Terakhir sebagai penyedap rasa, disediakan jeruk nipis, sambel pedas sriracha, dan hoisin sauce dari buah plum.

Seperti makan bakso, cara makan Pho-pun bermacam-macam tergantung bagaimana cara kita menikmatinya. Kebanyakan orang Indonesia, karena terbawa cara makan bakso ala Indonesia, mereka senang mencampurkan sambel pedas sriracha dan hoisin sauce ke dalam kuah. Bahkan ada seorang teman, setiap dia pergi makan Pho tak pernah lupa membawa sambel pedas ABC dari rumah. Selain itu ia suka mencampurkan kecambah, kemangi, dan jeruk nipis ke dalam mangkuknya.
Dari beberapa teman Vietnam, mereka punya cara makan yang berbeda, yaitu dengan mencampurkan sambal pedas, jeruk nipis, dan hoisin sauce ke dalam cawan kecil, sedangkan kuahnya dibiarkan apa adanya. Kondimen yang dicampur dalam cawan itu digunakan buat mencocol dagingnya. Kata mereka, rasa daging sapi akan lebih keluar, dan setelah saya mencoba cara ini ternyata memang rasa dagingnya lebih nonjok di lidah. Sayapun bisa menikmati kuahnya yang memang sudah lezat, dengan bunyi sruputan yang terdengar sampai meja sebelah.


Untuk menyantap semangkuk pho ukuran besar, Anda harus rela merogoh kocek sebesar $ 6.80, sedangkan mangkuk kecil $5.95. Untuk extra topping, entah itu bakso, babat, tendon atau brisket dikenai harga 1 dollar. Dan restoran ini hanya menerima pembayaran tunai saja alias tidak menerima credit card. Selamat mencoba....
(Janu Jolang - ditulis untuk Kompas online, Kokifood)



No comments:

 
Site Meter