Saturday, December 12, 2009

DuniaIbuAnak: MEMBIASAKAN DIRI

Membiasakan diri.., untuk banyak hal, apalagi hal yang baik, positif, memang memerlukan proses dan perjuangan. Seperti beberapa pandangan dan pengalamanku sehari-hari, mungkin hal yang kecil, ringan,sederhana. Aku tuliskan, ya.., buat teman-teman semua, mungkin ada sedikit gunanya, atau yang punya pandangan lain, silakah share, bagi-bagi, ini semua bukan bermaksud untuk menggurui.., ya to ..

Masalah anak-anak sekolah, dalam hal ini ya anak-anak sekolah usia Sekolah Dasar, karena anak-anakku masih duduk di bangku SD. Dalam usia ini keinginan mereka untuk banyak hal mulai berkembang pesat, dan juga masih sangat materialistik. Mereka sangat mudah untuk menangkap hal-hal yang nyata, bersifat kebendaan, dan tentu saja, sesuatu yang menyenangkan..

ya.., contohnya, dari pengen punya HP sendiri, pengen memiliki mainan yang canggih-canggih, dan lain-lain. Yah, korban iklan juga aku pikir..

Inilah kurang lebih sedikit terjemahan dari "the small world", buat anak-anak. Bagi mereka, yang ada adalah kasih sayang, nyaman, aman, senang. Karena itu adalah hal yang cukup sulit untuk menerapkan hal yang "tidak enak" bagi anak-anak, seperti penerapan disiplin, berusaha, berhemat, dan seterusnya ...

Tapi itu bukan berarti anak-anak tidak mau belajar hal-hal di luar "the small world" mereka. Hanya, mungkin caranya yang harus kita bantu carikan, agar sesuai dengan zona berpikir mereka. Kalau ini sudah "match", anak-anak pun akan dengan "smooth" mengalir, belajar tentang hal-hal yang lebih berat dari sekedar hal yang membuat mereka senang.

Inilah cerita itu..,
Dulu, waktu masih di Indonesia, anak-anakku dengan mudah mendapatkan "dunianya", misalnya main game semacam Timezone di mal, atau membeli apa pun yang mereka inginkan, karena selain ada aku, Mamahnya, mereka boleh jadi juga "disupport" oleh sanak saudara, seperti Tante, Bude, dan Eyangnya. Nyaman banget kan? Habis ke mal sama Mamahnya, besok sama Tantenya, besok lagi ikut Budenya, besok lagi ngajak Eyangnya..

Ketika pertama-tama main Timezone, aku belikan koin seharga 50 ribu rupiah, dan akulah yang pegang koin tersebut. Dua anakku ambil sedikit demi sedikit dari tanganku. Dan ketika aku bilang, "koin habis..main selesai.., pulang yok..

"Mereka masih nawar, "Beli lagi dong, Mah.."

Mana tega bilang TIDAK ? Maka aku beli koin lagi, dan gak terasa, seratus ribu melayang hanya untuk membeli koin..

Aku pikir, boros juga nih, kalau seminggu dua kali harus beli koin seharga ini..he2..pasti jatah bensin yang harus berkurang, karena jatah makan kan gak mungkin dikurangi..ya gak..

Lain waktu, aku berusaha berdiskusi dengan anak-anak, bagaimana untuk tidak membuang uang hanya untuk memuaskan diri sendiri yang kurang berguna. Mereka tampaknya cukup mengerti, meski ya, protes juga.

Akhirnya ketika mereka nagih buat main game di mal, masing-masing anak aku beri uang 25 ribu rupiah. "Terserah, mau buat beli koin, atau mau buat naik kereta, atau mau buat beli es krim.., gak boleh nambah.."

Dan mereka langsung ngabur beli koin, main game. Habis koin, mereka kembali mendatangiku, "Plis, Mah..tambah dong, sepuluh ribu aja.."

"Tidak, Nak..cukup sudah mainnya. Ini masih ada sisa uang 50 ribu jatah kalian, tapi gak boleh buat beli koin lagi. Mau buat beli apa?" kataku.

"Beli buku aja, Mah.." seru mereka.

Maka, masuklah kami ke toko buku, dan uang 50 ribu aku serahkan pada mereka. Aku cuma nungguin aja, mau liat, apa yang akan mereka buat. Ternyata, mereka beli komik Doraemon, dapat 4 buah. Ya, baguslah, meski yang mereka beli cuma komik...

Kali berikutnya, aku bilang, "Sekarang jatah main gak 3 hari sekali, tapi hanya ketika Mamah punya uang lebih..."

Mereka karuan saja protes, dan aku bilang, "kalaupun uangnya ada, tapi bukan buat foya-foya.., tolong pikirkan, nanti sekali waktu Mamah tetap kasih uang buat kalian, tapi gak banyak-banyak ..."

Dan ketika suatu hari, kembali aku beri mereka uang, ternyata, mereka dengan "rakusnya" kembali membelanjakan uangnya buat beli komik, buku bacaan anak-anak, dan stiker. Oke, tak apalah, masih lebih positif, ada perkembangan..

Dan yang gak aku sangka-sangka, kedua anak perempuanku, kelas 5 dan kelas 2 SD ini, di rumah sibuk sendiri, mencatat semua judul buku, dan memotong-motong stiker menjadi bagian-bagian kecil yang terpisah. Kemudian mereka ngaduk-aduk loker properti kreasi masakku, yang isinya antara lain berbagai macam kantong plastik dalam banyak ukuran. Dan mereka ambil plastik pengemas kacang bawang yang kecil-kecil tuh..

Ternyata mereka kemas stiker-stiker itu satu-satu, kemudian ditempel label harga, ada yang 800 rupiah untuk stiker yang besar, ada yang 600 rupiah, 500 rupian, sampai 150 rupiah untuk stiker yang terkecil.

Mereka juga minta dibuatkan stempel bertuliskan "Perpustakaan CedarAlma".., ya, aku turutin, mungkin biar bukunya gak tertukar dengan punya teman ketika dipinjam.

Apa yang terjadi ? Di luar pengetahuanku, ternyata mereka menjual stiker dan menyewakan buku bacaannya di sekolah..

Waduh..! Bisa jadi masalah nih kalau mengganggu ketertiban sekolah..Tapi ternyata mereka "pintar" juga, kegiatan jual menjual dan sewa menyewa mereka lakukan ketika waktu istirahat.

Gak tanggung-tanggung, tiap hari mereka bisa bawa pulang uang sekitar 30 ribu rupiah. Heleh.., ketawa juga aku akhirnya.., ada-ada aja nih (maksudnya, deg-degan, jaga-jaga kalau hal ini sampai mengganggu ketertiban sekolah, pastilah aku akan dipanggil Bapak Ibu Guru... )

Sampai di rumah, mereka akan mencatat pemasukan uang, dan ketika "dagangannya" habis, mereka minta aku antar ke toko untuk kulakan...

Lain waktu, mereka protes, "kok kita gak punya PS, Play Station, sih Mah..semua temanku punya, deh.."

Aku bilang, "Gak lah, Kak, Dek.., ntar kalau kita punya PS, Mamah takut kalian gak bisa berhenti main..malah gak belajar dan lain-lain.."

Dan ini kalimat protes yang lain, "bosan nih Mah.., di rumah mlulu..!"

Waduh.., perlu inovasi lagi untuk mengisi waktu luang nih..

He2.., dasar Emak-emak.., aku belanja di toko pernik, segala macam pita barang satu meter per satu warna, kain-kain flanel yang lucu-lucu warnanya, benang, kancing.., pokoknya yang gitu-gitu deh..

Sampai di rumah, aku main aja sendiri dengan properti baruku..gunting-gunting, jahit, masukkin kapas biar tampak 3 dimensi, hias-hias.., dan "Bagus, gak Kak, Dek..?" aku tunjukkan pada mereka.

Hiks lah.. Pucuk di cinta, ulam tiba. Akhirnya, dengan sangat terbata-bata mereka belajar membuat pola dari bentuk yang mereka inginkan. Tentu saja, bagi perempuan-perempuan kecil ini, bentuk Love, hati, adalah yang paling sederhana, mudah, dan indah. Dengan sangat hati-hati pula mereka membiasakan diri mereka untuk memasukkan benang pada jarum, dan menjahitnya tanpa melukai tangan.

Lagi-lagi, anakku yang "pedagang" itu bilang, "Jual, ya Mah.., kasih tali jadi gantungan kunci, nih..." Jawabku, "kamu harus bikin sampai rapih dulu, baru layak jual.."Tapi, dasar anak-anak, tanpa pengetahuanku, ternyata si Kakak sudah jual hasil karyanya ke teman-temannya, dan ketika "pesanan" bertambah banyak, dia bilang, "Plis lah Mah..bikinin ya.., ntar aku yang jual.."

Oke..Oke.., tampaknya kami cocok, aku bisa produksi, tapi "kelu" kalau harus bilang "mau beli gak..?" Tapi si Kakak yang biasa berdagang ini, kok bisa aja njual ke orang lain, aku juga gak ngerti gimana bahasa penawarannya. Bahkan dia mencatat dengan detil, begini misalnya, Pesanan : 1.Wahyu : Capung, badan hitam, sayap orange + kuning, 2. Nia : kupu, badan hijau, sayap hijau tua dan merah, 3. Gilang : kotak pensil, hitam putih, tulisan merah, gitu-gitulah...

Jadilah aku ikutan sibuk memproduksi pernik..

Bosan dengan jahitan, mereka bertanya lagi, "ada mainan baru gak..?"

Dan ketika mereka sekolah,aku, lagi-lagi belanja. Kali ini ke toko kecil di ujung jalan dekat trafficlight. Sudah berapa waktu aku sempatkan melirik toko ini ketika tertahan lampu merah. Aku "borong" tembikar kecil - kecil yang masih polos, dari harga 500 rupiah yang paling kecil. Ada bentuk tungku, kuali, wajan, piring, cangkir...Ingat gak, teman-teman, ini mainan kita ketika kecil dulu, ketika dunia main kita masih sangat sederhana,tembikar buat masak-masakan, petak umpet, loncat tali, yang sekarang sudah hampir semuanya digantikan dunia game yang bejibun macemnya tuh..Tak lupa aku beli kuas-kuas kecil, dan cat poster segala macam rupa.

Sampai rumah aku bilang, "Nih, mainan baru.."

"Buat apa Mah..kotor ah.." protes lagi deh..

Aku ambil lap, semua tembikar dibersihkan, dan ditempatkan di keranjang. Aku mulai beraksi, membuat cat dasar pada tembikar, mengeringkan, kemudian menggambarnya dengan bentuk sederhana seperti kelopak bunga, bentuk lingkaran, coretan..apa saja. Akhirnya jadilah sebuah piring tembikar yang cantik.

"OOhh.., begitu.." teriak mereka. Dan mulailah mereka menghabiskan waktu luangnya dengan melukis tembikar.

Kali ini aku bilang, "Gak usah dijual, Kak, Dek.."

Dan mainan ini gak cuma "laku" buat anak-anak perempuan, nyatanya ketika teman-temanku main ke rumah membawa anak-anak laki mereka, cowok-cowok kecil yang biasanya banyak bergerak lari sana sini ini, juga dengan asyiknya menggabungkan diri untuk bermain cat pada tembikar..

Ya.., ini cerita seputar bagaimana aku berusaha memenuhi salah satu kebutuhan anak-anak, yaitu bermain.. Selain gak boros-boros amat, ini akan menyita waktu untuk hal-hal yang positif, bahkan seingatku, mereka jadi sangat jarang bilang "koin buat game" atau minta PS, meski, sekali waktu aku ajak juga mereka main game di mal. Nah, kalau TV, karena aku gak langganan TV Kabel, mereka hanya boleh liat Asal Usul, Si Bolang, Si Unyil, atau yang semacamnya. Aku benar-benar sangat keras dalam soal nonton TV.Sinetron, No way ! Gak boleh sama sekali..Maaf, ya Nak..tidak ada bagus-bagusnya tuh sinetron yang buanyak macemnya itu, cuma bersolek, bicara keras, bergaul bebas, borju..kalian belum saatnya mengkonsumsi tontonan itu..

Sekarang, sampai Amerika, kegiatan "produksi" di rumah tetap berjalan, dengan segala kertas berwarna, kain beraneka rupa..

Dan ketika sudah jadi, he2.., mereka gak bisa jual ke temannya, gak boleh ada jual beli di sekolah..mereka pasang aja karya mereka di pintu kamar, di pintu lemari..puass dehh..

Selain itu, di sini anak-anak sekolah ada kewajiban membaca. Elementary School, SD, dapat jatah 30 menit, sedangkan Middle School, SMP, dapat jatah 45 menit sepulang sekolah, dan keduanya harus mengisi "Read Log" dari sekolah, yang keesokan harinya akan diperiksa oleh Gurunya, dan diparaf oleh beliau..

Lain waktu, aku akan tulis tentang budaya membaca, apa dan bagaimana, peran sekolah di Amerika dalam mewujudkan kebudayaan ini. Mereka sangat concern, peduli banget untuk "menghalau" anak-anak agar menggantikan waktu nonton Tvnya buat membaca. Di sini ada himbauan, nonton TV tidak lebih dari 2 jam buat anak sekolah...

Halow..Ibu-Ibu dan Bapak-Bapak teman aye di Indonesiee.., kebetulan ini tentang anak-anak perempuan, bagaimana dengan anak laki-laki..? Yang punya pengalaman, baik tentang anak perempuan maupun laki-laki.., share ya..ditunggu dengan sangat dan hangat...Terimakasih banyak sebelumnya..


North Carlin spring,Arlington, Virginia
Dian
Di sini jam 12.11 siang, hari Jumat, 11 Desember 2009
Real Winter..brrr..deh ! Suhu sekian derajat di bawah nol skala Celcius..

No comments:

 
Site Meter